<xmp> <body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7457634820015561536\x26blogName\x3dBehind+the+Scene+of+My+Life\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/\x26vt\x3d-3169458302945196764', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> </xmp>
Welcome

I've already left this blog but I will be happy if you still take a look on my old fan fiction :D

The Princess
Add your profile goes here.
Hi and Hello!
Let me introduce my name then~ Ching Ching is speakin' here! Scream out loud and be ready for the rockin' blog YEAH! This is the second blog I got here, the first is on LiveJournal, and I used that as my fan fiction park ♥♥ I'm Chinese who live in country named Indonesia, so I usually speak in Bahasa. I love lurking around at SOOMPI, check the request thread and help them all that had a problem about NG and GASOO poster. And by the way, I had a Tumblr. I use that page as my poster and banner gallery. So please welcome then~ I'll be glad to know that someone has visited it. I would to tell about my emptiness, problems and experiences on here.. So, just shut up and listen then! *LMFAO*.

Links
Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here

Archives
September 2009
Oktober 2009
November 2009

Layout ©

ME. kynzgerl
CODES. manikka
BRUSHES. 1 2
IMAGES. 1 2
The 2 paper heart: moargh.de
SOURCE. BLOGGER BLOGSKINS IMAGESHACK
Rabu, 25 November 2009

Deuh...gw mempost ene dengan hati setengah mengkeret akibat ulah salah satu dongsaeng gw...
*angkat tangan Tamie*
Dia maksa-maksa gw buat ngepost lanjutannya..
Padahal gw udah dregdeg ene...
Tapi karena gw baek hati en ga tegaan *hoek* jadi gw terpaksa mencemari blog suci ene *hoek lagi*...
Jadi buat yang baca...
Tolong maafkan gw *bows dalem''*,kalo ceritanya rada gitu deh...biippp *gw sensor dikit*
Tapi sebelum membaca tolong perhatikan ratingnya ye...
Kalo PG +13 maksudnya buat 13 thn ke atas...
Kalo PG +15 maksudnya buat 15 thn ke atas...*sedikit berbahaya*
Kalo PG +16 maksudnya buat 16 thn ke atas...*agak berbahaya* *padahal gw belum 16 thn ye*
Segitu dulu deh panduan ratenya..
En terakhir pesan ene khusus buat Tamie...
KOMEN YE CEU...ENE ONNIE MU UDAH BERSEDIA MENCEMARI BLOGNYA...KALO GA AWAS YE...*nunjukin bogem* *bercanda bang*

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Main Cast: Dong Young Bae (Tae Yang Big Bang) and Han Sang Hee (Hee-chan)
Other Cast: Kim Min Young, Shim Chang Min, Park Young Hee, and others
Rate: PG+15-Straight


Chapter 2: “Passion & Lust”

Young Bae POV
Ting Tong...Ting Tong....
Suara bel pintu menghentikan niatku untuk memanggil Hee-chan.
Akhirnya dengan langkah cepat kuberlari kecil menuju pintu.
“Changkaman!” teriakku.
Kubuka pintu dengan perlahan.

“Sang Hee~a!” teriak orang itu.
Ternyata ia seorang perempuan.
Apakah ia Hee-chan ui chingu? Mungkin saja benar.
Tetapi,teriakannya itu langsung terhenti saat melihatku dan ia malah memperhatikan diriku dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Nugu?” aku mencoba membuyarkan lamunannya itu.
“Naneun Kim Min Young imnida,di mana Sang Hee? Dan kau? Kau siapa?”
Aku sudah mengira ia akan mengajukan pertanyaan itu kepada diriku.
“Ye,Hee-chan ui chingu...naneun Dong Young Bae imnida,bangapseumnida...silahkan masuk.”
Aku mempersilahkan dirinya untuk masuk.

“Hee-chan~a...temanmu datang!” teriakku.
Aku yakin ia masih tidur.
Tetapi tiba-tiba Hee-chan keluar dengan mata membelalak dan menarik lengan Min Young yang ada di sampingku.
Benar-benar orang yang aneh!
End of Young Bae POV

Sang Hee POV
“Hee-chan~a...ini temanmu datang!”
Mataku segera membelalak setelah mendengarkan teriakkan Young Bae barusan.
Apa jangan-jangan yang datang itu Min Young?
Sebaiknya aku keluar sekarang.

Tanpa basa-basi lagi kutarik lengan Min Young yang terlihat bingung itu menuju kamar.
Aku yakin Young Bae pasti akan berpikiran seperti Min Young,tetapi sudahlah..aku tidak mempedulikan itu.

“Ya! Sang Hee~a! Apa yang kau lakukan?!” protes Min Young.
“Mian,” jawabku sambil tertunduk frustasi.
“Sebenarnya siapa orang yang bernama Dong Young Bae itu? Mengapa ia bisa ada di apartemenmu? Apakah secepat itukah kau bisa melupakan Chang Min?”
Pertanyaan Min Young bertubi-tubi itu membuatku ingin berteriak dan membantah semuanya,tetapi aku berusaha untuk menahan emosiku.
“Ia hanya pembantuku atau terserahlah kau mau menganggapnya apa!” jawabku agak sedikit kesal.
“Aku tidak mengerti maksudmu,tapi yang pasti ia bukan pacar barumu kan?”
Aku hanya menggeleng pelan.
“Baguslah,kupikir kau sudah gelap mata sehingga kau berlaku seperti itu.”
Min Young tertawa kecil,tetapi di dalam hatiku aku hanya dapat menangis pelan tanpa suara.
Aku tidak ingin mengingat-ingat kembali mengenai Chang Min.

Tok...Tok....Tok....
Lamunanku terbuyarkan oleh karena suara ketukkan pintu.
“Ye?” teriakku.
Young Bae membuka pintu dari luar.
“Mian mengganggu,aku hanya mau mengajak sarapan,” ajaknya.
“Oh,arasseo...aku akan segera ke sana,kau duluan saja,” jawabku lunglai.
“Ne,jal mogoseumnida..”
BLAM!
Pintu pun tertutup kembali,tetapi saatku perhatikan Min Young yang berada di hadapanku aku malah mendapatinya dalam keadaan melongo.
“Waeyo?” tanyaku sambil mengucangkan tubuhnya.
“Ani,aku hanya terkagum saja.”
“Dengan siapa? Young Bae? Jinja?”
“Memang kenapa?”
“Kau tidak salah,Youngie? Memang apa yang bagus dari dirinya?”
“Sudah sangat jelas! Kau lihat tubuhnya? Wohow...”
“Kalau itu aku tahu,tetapi aku tidak peduli dengan itu...lagipula jangan sampai kau meninggalkan Seung Hyun demi laki-laki seperti dirinya karena kau akan menyesal.”
“Ara..Ara..mana mungkin aku meninggalkan Seung Hyun begitu saja...tapi kupikir kau cocok dengannya..”
Mwo?! Bercanda Youngie memang sudah keterlaluan.

Aku melemparnya dengan bantal dari tempat tidur,namun ia sudah terlebih dahulu berdiri dan menghindar.
Sial!
“Ampun Hee-chan! Lebih baik kita makan sekarang!” teriaknya.
YOUNGIE! Kau memanggilku dengan sebutan apa barusan?!
Sudah cukup Young Bae memanggilku dengan sebuatan aneh itu dan jangan sampai ia mengikutinya.
Lama -lama aku bisa gila jika semua orang memanggilku dengan sebutan memalukan itu.
End of Sang Hee POV
-----------------------------------------------------
Young Bae POV
Sejak mereka keluar dari kamar,mereka berdua menjadi tidak beres.
Sedari tadi Min Young terus saja tersenyum ke arah Hee-chan sambil menyeruput mie dari mangkoknya.
Sebenarnya apa yang sudah terjadi dalam sana?
Mereka membuatku penasaran.
Apa jangan-jangan mereka membicarakan tentang diriku?
Ah,semoga saja tidak.

“Geumanhae,Youngie!”
Bentakkan Hee-chan barusan menggemparkan acara sarapan pagi yang sunyi ini.
Matanya melotot tidak suka ke arah Min Young.
Min Young yang tadi tersenyum sekarang hanya bisa menyembunyikan gigi-giginya di balik mulutnya.
“Mian,Sang Hee~a...” Min Young tertunduk.
“Ya sudahlah..aku malas membahasnya,” balasnya.
Tetapi kali ini matanya melirik ke arahku.
“Young Bae~a,mana bajumu? Kenapa kau tidak memakai bajumu?” tanyanya.
“Oh itu,aku mencucinya karena baunya sudah tidak tertahankan lagi.”
Kata-kata yang kuucapkan barusan adalah pernyataan yang sejujurnya.
Bau alkohol sudah meracuni bajuku dan aku tidak sadar sama sekali kapan aku meminumnya.
Apa jangan-jangan saat di bar waktu itu...
Sudahlah aku tidak mau mengingat kepahitan itu lagi,lebih baik aku menjalani hidup baruku di apartemen ini bersama Hee-chan.

“Ya sudah,sehabis ini kita belanja pakaian!” umum Hee-chan.
Aku benar-benar tidak menyangka bahwa ia akan berkata seperti itu,tetapi sudah kubilang sebelumnya bahwa ia adalah orang yang baik.

“Asa!” seruku bahagia.
“Oh yah,Youngie kau mau ikut bersama kami?” tanya Hee-chan kepada Min Young.
“Ani...lebih baik aku pergi ke rumah Seung Hyun daripada menggangu kalian.”
Kali ini Min Young kembali melancarkan senyum jahilnya ke arah Hee-chan,tetapi senyuman itu malah dibalas Hee-chan dengan tatapan kebencian.
Kedua orang ini benar-benar aneh..
Tidak heran mereka bersahabat.
End of Young Bae POV
--------------------------------------------------------
Sang Hee POV
Sekarang aku berdiri di salah satu toko di pusat perbelanjaan Apkujong.
Tanganku dipenuhi banyak baju yang telah dipilih oleh Young Bae.
Sambil menunggunya kembali dari kamar pas lebih baik kuputuskan untuk ikut melihat-lihat sebentar.

Sekelibat kenangan-kenangan itu muncul kembali di pikiranku.
Saat bersama dengan dirinya tepat di toko dan suasana yang sama.
Ingin menangis rasanya tapi lebih baik kubendung saja air mata ini daripada semuanya berubah menjadi masalah yang baru.
Sudah berkali-kali kuputuskan untuk mencoba melupakan semuanya,tetapi itu terlalu sulit.

“Hee-chan~a!” Young Bae menepuk pundakku.
“Ye?” aku membalik dengan wajah yang kubuat seceria mungkin karena aku tidak mau ia mengetahui tentang masalahku ini.
Lebih baik semua itu kukubur terlebih dahulu.
“Igeu? Joa?” Young Bae memakaikan sebuah topi rajutan di atas kepalaku.
Kulihat sekilas dan memang warna dan bentuknya lucu,tetapi apa maksudnya ia memakaikannya di kepalaku?
“Joa..waeyo? Kau mau membelikannya untukku?” sindirku.
Ia mengangguk pelan.
“Menggunakan apa? Kau bahkan tidak mempunyai uang, lalu bagaimana caranya kau membelinya?”
“Aku bisa saja bekerja,lalu uang pertama yang kudapat akan kupergunakan untuk membeli ini..bagaimana?”
Sudahlah...kau jangan bersikap sok manis,Young Bae.
Aku bahkan tidak tertarik sedikitpun denganmu.
“Terserah kau saja,toh itu uangmu..jadi terserah dirimu ingin dibelanjakan untuk apa..” balasku ketus.
End of Sang Hee POV

Young Bae POV
Lagi-lagi ia bersikap sok ketus terhadapku,padahal aku tulus ingin membelikan topi itu untuknya.
Terserah nantinya ia akan menerima itu semua atau tidak,tetapi setidaknya aku ingin membalas budi padanya.
Lagipula sudah sepatutnya aku harus kembali bekerja besok,aku sudah terlalu lama terkurung di dalam kesedihan ini dan sekarang akan kuputuskan untuk melupakan itu semua.

“Kha cha..” ajak Hee-chan setelah membayar belanjaan di kasir.
Ia melangkah duluan di depanku dan aku mecoba untuk mengikuti langkahnya dari belakang.
Kami pun memutuskan untuk kembali ke apartemen sekarang,tetapi langkahku terhenti di depan sebuah toko bunga.

Aku melihat bayangan wajah Young Hee di dalam toko bunga itu.
Ia sedang sibuk mengatur buket-buket bunga bersama dengan seorang pria.
Kupadangi wajahnya ia tidak banyak berubah itu.
Sejak hari pernikahannya,aku berusaha untuk menutup diri darinya,tetapi sekarang semuanya sudah terlambat.
Padangan kami bertemu.
Aku berusaha untuk mengarahkan pandanganku ke arah yang lain dan mengikuti kembali langkah Hee-chan.

“YOUNG BAE!”
DEG!
Suara itu bagaikan sebilah pisau yang menancap di hatiku.
Aku berusaha untuk tidak mengiraukan panggilannya itu,tetapi lain kata dengan tubuhku.
Saat itu juga tubuhku seakan membujur kaku.
Kakiku menolak untuk melangkah dengan mengikuti langkah Hee-chan yang kian menjauh.

“Young Bae~a,bagaimana kabarmu?” tanya Young Hee ramah.
“Ye? Baik-baik saja,dan kau? Bagaimana keadaanmu?”
Aku berusaha untuk menutupi perasaanku yang sebenarnya di depan dirinya.
“Baik...Oh yah,changkaman!”
Ia berlari menuju toko bunga lalu ia menarik tangan seorang pria untuk mengikuti langkahnya.
“Young Bae~a,kau belum berkenalan dengan suamiku kan?”
Aku tersenyum terpaksa.
Aku mengetahui namanya dan jelas saja aku pernah melihatnya.
“Annyeong...” ia hendak menjebat tanganku dan memperkenalkan namanya.
Namun,sebuah teriakkan dari kejauhan seolah menghentikan niatnya.

“CHAGIYA!”
Aku ikut menoleh ke arah teriakkan itu,tetapi aku pun terkejut saat mengetahui siapa yang meneriakkannya.
Hee-chan?!
Hee-chan langsung menggandeng tanganku dan tersenyum manis ke arah pria itu.

“Sang Hee~a..sudah lama tidak bertemu..” kata pria itu.
“Ye,Chang Min~a..oh yah..kenalkan ini,na ui namja chingu..Dong Young Bae..”
Aku makin terkejut saat Hee-chan berkata seperti itu.
Aku hendak memberontak dan memberitahu yang sebenarnya,tetapi Hee-chan mengerjapkan matanya ke arahku.
Aku tahu pasti ia memiliki maksud atas semua ini.
Akhirnya dengan terpaksa kuturuti maunya,tetapi aku masih penasaran atas hubungannya dengan pria bernama Chang Min itu?
Mengapa mereka bisa saling mengenal?

“Aku turut senang kau sudah menemukan orang yang baik seperti dirinya,”balas Chang Min.
“Oh yah...ini kukenalkan juga isteriku...Park Young Hee...”
Ekspresi Hee-chan langsung berubah.
Senyuman yang tadi dipancarkannya seolah redup seketika.
Ia menjabat tangan Young Hee dengan singkat tanpa mengucapkan kalimat apapun.

“Chagiya...ayo kita pulang,kita harus masak sekarang.”
Hee-chan kembali tersenyum dan menarik tanganku.
Senyumannya berubah.
Sekarang yang dapat kulihat hanyalah senyum miris yang terlukis di wajahnya.

“Chang Min,Young Hee...annyeong...kami balik dulu...” pamit Hee-chan sambil melambaikan tangannya.
End of Young Bae POV
----------------------------------------------------
Sang Hee POV

Apa yang tadi kulakukan?Mengapa aku mengakui Young Bae sebagai pacarku?
Apakah aku malu mengakui bahwa aku masih menginginkan dirinya untuk kembali?
Aku memang bodoh!

“Hee-chan~a!”
Young Bae berteriak kepadaku setelah kami memasuki apartemen.
Wajar kalau ia marah,tetapi aku tidak tahu harus menjelaskan apa atas perbuatanku barusan.
Terpaksa aku tidak menghiraukannya.
“YA!”
Young Bae menarik tanganku meminta penjelasan.

Kakiku seakan lemas,hatiku perih,dan perasaanku tercampur aduk.
Saat itu juga aku terduduk di lanta,namun salah satu lenganku masih ada dalam cengkraman Young Bae.
Aku menatap matanya lekat dengan mata berkaca-kaca.
Mengapa air mata ini sulit sekali kubendung?
Aku begitu memalukan! Selama ini aku berusaha untuk menyembunyikan kelemahan dan air mataku di depan semua laki-laki,tetapi mengapa hal ini tidak bisa terjadi saat aku di depan dirinya?
End of Sang Hee POV

Young Bae POV
Aku bingung dengan sikapnya yang tiba-tiba berubah sedrastis ini?
Tatapan matanya yang berkaca-kaca itu membuatku merasa bersalah.
Kulepaskan cengkramanku dari lengannya dan berjongkok di depannya.

“Hee-chan~a,mianhae...” ucapku pelan sambil mengusap-usap rambutnya.
Tangisan pecah dan semakin keras.
Ia refleks memelukku dan menangis sejadi-jadinya.
Aku terkaget,namun canggung membalas pelukkannya itu.
Aku tahu ia pasti ini semua ini pasti ada hubungannya dengan Chang Min.
Apakah ia matan pacarnya? Tetapi apa yang sebenarnya terjadi?
Apa ia sama sepertiku?

Lama-kelamaan tangisan Hee-chan terhenti.
Ia mengatur nafasnya dan mengangkat dagunya dari bahu kananku.
“Gomawoyo..” suaranya terdengar begetar.

Entah apa nafsu apa yang mendorongku,tetapi hatiku ingin sekali menghiburnya.
Mengisi kekosongan dan keputusan yang ada di hatinya itu.
Ingin sekali kusembuhkan semuanya.
Kudekatkan bibirku dan mecium pipinya lembut.
Meghapus air matanya,tetapi ia tetap diam dan tak bergeming.
Ciumanku terus turun dan mengenai bibirnya.
Bibir kami bertemu. Aku melumat bibirnya lembut dan ia membalas ciumanku.
Semuanya sudah terjadi dan seakan diriku tidak bisa menahan segalanya.
Aku terus menciuminya.
Bibirku menggapai lehernya.
Namun tiba-tiba ia mendorongku.
Ia diam lalu menatapku dengan dingin,seketika itu juga ia menamparku lalu berlari ke kamar.
End of Young Bae POV
-----------------------------------------------------

TBC~

Label:


Sabtu, 21 November 2009

Deuh,,,baru kemaren saia post fic baru saia tapi hari ene saia udah pengen ngepost lagi...
tapi hari ene beda bu...
Hari ene pengen ngepost MVnya si Akang Young Bae tersayang..
MV yang bikin saia kesengsem en nangis bombay dah...
en gara'' ene MV juga saia jadi keinspirasi bikin fic yang "LOVE U WITHOUT A REASON" noh...*penasaran? baca makanya..scroll aje ke bawah ye*
Ya udah..selamat menyaksikan ye...

Label: , ,



Annyeong yorobun~
Deuh...saia dah lama ga ngepost di mari ye...
Mian..mian hoho....tapi ene gara'' saia lagi males ngetik...*digeplak*
Namun en akan tetapi...semangat saia udah balik lagi kok hoho....
Kali ene saia bawa fan fic baru lagi hoho..en ene chaptered lho....*jingkrak'' geje* tapi mungkin ga lebih dari 10 chapter lah...saia juga sebagai author bisa dibilang ga tau sampe chapter berapa *emang geje*
Ya udah dah..daripada saia semakin ga jelas ene..mending langsung aja baca deh fic nye..
Oh yah,saran saia sebelum baca nonton dulu MVnya si akang Young Bae yang Wedding Dress soal fic ene tuh kae cerita lanjutan dari MV ntuh lah....
Biar dapet gitu feel-nya...*beuh,dilempar sendal se-RT*

Oke...komen jangan lupa ye...aye tunggu loh...
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Love U Without a Reason

Author: Ching-Ching
Main Cast: Dong Young Bae a.k.a Tae Yang Big Bang and Han Sang Hee
Other Cast: Park Young Hee, Ahjussi, others
Rate: PG+13-Straight


Chapter 1 : “First Impression”

Young Bae POV
Kesentuh tuts hitam-putih di depanku.
Seketika itu juga buku-buku jariku membeku tegang.
Namun,semua ini tidak bisa dicegah karena semuanya harus segera berlangsung.

Kutatap kertas-kertas partitur di depanku kemudian dengan perlahan kutekan tuts-tuts piano itu.
Gerbang gereja terbuka.
Pengantin wanita pun berjalan perlahan ke hadapan pengantin pria yang sudah menunggu di altar.
Semua tamu berdiri dan memandang ke arahnya dengan tatapan bahagia.
Semua bayang-bayang itu hanya bisa dapat kuresapi dengan rasa tangis.
Haru,sedih,sekaligus bahagia bercampur dan bergejolak di hatiku.

Aku terpaku dengan Young Hee yang berbalut gaun pengantin itu.
Ia tersenyum ke arahku.
Wajahnya berbeda dari biasanya,ia terlihat sangat cantik hari ini.
Aku ikut bahagia atas semua itu.
Namun,saat kuingat-ingat apa yang telah terjadi,semuanya itu begitu pahit.
Karena sekarang aku hanya dapat menyesal,namun semua penyesalan itu hanya sia-sia saja.
Young Hee yang sekarang berbeda dengan yang dulu.
Ia sudah tidak sebebas yang dulu karena sekarang ia sudah menjadi milik orang lain dan hubungan kami hanya sekedar sahabat.

Young Hee tersenyum begitu bahagia saat bersama dengannya dan aku tidak mau merusak semua kebahagiaannya itu.
Aku hanya bisa menatap nanar cincin yang sekarang ada di saku celanaku lalu membuangnya ke lantai.
Padahal tak pernah sedetik pun aku tidak membawanya.
Aku bersusah payah untuk membelinya namun sekarang itu sudah tidak berarti lagi bagiku.
Semuanya itu sudah tidak bernilai lagi.

Saat itu juga aku merasa diriku sudah tidak bisa menahan perasaan cemburu lagi.
Kubalikan badanku dan berusaha untuk melarikan diri dari perasaan itu.
Tetapi bagaimana caranya?
Otakku terasa buntu.
End of Young Bae POV
------------------------------------------------------------
Sang Hee POV
Seperti biasanya,aku menyusuri jalan yang sama ke arah apartemenku dan seperti biasanya,suasana sepi dan dingin langsung menyelimutiku.
Sudah seminggu ini kepalaku serasa mau pecah.
Entah apa penyebabnya,mengapa akhir-akhir ini aku mulai merasakan depresi?
Apa karena pria brengsek itu?
Sudahlah! Aku tidak mau memikirkan orang itu lagi.
Aku tidak mau menangis di depan orang seperti dia.
Bagiku itu adalah hal bodoh karena itu sama saja mempermalukan harga diriku.
Gajiku jelas lebih tinggi dibandingkan gajinya,sedangkan jabatanku juga lebih tinggi daripada dirinya yang hanya seorang penjual bunga di pinggiran kota Seoul.
Namun,mengapa aku malah tidak rela jika pada kenyataannya ia telah mencampakkan diriku begitu saja?
Aku rasa itulah yang menjadi alasan mengapa aku begitu membenci laki-laki.

Akhirnya aku tiba di depan apartemenku.
Aku hendak melangkah masuk ke dalam,namun tiba-tiba kulihat sesosok laki-laki tergeletak di pinggir jalan.
Kudekati tubuhnya dengan hati yang penasaran.
Keadaannya begitu mengenaskan dan ia tidak sadarkan diri lagi.
Wajahku langsung berubah menjadi panik dan dengan segera aku mengambil handphone di tasku.
Dengan jari-jari yang gemetar ketakutan kutekan nomor telepon kantor polisi terdekat,tetapi belum saja aku menyelesaikan mengetik nomornya,hatiku langsung di penuhi banyak pertanyaan.
Bagaimana jika saat aku melaporkannya,aku malah dituduh yang aneh-aneh?
Bagaimana jika aku malah ikut terlibat dengan masalahnya?
Memikirkan itu semua nyaliku untuk menelepon langsung menciut.
Lebih baik kuputuskan untuk meminta bantuan ke sekeliling,namun tidak ada yang mendengarku.
Teriakanku bukannya dibalas dengan bantuan,tetapi malah dibalas dengan air hujan.

Aku kembali memalingkan wajah ke arah laki-laki yang setengah sadar itu.
Tubuhnya mengigil kedinginan karena angin malam dan guyuran air hujan.
Aku menjadi bertambah bingung dan panik,tetapi aku merasa iba terhadap keadaannya.

‘Sudahlah,benar-benar tidak ada pilihan lain.’
Cuma kata-kata itulah yang dapat kuserukan di dalam hati dan akhirnya aku memapah laki-laki yang setengah sadar itu ke dalam apartemen.

Kubuka pintu apartemenku dengan cepat lalu memapahnya ke arah sofa dan membaringkannya di sana.
Kemudian aku berjalan ke arah pintu sambil mengatur nafasku yang terengah-engah ini.
Aku tidak menyangka bahwa pria ini begitu berat dan menyusahkan,tetapi ini memang yang seharusnya kutanggung jika mau menolong orang.

Setelah meletakan semua bawaanku,aku berlutut di depan sofa.
Memperhatikan laki-laki tidak dikenal itu.
Ia terus saja mengigil kedinginan.
Aku beranjak ke arah kamar lalu mengambil termometer dan memasukan ke mulutnya.
Sambil menunggu aku memutuskan untuk memasakkan bubur untuknya.

Bunyi termometer membangunkan lamunanku.
Aku langsung beranjak ke sofa dan melihat termometer itu.
38,7oC
Ternyata demamnya tinggi sekali.
Setelah menyadari hal itu tanpa basa-basi lagi langsung kuambil baskom berisi air dan handuk dari dapur lalu meletakkan handuk basah itu di atas dahinya.
Kuperhatikan kembali luka-luka dan darah yang mengotori kemeja putihnya.
Sebenarnya apa yang telah terjadi dengannya?
Apakah ia sudah diserang para preman?
Tetapi dapat kucium aroma alkohol di kemejanya.
Apa mungkin sebelumnya ia mabuk? Tetapi apa alasannya?
Sebaiknya aku tidak perlu memikirkan itu semua,karena itu jelas bukan urusanku,tetapi aku hanya bisa berharap agar ia cepat sembuh.
End of Sang Hee POV
------------------------------------------------------------
Young Bae POV
Cahaya matahari menyilaukan mataku dan saat itu juga kusadari bahwa hari sudah pagi.
Aku bangun dengan keadaan bingung.
Kurasakan sakit di kepalaku lalu kucoba untuk melihat kesekeliling.
Aku merasa asing dengan tempat ini.
Sebenarnya di mana aku?
Semuanya sunyi dan sepertinya aku hanya sendirian di sini.
Lalu mengapa aku masih mengenakan baju yang kemarin kugunakan untuk menghadiri pernikahan Young Hee?
Tanganku juga diperban.
Sebenarnya apa yang terjadi kemarin?
Yang kuingat hanyalah pergi ke bar,lalu semuanya menjadi cerita yang terpotong-potong dan tidak jelas di pikiranku.
Akan tetapi,setidaknya aku selamat karena ada orang baik yang mau menolongku.

Aku mencoba untuk berkeliling di apartemen yang tidak terlalu besar ini.
Siapa tahu dengan begitu aku dapat mengetahui orang yang menolongku tadi malam.
Tetapi,aku berkeliling aku malah menemukan notes kecil di atas meja makan.

Aku sudah menyediakan makanan.
Setelah itu kau boleh pergi karena aku sudah membawa kunci sendiri.

Rupanya ia sedang keluar dan kutebak dari kata-katanya kemungkinan besar di itu perempuan.
Karena yang kutemukan sejak tadi hanyalah foto-foto anak permpuan,tetapi mengapa ia tidak memajang fotonya yang sekarang?
Sudahlah,lagipula itu bukan urusanku.

“Mashita...”
Hanya satu kata yang dapat meluncur keluar dari mulutku saat selesai menyantap makanan yang disiapkannya itu.
Hal itu semakin meyakinkanku bahwa orang yang menolongku itu seorang wanita.
End of Young Bae POV
-------------------------------------------------------
Sang Hee POV
Tidak perlu dijelaskan lagi.
Seperti hari-hari sebelumnya,hari ini kepalaku kembali berdenyut.
Kulangkahkan kakiku dengan cepat ke arah apartemen.
Rasanya aku ingin sekali membaringkan kepala ini di atas tempat tidur.
Tetapi,entah mengapa aku malah memikirkan tentang laki-laki itu.
Otakku benar-benar sudah mulai kacau.

Kulangkahkan kaki dengan gontai menuju apartemen.
Kemudian ku keluarkan kunci pintu dari tas dan memasukkannya ke lubang pintu,tetapi belum saja aku memutar kenopnya,sebuah suara mengehentikan tanganku.
Mengapa ada suara piano yang berdenting dari dalam?
Aku memang memiliki piano,tetapi aku sudah lama tidak menyentuh piano itu karena hal itu selalu saja mengingatkanku pada Omma.
Rasa penasaranku semakin bertambah.
Oleh karena itu kudorong pintu dengan kencang dan segera mencari asal suara piano itu.

Aku menemukannya dan aku begitu terkejut saat tahu siapa yang memainkannya.
“Ya!” teriakku.
Laki-laki itu segera menghentikan permainan pianonya dan berbalik ke arahku.
Ia tersenyum ramah.
“Gamsahamnida karena telah menolongku!”
Ia membungkuk di sebelah piano.
“Ye,cheonmanyeo...” aku menjawab dengan nada malu-malu sambil membalas membungkuk.
“Kau sudah sembuh?” tanyaku lagi.
“Ye...gamsahamnida,kalau tidak ada pertolonganmu,pasti saja aku tidak selamat.”
“Ani...aku hanya kasihan pada dirimu saja...oh yah,di mana rumahmu?”
Semoga saja ia memiliki rumah karena ia sudah begitu merepotkanku kemarin.
Akan tetapi,tebakkanku salah.
Ia menggeleng lemah dengan wajah memohonnya.
“Wae?” nada bicaraku langsung kuubah menjadi ketus seperti biasanya.
“Chogiyo…bisakah aku tinggal di rumahmu?”
Mworago?! Apa yang dia katakan?!
Apa dia tidak tahu diri?! Kemarin saja ia sudah benar-benar merepotkanku,tetapi sekarang ia malah bertanya hal itu.
“Andwe,memang kau pikir apartemenku apa?! Tempat penampungan untuk tuna wisma?!”
“Ani…aku tidak bermaksud merepotkanmu,tapi hanya saja bisakah kau menerimaku di sini? Aku bisa bekerja sebagai pembantumu atau apapun…yang penting aku bisa mendapatkan tempat tinggal.”
Kali ini ucapannya semakin melantur.
Aku bahkan tidak membutuhkan seorang pegawai,pembantu,atau apapun.
Yang kuinginkan adalah ketenangan.

“YA! Aku tidak membutuhkan membantu,atau apapun lah! Jadi sebaiknya kau angkat kaki saja dari sini!” Aku mendorongnya ke arah pintu.
“Sudahlah cepat kau tinggalkan apartemenku ini!”
Aku membuka pintu dan mendorongnya keluar,tetapi saat aku hendak menutup pintu,ia malah menahan pintu itu dengan lengannya.
“Changkaman! Jebal...apa kau tidak takut tinggal di apartemen ini sendirian? Kau butuh orang yang menjagamu kan?”
Aku tidak peduli dengan kata-kata anehnya itu.
Aku terus mendorong lengannya agar terlepas dari pintu,tetapi tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki.
Omo! Jangan-jangan itu ahjussi!
Ahjussi itu adalah orang yang menjaga apartemen ini dan hobinya hanyalah perprasangka buruk terhadap orang lain.
Bagaimana jika ia melihat laki-laki ini?! Bisa-bisa ia akan mengusirku dari sini!
Lagi-lagi aku tidak memiliki pilihan lagi.
Akhirnya kutarik lengannya agar kembali masuk.
Akan tetapi,keseimbangannya hilang dan ia jatuh ke arahku.

BRAK!
Ia menimpaku.
Tetapi bukannya cepat bangkit dan membantuku,ia malah tidak melakukan apa-apa.
End of Sang Hee POV

Young Bae POV
BRAK!
Aku jatuh menimpa dirinya,tetapi entah mengapa mengapa diriku seperti membeku.
Aku hanya diam menatap matanya.
”YA!” tiba-tiba ia berteriak.
Aku pun terkaget lalu segera bangkit dan membantunya untuk berdiri.

“Ya! Apa yang kau lakukan tadi?” ia terlihat marah,tapi itu memang salahku.
“Ani...aku hanya....oh yah,jadi kau mau menerimaku kan?” aku berusaha untuk menganti topik dan bertanya tentang hal tinggal di apartemennya ini.
Kali ini wajahnya terlihat berpikir,tetapi akhirnya ia menjawab juga.
“Geurae,tetapi ada hal-hal yang harus kau patuhi untuk tinggal di sini! Araseo?!”
“Ara,tetapi memang peraturan apa itu?” tanyaku bingung.

Ternyata wanita ini memang bukan wanita gampangan.
Untuk tinggal di apartemennya saja ada sejuta peraturan yang harus kupatuhi.
Ia mulai mengajakku berkeliling dan menjelaskan semuanya padaku.
Mulai dari dapur sampai kamar mandi,tetapi yang lebih menyedihkannya lagi adalah tempat tidurku.
Ia tidak mengizinkanku untuk tidur di kamar,melainkan aku hanya diizinkan untuk tidur di mesanin apartemennya dan untuk mencapai ke sana,aku harus menaiki tangga terlebih dahulu.
Benar-benar menyusahkan!
Akan tetapi,setidaknya itu lebih baik daripada aku terus mengingat-ingat tentang Young Hee kembali.

Sebenarnya aku memiliki rumah dan aku bukan orang miskin yang luntang-lantung di jalan.
Aku bahkan memiliki pekerjaan,tetapi sebaiknya sekarang aku merahasiakan itu semua dulu.
Sekarang yang kumau hanyalah menyikir sementara dari rumah itu.
Rumah itu sama saja mengingatkanku pada Young Hee,tetapi sekarang kusadari bahwa aku harus tegar dan terus melanjutkan hidup ini tanpa dirinya di sisiku.

“Ya! Siapa namamu?”
Wanita galak di depanku ini kembali membuyarkan lamunanku.
“Ye?”
“Namamu?...Nugu?”
“Naneun Dong Young Bae imnida...”
Aku mencoba untuk berlaku sesopan mungkin sekalipun ia tidak akan membalas berlaku seperti itu terhadapku.
“Kalau kau?” tanyaku penasaran.
“Han Sang Hee imnida,tetapi sebaiknya kau memanggilku Sang Hee-sshi,karena aku biasa dipanggil seperti itu,” jawabnya ketus.
“Wae? Mengapa aku harus memanggilku seperti itu? Lebih baik aku memanggilmu dengan panggilan khusus,boleh kan?”
“Buat apa? Lagipula aku baru mengenal dirimu dan kau jelas lebih muda dariku,jadi sudah sepatutnya kau menghormatiku.”
“Tapi,kita akan tinggal bersama mulai dari sekarang,jadi..lebih baik kau kupanggil Hee-chan,bagaimana? Lucu kan?”
“Apa yang lucu?! Terserah kau sajalah! Aku malas berdebat denganmu!”

Hahaha..Nommu kyopta
Aku puas,melihat wajahnya yang cemberut itu.
Begitu mengemaskan.
Ia memang galak,tetapi aku tahu bahwa ia sebenarnya orang yang baik.
Kemarin saja saat aku terluka,ia rela bersusah payah untuk menolongku.
Aku yakin sifatnya yang begitu bukanlah sifat aslinya,dari wajahnya bisa kulihat bahwa ia kesepian dan menyimpan kesedihan.
End of Young Bae POV
-----------------------------------------------------------------
Sang Hee POV
Krrriiinnnggg....
Jam beker di atas meja nakasku berbunyi.
Kucoba untuk merenggangkan otot-otot pergelangan dan punggungku.
Rasanya aku begitu malas untuk bangun pagi ini,tetapi apa boleh buat.
Aku harus masuk kerja hari ini,jika tidak jabatanku akan turun seketika ini juga dan kemudian orang-orang akan memandang rendah diriku.
ANDWE!
Ini semua tidak boleh terjadi!

Kupaksa tubuhku yang terasa berat ini untuk bangun dari tempat tidur.
Bangkit dan melangkahkan kakiku ke arah pintu.
Namun,saat aku hendak berjalan keluar,aroma harum masakan sudah menyerbak masuk melalui celah pintu.
Mwo? Memang siapa yang memasak? Apa jangan-jangan Young Bae...?

Ting Tong...Ting Tong....
Tiba-tiba bel apartemen berbunyi.
Nuguseo?
Hari ini benar-benar kebetulan,biasanya jarang sekali ada yang datang ke apartemenku pagi-pagi seperti ini.
Apa jangan-jangan itu Ahjussi?!
Bisa gawat jika Young Bae yang membukakan pintu untuknya.
Ia pasti akan mengusirku jika ia melihat ada laki-laki yang tidak kenal muncul di sini.

Ottoke?! Apa yang harus kulakukan?!
Lebih baik kucoba untuk mengintip melalui pintu .
Akirnya kuputuskan untuk membuka sedikit celah di pintu kamar lalu kukeluarkan kepalaku agar bisa melihat keluar.
OMO! Apa yang baru kulihat itu pasti tidak nyata kan?!
Kulihat Young Bae bertelanjang dada dan hendak membukakan pintu.
AISH...OTTOKE? SUDAHLAH...TAMAT SUDAH RIWAYATKU!
Aku hanya bisa memejamkan kedua mataku sambil menunggu pengusiran dari Ahjussi.
End of Sang Hee POV
-----------------------------------------------------

Label:


Jumat, 06 November 2009

Okay...annyeong everybody *gw kayak kampungan ye?*
Sekarang gw lagi pengen nge-share tentang ultah gw tanggal 3 November kemaren ntuh haha...
Emang sih sederhana...kado yang gw dapet juga ga banyak en...ya sederhana...
tapi yang pasti gw bener'' terharu ma cara sahabat'' gw ngerayain ultah gw...

Kronologi kejadian...*cieileh*
-Pertama pas jam 12 malem tuh...gw tungguin sms dari temen gw,biasanya kan mereka suka sms kejutan gitu jam 12 malem..eh,tapi ternyata yang nongol cuma 1 orang doang (Re'')
-Pas paginya semuanya anteng'' weh..kayak ga ada yang peduli gitu..
-Pas gw mau ngambil buku di loker...
Tiba-tiba....
Sahabat'' gw..(Dea,Yo'',Melani,en Re'') terlihat dari kejauahan...
Terus mereka tereak''..."Saengil chukahamnida" gituan lah...
Deuh..malu banget gw...*gw nyembunyiin kepala ke dalem loker* *canggih*

Walaupun gw malu,tapi gw seneng hehe..soal ternyata sahabat'' gw pada care ma ultah gw..
Terus pas gw buka hadiah nya di rumah...
Seneng gw haha...novel'' yang pengen gw beli dikasih gratis en cuma'' bo...haha...



Ada lagi ternyata yang bikin gw tambah seneng haha...
emang ini ga mahal...bahkan ga beli malah...tapi terharu ma usaha en kerja keras mereka gitu...



Emang keliatannya biasa kan?
Tapi isinya luar biasa loh haha...
Keren banget deh pokoknya....
Pertama buku yang kanan...isinya fan fic,yang buatnya Melani....itu fan fic One Shot en gw dipairing ma Jae Joong...*dipaksa.com*
Temen gw Dea en Yo'' nulis tuh buku (yang kiri) ....kira'' 3 bulan deh kalo ga salah...
Isi buku itu tuh fan fic chaptered *wow* lima belas chapter bo..fan fic tentang persahabatan kita yang digabung ama Big Bang...en seperti biasanya gw pasti dipairing ma Seung Hyun alias T.O.P lagi...*rada bosen saia*
Kalo mau tau isinya gw foto'' juga sih sekilas...
Ene nih....


Label: , ,


Selasa, 03 November 2009


Annyeong...
Gomawo semua yang udah komen buat fic yang kemaren gw post hehe..
hari ini gw mau ngepost lagi..
rencananya sih penen ngepost ntar...tapi mata saia udah keburu ga kuat euy...
jadi gw post skg..
ini buat ulang taunnya TOP alias Choi Seung Hyun...besok tgl 4 Nov...
Oh yah..fic ene tuh special editionnya dari fic chaptered gw yang You're the Key of My Secret...
ya udah baca en komen aja deh...


PS: Judul tidak menentukan senang atau sedihnya suatu cerita loh..
jadi baca aja dulu...baru komen...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Loneliness, Sadness, and Tears


Min Young POV

“Oppa...jangan pergi...aku mohon,” aku kembali memeluknya erat.

“Mianhae...aku benar-benar harus pergi,” katanya lirih.

“Kami punya alasan..” tambah Ji Yong yang berdiri di sebelah Seung Ri.
“Memangnya alasan apa?”
“Ini,” Young Bae memberikan selembar kertas kepada Seung Hyun.

KONTRAK REKAMAN
“Mwo?” tanyanya tidak percaya.
“Jadi...Hyung tidak jadi pergi ke Jepang kan?” tanya Dae Sung ingin memastikan.
Seung Hyun hanya diam saja namun wajahnya mengembangkan senyum seulas.
Tanpa basa-basi lagi langsung kudekap pinggangnya sambil meneteskan air mata bahagia.

Kejadian itu rasanya tak pernah bisa kulupakan dari benakku.
Walaupun kejadian itu sudah berlalu setahun lamanya,tetapi entah mengapa aku selalu menganggapnya baru terjadi kemarin.
Masih dapat kurasakan awal kehilangan itu dan masih dapat pula kurasa akhir yang berujung pada kebahagiaan terindah.

Sekarang walaupun aku bahagia bersama dirinya,tetapi semuanya telah berubah.
Dulu sebelum mereka merasakan awal dari masa debut mereka,kehidupan terasa indah,berwarna,dan berjalan sesuai dengan rencana.
Namun sekarang,hal itu tidak dapat dirasakan.
Kehidupan terasa hampa walaupun dirinya masih menjadi milikku.
End of Min Young POV
--------------------------------------------------------
Drrrt...Drrrt...Drrrt....
Min Young melihat layar handphone-nya yang masih bergetar.

SEUNG HYUN OPPA

Wajahnya langsung tersenyum saat melihat tulisan di layar handphone flip-nya.

“Yeoboseyo?”
“Min Young~a...mianhaeyo...jeongmal mianhae..”
“Oppa? Ada apa? Sekarang Oppa ada di mana?”
“Mmm...Min Young~a,mianhaeyo...ternyata aku tidak bisa datang.”
“Oh,gwenchana,Oppa.”

Min Young langsung menutup handphone flip-nya dengan keras.
Walaupun ia mengucapkan kata-kata itu dengan sedikit senyuman di wajahnya,tetapi sebenarnya hatinya merasa luka dan tertipu.
Waktunya sudah terbuang sia-sia di tengah dinginnya malam ini.
Padahal pagi tadi wajahnya berseri saat Seung Hyun memberitahunya bahwa nanti malam jadwalnya sedang kosong,maka dari itu mereka bisa berjanjian untuk bertemu.
Tetapi,ternyata harapan itu hilang seketika dan itu bukanlah kejadian untuk pertama kalinya bagi Min Young.
----------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Lama sekali aku tidak melihat senyuman dan keceriaannya yang membuat rasa lelahku hilang seketika itu.
Aku rindu padanya,tetapi untungnya hari ini rasa rinduku itu dapat segera terobati karena Hyo Jin berkata bahwa jadwal malam ini kosong jadi aku dapat keluar sebentar untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Sekarang sudah jarang sekali aku dapat bertemunya,padahal dulu hampir setiap hari aku dapat belajar dan menghabiskan waktu bersamanya.
Memang sekarang aku sudah berhasil mencapai cita-citaku,tetapi tanpa dirinya aku merasa selalu ada yang kurang dengan hidupku ini.
Entah mengapa aku juga merindukan apartemenku yang dulu.
Apartemen yang sederhana dan kecil,tetapi itu merupakan salah satu tempat kenanganku bersamanya.
Sekarang aku tinggal di asrama bersama dengan Young Bae,Ji Yong dan member Big Bang yang lain.
Semuanya terasa monoton dan terkadang aku bosan dengan kehidupan ini.
-------------------------------------------------
Kulirik jam tanganku dan sekarang sudah pukul empat sore.
Sebaiknya aku bersiap-siap karena sebentar lagi aku harus pergi untuk bertemu Min Young.

Kulangkahkan kakiku dengan semangat menuju asrama.
Memilih baju yang terbaik,mandi,dan mempersiapkan segalanya.
Aku tidak ingin hari ini disia-siakan begitu saja karena aku tahu kesempatan seperti ini adalah kesempatan langka.

Semua sudah siap dan aku hendak berjalan keluar asrama.
Namun tiba-tiba Hyo Jin memanggilku sambil agak berteriak.

“Seung Hyun~a...ada masalah!” jelasnya sambil terengah-engah.
Aku menengok.
Terlihat sekali bahwa wajahnya pucat.

“Kaset rekaman tadi pagi tiba-tiba hilang...dan kalian harus masuk ruang rekaman sekarang juga untuk merekam ulang semuanya.”
Begitu mendengar kalimat itu rasa kaget dan kecewa seolah-olah menyambar diriku.
“Hajiman...” aku mencoba menolak perintahnya itu.
Aku tidak mau mengecewakan Min Young yang telah lama menungguku.
“Andwe...pokoknya kau harus rekaman sekarang karena yang lain sudah menunggu,” paksanya sambil menarik salah satu tanganku.
Akhir dengan berat hati kubuka handphone flip ku dan segera memberitahu Min Young bahwa aku membatalkan acara itu.
Rasanya berat.
Aku tidak ingin melihat dirinya kecewa,namun apa boleh buat aku harus memilih antara orang yang kusayangi atau pekerjaanku dan kali ini aku hanya dapat berkata dalam hati.
‘Mianhae,Min Young~a...aku tidak dapat membahagiakanmu..’
End of Seung Hyun POV
---------------------------------------------
Min Young POV
Sekarang diriku sudah berada di kelas 11 dan tidak terasa sebentar lagi ujian kenaikkan kelas menghadangku.
Seperti biasanya aku duduk termenung sendirian sambil membaca buku matematika-ku.
Kubaca dan kuingat kembali rumus-rumus trigonometri yang dulu diajarkan oleh Mr.Lee.
Melihat buku itu dan mengingat nama Mr.Lee,aku menjadi teringat masa-masa dulu.
Masa di mana pertama kali aku bertemu dengan Seung Hyun.
Masa di mana aku masih membenci dan menganggapnya sebagai anak berandalan yang tidak bisa diajar.
Aku tertawa dalam hati jika mengingat semuanya,tetapi entah mengapa aku malah ingin kembali ke masa itu dibandingkan menetap di masa kini yang begitu sepi dan hampa.
Aku sadari bahwa aku rindu akan dirinya yang terkadang membuatku kesal itu.

Kapan aku bisa bertemu dengannya sesering dulu?
Padahal kemarin rasa rinduku dapat terobati,tetapi mengapa ia kembali membatalkan semua itu?
Sampai berapa kali pula aku harus sabar menghadapi pengingkaran janji yang ia buat itu?
End of Min Young POV
-------------------------------------------
Hari-hari berjalan begitu sepi di antara hubungan Seung Hyun dan Min Young.
Kesuksesan Big Bang justru menjadi perantara akan hubungan mereka.
Seung Hyun yang selalu sibuk dengan berbagai jadwal padatnya tidak dapat menyempatkan diri untuk menelepon apalagi bertemu dengan Min Young.
Semuanya menjadi terasa menggantung.
-------------------------------------------
“Min Young~a!” teriak Hee Sung sambil membawa sebuah tabloid.
“Ye,Onnie...ada apa?”
Min Young yang mendengar teriakkan itu segera menghentikan kesibukkannya di depan komputer Hee Sung.
“Igeu...”
Hee Sung menunjukkan sebuah halaman di tabloid yang ia bawa itu.

T.O.P TERNYATA MEMILIKI HUBUNGAN RAHASIA DENGAN MANAGERNYA

Kedua mata Min Young melihat tulisan itu tanpa berkedip.
Hatinya pilu.
Ia merasa ditipu dengan janji yang dulu diucapkan Seung Hyun itu.
Semua kenangan-kenangan bersamanya terbang bagaikan abu yang ditiup angin.

Tanpa sadar air mata Min Young meleleh dan membasahi kedua pipinya.
Hee Sung yang melihat hal itu hanya dapat menepuk-nepuk bahu Min Young dan berusaha menghiburnya.
“Min Young~a,walaupun yang tertulis di sana merupakan berita yang menyedihkan bagimu,tetapi aku yakin bahwa itu semua hanyalah gosip belaka.”
Akan tetapi, ia sudah terlanjur terhipnotis oleh artikel gila itu.
Min Young seolah-olah menutup kedua telinganya dan berlari keluar apartemen.

Min Young POV
Seung Hyun~a....tega sekali kau melakukan ini padaku.
Aku tahu memang belakangan ini kau sibuk dan aku sudah berusaha untuk bersabar.
Aku berusaha untuk tetap memahami akan semua kesibukkanmu itu.
Tetapi mengapa?
Mengapa kau seolah-olah tidak menghargai semuanya?
Apakah ini akhir hubungan kita?
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah artikel gila.
Berita macam apa itu?
Foto-foto itu juga bukan merupakan foto mesraku dengan Hyo Jin!
Itu hanya foto-foto biasa,namun paparazi-paparazi sialan itu malah salah mengartikannya.
Sebenarnya apa tujuan mereka dengan mempublikasikan semua kebohongan ini!

Kurasakan handphone di saku jaketku bergetar.
“Yeoboseyo? Hee Sung?”
“Seung Hyun~a,apa yang ada di berita itu benar?”
“Anio...mereka hanya merekayasa foto itu...aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Hyo Jin!”
“Aku percaya omonganmu itu,tetapi Min Young...”
“Ada apa dengan Min Young...”
“Sudahlah Seung Hyun..lebih baik kau jelaskan semuanya kepada dirinya...”

Hee Sung menutup telepon.
Ia berkata bahwa aku harus menjelaskan semuanya kepada Min Young.
Apa Min Young juga sudah melihat berita itu?
Tetapi walaupun ia sudah melihat,harusnya ia tidak percaya begitu saja terhadap semua skandal ini.
Seharusnya ia percaya kepada diriku.
End of Seung Hyun POV
----------------------------------------------------
Sudah dua kali Min Young mendiamkan handphone di tasnya yang bergetar itu.
Ia tahu siapa yang meneleponnya,namun ia mendiamkannya begitu saja.
Ia butuh waktu untuk sendiri dan merenung.
Merenungkan akan semua yang telah terjadi,semua perubahan yang tak sanggup ia jalani lagi ini.
Hatinya masih sakit untuk memikirkannya.
Walaupun ia tahu bahwa semua yang tertulis di tabloid itu belum tentu benar,namun entah mengapa setelah ia memikirkan tentang hubungan dirinya dan Seung Hyun yang renggang itu,semuanya menjadi masuk akal.
Semuanya memang sudah tidak dapat ia jalani lagi.
Sudah berpuluh-puluh janji yang Seung Hyun batalkan demi pekerjaannya.
Awalnya memang ia bersabar dan memaklumi semua itu,tetapi lama kelamaan ia tidak sanggup untuk menjalani itu semua.
Kesabarannya sudah habis untuk melihat semua hal yang tidak adil itu.
-------------------------------------------------
Cuaca malam itu sangatlah dingin karena mendekati musim salju,namun Min Young tetap bersih kukuh untuk pergi ke apartemen Hee Sung.
Ia butuh teman bicara karena ia tidak ingin menjadi gila jika menyimpan semua masalahnya sendirian.

Min Young melangkah gontai menuju apartemen Hee Sung.
Menaiki setiap anak tangga dengan perasaan dingin.
Akan tetapi,hatinya kembali perih saat melihat pintu kamar yang bertuliskan angka tujuh itu.
Kamar yang merupakan tempat tinggal Seung Hyun dulu.
Memandangnya serasa seperti kembali ke masa lalu yang bahagia,namun sekarang semua itu telah berubah.
Tetapi entah mengapa hati Min Young mendorongnya untuk berjalan mendekati pintu itu.
Menyentuh dinginnya kayu yang terkena hawa malam itu,kemudian menyusuri kenopnya.
Semua itu di luar kontrol otaknya.
Akan tetapi itu semua adalah kemau hatinya yang terakhir.
Ini mungkin terakhir kalinya akan mengenang semuanya.

Tiba-tiba kenop pintu itu diputar dari dalam.
Min Young terlonjak kaget,namun dirinya lebih kaget saat melihat sesosok yang keluar dari pintu itu.
Belum sempat ia mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya,tetapi orang itu sudah mendekapnya.
Min Young membiarkan dirinya di dekap erat.
Rasa hangat menyelimuti dirinya.

“Oppa...bogoshiposso..” ucap Min Young pelan.
“Na do...” Seung Hyun balas membisik di telinganya.

Min Young melepaskan pelukkan Seung Hyun.
Ia menatap kedua mata di depannya dengan lekat.
“Oppa...mianhae...aku egois...”
“Sst..” Seung Hyun menempelkan jarinya di bibir Min Young.
“Aku yang seharusnya berkata seperti itu...aku terlalu mementingkan pekerjaan daripada dirimu.”
“Oppa,gwenchanayo..tetapi,sekali lagi mianhae...bisakah kita mengakhiri hubungan kita sampai di sini saja.”
Wajah Seung Hyun langsung mengeras,ia tidak percaya apa yang baru didengarnya itu.
“Mwo?” Seung Hyun memegang kedua lengan Min Young yang berada di hadapannya.
“Ye,Oppa...mianhae....jeongmal mianhaeyo....aku sudah berusaha untuk memahamimu,tetapi aku tidak dapat menahan itu semua lagi.”
Min Young melepaskan kedua tangan Seung Hyun yang berada di lengannya,berbalik,kemudian menuruni anak tangga sambil meneteskan air mata.
--------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Sekarang yang dapat kulihat adalah punggungnya yang lama-kelamaan menghilang dari pandanganku.
Meninggalkan diriku sendiri di tengah dinginnya malam ini.

Aku tahu ini bukan salahnya,tetapi ini memang yang seharusnya kuterima atas apa yang telah kuperbuat selama ini.
Mianhae...Min Young~a...aku terlalu mementingkan pekerjaanku.
Aku selalu membuatmu kecewa terhadap berpuluh-puluh penantian yang sia-sia.
Mianhae...

Min Young,bisakah kau memberikan sebuah kesempatan kedua untuk diriku?
Apakah kau bisa memberikan itu kepadaku?
Aku masih membutuhkanmu...
Kaulah satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan di hatiku ini.
End of Seung Hyun POV
---------------------------------------------------
Min Young POV
Seung Hyun~a....mianhae...
Aku memang egois karena tidak bisa memahami itu semua.
Tetapi,aku rasa ini memang jalan yang terbaik.
Aku bukan orang yang pantas di sisinya lagi.
Aku harap Seung Hyun bisa mendapatkan seseorang yang dapat memahami dirinya lebih dariku dan dapat membuatnya tersenyum kembali.
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Bulan lepas bulan Min Young mencoba untuk melupakan semua yang telah ia lalui bersama Seung Hyun,namun sekarang semuanya terasa semakin sulit.
Sekarang kesuksesan Big Bang tidak dapat dibendung lagi.
Hampir setiap hari tabloid-tabloid memuat berita tentang berita.
Wajah-wajah mereka pun semakin sering mucul di acara-acara televisi.
Min Young hanya dapat berpura-pura diam dan berusaha untuk tidak mengenal wajah-wajah mereka lagi.

Hari ini Min Young tidak sengaja melihat kalender yang tertempel di dinding kamarnya.
4 November 2009
Air matanya kembali meleleh.
Ia ingat apa yang terjadi pada tanggal 4 November dua tahun yang lalu.
Sebuah gambaran yang tak akan pernah ia bisa lupakan untuk selama.

Flashback
Seung Hyun dan Min Young berjalan perlahan menuju sebuah komedi putar,semua pengunjung sudah pulang jadi hanya mereka berdualah yang ada di tempat itu.
Namun tiba-tiba seluruh lampu di taman ria itu padam.
Seung Hyun yang kaget menggenggam tangan Min Young lebih kuat.

“Saengil chukahamnida…. saengil chukahamnida…..”
Suara itu terdengar samar-samar di tengah kegelapan malam ini.
Tiba-tiba Min Young menarik tangan Seung Hyun ke bawah dan membisikkan sesuatu.
“Saengil Chukahamnida,Oppa…” bisiknya.
Seung Hyun tersenyum bahagia.

“Ya! Chingu,keluar kalian!” teriak Seung Hyun.
Kemudian lampu komedi putar yang terang itu menyala kembali dan terlihat Ji Yong,Young Bae,Dae Sung,dan Seung Ri keluar dari tempat persembunyian mereka.
Seung Hyun yang sangat senang langsung berlari ke arah mereka dan memeluk mereka.
“Gomapta,chingu ya…” katanya sambil berteriak.
--------------------------------------------
”Min Young,gomapta karena telah membuat hari ini sangat berarti dan sekarang aku mau bertanya sesuatu kepadamu,”kata-kata Seung Hyun mengehentikan langkah Min Young.
“Apa,Oppa?” Min Young penasaran.
“Maukah kau menjadi pacarku?” tanya Seung Hyun.
End of Flashback

Kenangan indah itu kembali mengisi kepala Min Young dan menimbulkan rasa penyesalan di hatinya.
Bagaimana pun walau Seung Hyun sudah berpisah dengan dirinya,tetapi perasaan itu masih saja memenuhi hatinya.
Walaupun ia mencoba untuk memungkiri itu semua,tetapi itu semua malah akan menjadi suatu kesia-siaan belaka.
-------------------------------------------
Malam ini seperti malam-malam biasanya.
Min Young berkutat dengan buku-buku pelajarannya dengan ditemani remangan cahaya lampu meja belajar.
Namun konsentrasi belajarnya tiba-tiba terpecah karena getaran handphone yang diletakkannya di atas kasur.

“Yeoboseyo...”
Min Young mengangkat handphonenya dengan bermalas-malas.
“Min Young~a!”
“Seung Ri?”
Min Young terkaget saat mendengar suara dari sang penelepon barusan.
Sudah lama rasanya ia tidak mendengar suara itu,suara yang akrab di telinganya.

“Min Young~a! Cepat ke rumah sakit?”
“Ye?”
“Seung Hyun Hyung dirawat!”
“Mwo?”
“Sudahlah...jangan banyak tanya lagi...kau bisa pergi sekarang kan? Kurasa ia membutuhkan dirimu.”

Min Young menutup handphone flip-nya.

‘Sebenarnya apa yang terjadi pada Seung Hyun?’
Hanya pertanyaan itu saja yang dapat muncul di otaknya.
Ia mengigit bibir bawahnya dan menimbang-nimbang semuanya.

Min Young POV
Aish,mengapa ini semua dapat terjadi?
Apa yang harus kulakukan?
Apakah aku harus pergi? Atau aku mau menipu rasa khawatirku berapa lama lagi?

Sudahlah..
Aku memutuskan untuk pergi ke sana.
Aku tidak mau menyimpan kekhawatiran ini hanya di hatiku.
-----------------------------------------------
Aku tidak mempedulikan dinginnya udara malam menjelas musim dingin ini.
Aku terus berlari menuju rumah sakit.
Saat aku tiba di sana Ji Yong,Seung Ri,Young Bae,Dae Sung,dan seorang perempuan sudah berada di lorong depan kamar Seung Hyun.
“Min Young...” Seung Ri memanggilku dan aku pun berjalan mendekat.
“Seung Ri~a,sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanyaku penuh penasaran.
“Sebenarnya Hyung tidak parah,tetapi sebaiknya ia dirawat karena dirinya mengalami stres berat.”
Lidahku terasa kelu dan mematung sehingga tidak dapat berkata apa-apa.
“Setiap hari kerjaannya hanya pergi ke club dan minum-minum,” jelas Seung Ri.
Omona! Apa ini semua karena aku?
Aku yang membuatnya begitu?

“Boleh menjenguknya?” tanyaku pelan.
Ji Yong mempersilahkanku untuk masuk dan menutup pintu dari luar.
Kulangkahkan kakiku perlahan agar Seung Hyun tidak terbangun karena kehadiranku ini.
Aku tidak ingin ia sedih kembali jika melihat kehadiranku ini.

Aku berjalan mendekati dirinya terbaring lemah di tempat tidur itu.
Wajahnya pucat dan peluh membasahi dahinya.
Aku melihatnya lebih dekat kemudian menyentuh pipinya yang dingin itu.
“Oppa..mianhae,karena diriku kau menjadi seperti ini,” bisikku pelan sambil mengelap peluh di dahinya itu.
Hatiku kembali merasa bersalah saat melihatnya diam tak bergeming.
Aku tidak sanggup membendung air mataku ini.
Aku mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain,namun sebuah tangan dingin sudah terlebih dahulu menghapus air mataku.
Aku menoleh.
Seung Hyun tersenyum ke arahku.
“Sebenarnya apa yang kau tangisi?” tanyanya ketus.
Aku hanya menggeleng dan menghapus air mataku.
“Gojimal,” ucapnya pelan.
Ia kembali tersenyum ke arahku,tetapi aku hanya menatapnya nanar.
Tak tahu harus membalas perlakuannya dengan sikap apa.
Rasa canggung yang bercampur dengan rasa bersalah memerintahkan kakiku langkah menjauhi tempat tidurnya,tetapi di luar dugaanku ia malah menahan tanganku.
“Min Young~a,kumohon jangan tinggalkan aku lagi.”
Ucapan yang begitu tulus dan tak berdaya itu terlontar dari mulutnya.
Tubuhku terasa membeku dan tidak tahu harus membalas kata-kata itu dengan apa.
Aku hanya diam membiarkan tanganku ditahan olehnya,namun tiba-tiba ia terduduk di atas tempat tidurnya dan menarik tanganku sehingga aku ikut menduduki tempat tidurnya.
“Oppa,geumane,” protesku pelan.
Aku menjadi semakin tidak rela meninggalkan dirinya jika ia bersikap begitu terhadapku.
Akan tetapi bukannya melepaskan diriku,ia malah memeluk pinggangku dari belakang.
Aku kaget dan sempat memberontak,tetapi ia memelukku semakin erat.
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Kupeluk dirinya yang hangat ini.
Merasakan setiap rambutnya yang menyentuh wajahku.
Rasa yang sudah lama tidak kurasakan ini.
Aku rindu akan senyuman dan segala tentangnya.
“Min Young~a,mianhae...”
Hanya kata-kata itulah yang dapat kuucapkan dan tidak akan pernah berhenti kurenungkan.
Aku telah menyia-nyiakan kebaikkan hati dan pengertian darinya.
Aku terus memeluknya seakan-akan aku tidak mau kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.
Kurasakan setiap tetes air matanya membasahi lengan bajuku,namun aku hanya dapat memeluknya lebih erat.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan kembali orang dipelukkanku ini.
Dirinya terlalu berharga untukku bahkan lebih berharga dibandingkan pekerjaanku.
End of Seung Hyun POV
--------------------------------------------------
Keesokkan harinya...

Seung Hyun mendapati kursi di samping tempat tidurnya telah kosong.
Wajahnya yang tersenyum cerah tadi malam kembali lesu seperti hari-hari sebelumnya.
Dengan semangat yang padam akhirnya Seung Hyun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya itu di atas tempat tidur.
--------------------------------------------------
Min Young berjalan sambil menunduk di taman rumah sakit.
Sekilas matanya memandang lurus ke depan tanpa emosi.
Pandangannya kosong.
Berbagai pemikiran telah membutakan semuanya.

“Min Young-sshi?”
Min Young baru sadar bahwa ada seseorang yang memanggilnya.
“Ye?” Min Young berbalik.
Nyalinya langsung ciut saat mengetahui orang yang memanggil namanya.
“Kang Hyo Jin imnida.”
Wanita yang bernama Hyo Jin itu mengulurkan tangannya ke hadapan Min Young.
Min Young terpaksa mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hyo Jin.
“Naneun Kim Min Young imnida..”
“Ye,aku sudah mengenalmu sejak lama,walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu,tetapi Seung Hyun sering bercerita tentangmu kepadaku.”
Wajah Min Young langsung pucat saat mendengar ucapan Hyo Jin itu.
“Mian,mungkin karena akulah hubunganmu dengan Seung Hyun menjadi seperti ini,tetapi cobalah untuk memaafkannya,ia masih membutuhkanmu dan aku tahu kau juga masih membutuhkannya kan?”
Pertanyaan itu seolah-olah membongkar semua apa yang telah disembunyikan Min Young,namun ia hanya diam tak bergeming membiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja.
Akan tetapi,Hyo Jin hanya tersenyum saat melihat respon Min Young diam membeku itu.
“Ya sudahlah,pikirkan semuanya baik-baik,pikirkan semua kenangan yang pernah kalian buat dan jangan pernah kau katakan penyesalan jika kau tidak mau mencoba untuk mengampuninya.”
Hyo Jin menepuk bahu Min Young dan meninggalkan dirinya sendiri.

Min Young POV
Aku mencoba mengenang semuanya.
Mengenang kembali saat yang telah aku lalui bersamanya dulu.
Aku ingat saat ia berkelahi dengan Dong Wook Oppa.
Aku ingat saat ia mengampuniku walaupun aku telah berkata mianhae berpuluh-puluh dan telah menyakiti hatinya berulang-ulang kali.

Kenangan yang terakhir itu seolah-olah menyadarkanku dari tidur panjangku.
Menyadarkanku agar penyesalan yang terasa di dalam hatiku sekarang.
Aku sadar bahwa seharusnya aku malu.
Malu karena aku tidak dapat membalas semua pengampunan yang ia berikan kepadaku dulu.

Aku berlari menuju kamar Seung Hyun.
Terus berlari tanpa mempedulikan apa pun.
Aku ingin segera memeluknya dan berkata “mianhae” di telinganya.
‘Mianhae...Oppa....aku menyesal....’
End of Min Young POV
---------------------------------------------------------
Min Young terlambat sampai di kamar inap Seung Hyun.
Tempat tidur yang tadinya ditempati sekarang sudah tertata rapi.
Min Young hanya dapat memandang sebuah ruangan kosong tanpa penghuni,namun ia menyadari bahwa ada sebuah amplop yang tertinggal di atas meja.

Min Young membuka amplop itu dan mendapati sebuah tiket konser di dalamnya.

BIG BANG
BIG SHOW CONCERT 2008

Melihat tulisan itu,tanpa berpikir dua kali,Min Young segera berlari keluar rumah sakit dan pergi menuju konser itu.
---------------------------------------------------
Min Young memasuki gedung konser dengan nafas terengah-engah,yang terdengar olehnya hanyalah gemuruh tepuk tangan V.I.P disusul nada lagu Lies yang sudah hampir berakhir itu.
Ia menengok ke arah panggung.
Ia kaget melihat Seung Hyun sudah berdiri di sana dengan member lainnya.
Yang ia rasakan sekarang hanya lah rasa khawatir sekaligus bahagia.
Entah mengapa ia senang melihat Seung Hyun yang terbaring lemah tadi malam dapat kembali ceria seperti yang ada di atas panggung sana.

“Min Young~a!”
Suara orang yang dikenalnya membuat Min Young berbalik dan tersadar akan lamunannya.
“Onnie!” panggil Min Young sambil tersenyum.
Hee Sung yang memanggil namanya tadi ikut tersenyum rindu.
Mereka berdua berdiri di antara V.I.P lainnya dan menikmati konser pada hari itu.
“Onnie,konser kali ini benar-benar ramai..” seru Min Young yang tiba-tiba membuka topik pembicaraan.
“Ye,mereka memang benar-benar sudah sukses sekarang,” ujar Hee Sung.

Namun,belum lama mereka berbicara sang MC sudah terlebih dahulu membuat mata mereka memandangi panggung.
“Oke,beri tepuk tangan untuk Big Bang!” teriaknya.
“Sekarang mari kita bertanya kepada para member mengenai konser pada malam ini…”
“Malam ini adalah malam yang paling menyenangkan,jika kami mengingat masa-masa kami sebelum debut,semuanya terasa tidak nyata,” aku Ji Yong.
“Oke,jawaban itu sudah mewakilinya,dan untuk TOP,menurutmu apa yang paling penting dalam konser kali ini?” tanya MC lagi.
Seung Hyun hanya diam saja saat disuguhi pertanyaan itu,namun matanya melihat ke sekeliling.
Ia mencari seseorang di bangku penonton.
Kemudian ia menunjuknya.

Mata Min Young membelalak tak percaya.
“Onnie,ottoke? Seung Hyun menunjuk ke arahku? Sebenarnya apa yang hendak ia lakukan?” Min Young bertanya dengan panik ke Hee Sung yang ada di sebelahnya.
Hee Sung hanya tersenyum tak peduli.
“Oke,Nona yang di sebelah sana bisa tolong maju ke depan!”
Kali ini keadaan menjadi semakin parah.
Min Young hanya membeku di tempat dan melirik Hee Sung dengan pandangan penuh harapan.
Namun bukannya membantu,Hee Sung malah mendorong badan Min Young agar menuruti perintah sang MC.
Akhirnya karena teriakkan V.I.P di sekitar,Min Young memberanikan dirinya untuk naik ke atas panggung.

Min Young POV
Kulihat beratus-ratus V.I.P atau mungkin beribu-ribu orang memandang ke arahku di atas panggung ini.
Aku hanya bisa menunduk malu untuk meredam rasa gugupku.

Sebenarnya apa yang hendak dilakukan Seung Hyun?
Apa maksudnya dengan menunjukku tadi?

Tiba-tiba MC mengajukkan pertanyaan lagi.
“Sebenarnya siapakah agasshi ini?”
Aku hanya memandang ke arah Seung Hyun yang berdiri di sampingku.
Ia tersenyum ke arahku sebelum menjawab pertanyaan itu.
“Ia adalah kunci keberhasilanku,” katanya.

Aku terharu mendengar kata-katanya itu.
Namun tiba-tiba saat aku merasa kegugupanku berakhir,Seung Hyun menciumku.
Ia menciumku di depan beribu-ribu V.I.P dan sekarang yang dapat kulakukan hanya lah menutup mata.
Menerima segalanya.

Air mataku kembali mengalir.
Merasakan semuanya tidak pantas untukku.
Aku belum meminta maaf kepadanya.

Seung Hyun melepaskan ciumannya.
Ia memandangku lekat.
“Mianhae...aku tidak akan meninggalkanmu lagi kunciku..karena tanpa dirimu...walaupun sesukses apapun diriku,tetapi aku tidak akan dapat membuka gerbang kebahagiaan.”
Ia membisikkan kalimat indah itu di telingaku dan mengalungiku sebuah kalung kunci.
Kalung yang memang terlihat biasa,tetapi sangat berarti bagiku dan aku berjanji tidak akan pernah melepasnya.
End of Min Young POV
------------------------------------------------------------

Label: ,


Senin, 02 November 2009


Annyeong yorobun...
Deuh,,,gw lagi seneng banget deh sekarang haha...
Gw mau say SAENGIL CUKAHAMNIDA dulu buat Oppa kesayangan gw yang satu ini haha..
Si Young Saeng Oppa dari SS501 haha...*ga ga tau mukanya kayak gimana tuh...fotonya dah gw post gede'' di awal haha*...
Oppa yang ultahnya sama tanggalnya ma ultah gw..*gw nagih kado*
Gw ngepostnya berdasarkan waktu di KorSel sono ye...
Soal pertamanya gw pengen post jam 12 malem ntar,tapi takut dimarahin mama haha...jadi gw majuin deh acara post mengepostnya haha...
Ya udah deh...daripada dilempar ember gara'' kebanyakan bacot hehe..mending baca aja fic yang satu ini...khusus gw buat Young Saeng Oppa haha...
Komennya juga jangan lupa ye ceu..
Cekidot deh..

------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nameless Memory

3 Oktober 2009

Hawa dingin menusuk kulitku.
Air hujan membasahi kepalaku.
Udara menderu seakan-akan mengangkatku terbang.
Aku dapat merasakan dan mendengar itu semua,namun kubiarkan itu semua terjadi.
Aku berdiri di tengah derasnya hujan dan itu sudah kesekian kalinya kulakukan.
Aku bersyurukur masih dapat merasakan itu semua.
Bagaimana jika suatu hari nanti Tuhan tidak lagi mengijinkanku untuk berdiri dan merasakan ini semua?
Kapankah hari itu? Apakah besok? Lusa? Bulan depan?
Aku pun tidak tahu.
---------------------------------------------
10 Oktober 2009

“Naneun Heo Young Saeng imnida...” seseorang memperkenalkan diri di depan keluargaku dengan gaya cueknya.
Hari ini keluargaku kedatangan tamu tidak dikenal.
“Ada apa ya?” tanya Appaku bingung.
“Saya datang dari Seoul,saya tersesat dan handphone saya kehabisan baterai,” jawabnya sambil melihat ke arahku.
Aku balas menatapnya lekat,memperhatikannya dari ujung kepala sampai kaki.
Penampilannya sangat modern,tetapi sebenarnya siapakah orang ini?
Apakah dia seorang yang terkenal di Seoul sana?
“Kau mau meminjam telepon?” tawar Ommaku di samping.
“Ne...” tanpa permisi atau kata maaf ia menabrak bahu kananku dan masuk ke dalam rumah.
‘Siapa dia? Apa maunya? Benar-benar tidak tahu sopan santun..’

Kami semua menunggunya menelepon seseorang namun setelah tersambung,yang kudengar justru kata-kata makian.
“Ya! Mwo? Kau tidak bisa datang sekarang ke sini?!” teriaknya marah.
Sebenarnya siapa yang ia telepon?
Kedengarannya ia orang kaya karena mana mungkin ia bisa menyuruh-nyuruh orang seperti itu jika tidak kaya.
“Ahjussi,bisa kau menyewakan kamar untukku selama beberapa hari? Karena kendaraanku baru akan bisa menjemput beberapa hari lagi dan aku butuh tempat tinggal,” tanyanya.
Mataku sudah melotot khawatir saat Appa menganggukkan kepala ke arah Omma setelah berdiskusi sebentar.
“Geurae,kau boleh menginap di sini,tetapi kami tidak menerima uang sewa...anggap saja sebagai bantuan dari kami secara tulus,” kata Appa.
Ommo! Appa sudah gila! Bagaimana bisa Appa membiarkan orang asing seperti dia untuk menginap di rumah ini?
Lagipula di mana ia akan tinggal?
Rumahku saja sudah sempit jika ditempat tiga orang,apalagi ditambah dengannya,bisa-bisa aku disuruh tidur di ruang tamu.

“Andwe,Appa..” bisikku sebelum Appa beranjak pergi.
Aku berharap Appa mengubah keputusannya,namun bukannya menanggapiku dengan kata-kata,Appa malah tersenyum ke arahku.
Aku menarik lengan bajunya sambil memasang tampang memelas.
“Min Young,sudahlah...sekali-kali kita harus menolong orang lain..”
Appa tidak memarahiku,tetapi malah menolak permintaanku dengan halus dan karena itu lah akhirnya aku terpaksa menurut.
-------------------------------------------------
“Ya!” teriak seseorang di belakangku.
Aku menoleh dan melihatnya dengan muka bingung.
“Iya,kau!” bentaknya.
“Namaku Shin Min Young,Oppa...jadi kau tidak perlu memanggilku dengan kata ‘Ya’,arasseo?”
Akhirnya aku berani juga melawannya.
Hatiku puas namun,sekilas aku melihat wajahnya berubah menjadi kaget.
Kira-kira ada apa dengan namaku? Mengapa wajahnya begitu kaget begitu mengetahuinya?
“Arasseo,Min Young~a...aku tidur di mana sekarang?” sekarang ia bertanya dengan nada yang lebih lembut kepadaku.
Aku menjadi bertambah bingung.
“Oppa tidur di sofa saja karena di sini hanya ada dua kamar dan kamar itu sudah menjadi milikku,” kataku ketus sambil menunjuk ke arah kamarku.
“Umm...tega sekali kau...malam ini kan begitu dingin,apa kau tega melihatku mengigil di sini?” ia memelas kepadaku,tetapi tetap saja aku tidak mau mengalah.
Memang dia pikir dia siapa sampai-sampai aku rela berbagi kamar dengannya.
“Shiro...” tolakku.
Bagaimana pun aku ini perempuan dan ia itu laki-laki lagipula aku tidak mengenalnya.
Bagaimana jika ia berbuat yang yang tidak-tidak?
“Min Young~a,bagaimana? Boleh kan aku tidur di situ?” tanyanya memelas dan menunjuk kamarku.
“Ahh~ andwe,terserahlah…Oppa mau kedinginan atau tidak bisa tidur,aku tidak peduli!” aku berlari ke arah kamar dan buru-buru menutup pintu.

Kucoba untuk memejamkan mataku,namun sebelumnya sekilas aku melihat ke arah kaca di atas pintu.
Lampu di luar masih menyala.
Orang itu berarti masih belum tidur.
Sudahlah...lupakanlah...terserah ia bisa tidur atau tidak...toh itu bukan urusanku.
Namun,sampai sekarang aku masih bingung dengan sikapnya barusan.
Mengapa saat ia mengetahui namaku,sikapnya menjadi berubah.
Sebenarnya siapa dia?
‘Apakah dia Oppa?’
Aku menggenggam kalung di leherku dengan kuat.
Mengapa sampai saat ini aku masih saja menunggunya?
Sebenarnya kapan ia akan datang lagi?

Flashback
“Saengil chukahae!” Oppa mengagetkanku sambil membawa kue tart yang bertancapkan lilin angka satu dan kosong.
“Oppa! Gamsahaeyo..” aku berlari ke arahnya dengan wajah berseri-seri.
“Ayo...tiup lilinnya” suruh Oppa.

Aku tidak tahu nama orang yang kupanggil Oppa itu siapa,aku baru bertemu dengannya kira-kira sebulan yang lalu ,tetapi entah mengapa hubunganku dengannya sudah terasa sangat dekat.
Aku sudah menganggapnya sebagai Oppa-ku sendiri.
Walaupun aku tidak mengetahui namanya,tetapi itu bukan masalah bagiku karena keinginanku hanyalah tetap dan selalu di sampingnya.

Wuushhh...
Aku meniup lilin-lilin itu dengan bersemangat sambil mengucapkan permintaan sederhana dalam hati.
Bagiku semuanya sudah terpenuhi dan aku sudah bahagia sekarang,jadi aku tidak perlu meminta yang aneh-aneh.

“Apa yang kau minta?” tanya Oppa.
Aku tersenyum dan menjawab,”bi mi..”
“Ahh~...kau harus memberitahuku,” rengkek Oppa seperti anak kecil.
Renggekkannya itu membuatku geli,padahal ia lebih tua dariku tetapi sifatnya terkadang malah lebih kekanak-kanakan daripadaku.

Tiba-tiba ia menyolekkan krim tart itu di tanganku.
Sungguh jahil sekali Oppa ini...
Karena merasa perlu memberi pembalasan akhirnya aku menyolek tanganku ke tart dan bersiap menoelkannya ke Oppa,tetapi Oppa sudah terlebih dahulu lari.
Aku berlari mengejarnya,namun tiba-tiba Oppa berhenti.
Aku yang bingung dengan sikapnya akhirnya berhenti dan memandang lurus ke arahnya.
“Min Young~a...mianhae...ini hari terakhir aku bisa bersamamu,” katanya pelan.
“Mwo? Oppa,jinja?” aku terkejut dan tidak menyangka dengan apa yang diucapkannya itu.
“Mianhae,Min Young~a...tetapi aku janji aku pasti akan menjemputmu suatu saat nanti...aku janji,” ia memelukku erat.
Aku hanya dapat menangis dalam pelukkannya itu.
“Oppa...jangan tinggalkan aku...” kataku.
Aku berusaha mencegah,tetapi semua itu sia-sia saja.
End of Flashback
-------------------------------------------------------
11 Oktober 2009

Suara kicauan burung di luar membangunakanku pagi ini.
Aku mencoba untuk bangkit dari tempat tidur,namun aku terkejut saat mau melangkah menuju pintu.
Orang asing itu ternyata sedang tertidur dengan enaknya di samping tempat tidurku.
Semalam ia memindahkan kasur di luar ke dalam kamarku.
‘Ia benar-benar tidak tahu sopan santun!’ protesku dalam hati.
Kakiku sudah siap menendang tubuhnya yang sedang pulas tertidur itu,tetapi sebuah benda di lehernya menahan niatku.
Mataku tiba-tiba tertuju kepada kalung yang dikenakannya itu.
Kudekatkan mataku dan melihatnya dengan teliti.
Kalung itu...kalung yang sama dengan kalung yang ada di leherku sekarang.
‘Oppa...’ aku hanya berani memanggil namanya dalam hati setelah mengetahui yang sebenarnya.
Kurasakan perasaan senang dan gundah tercampur menjadi satu di dalam hatiku ini.
Refleks kugenggam kalung di leherku dengan erat dan berlari keluar kamar.
Aku tahu suara langkahku pasti sudah membangunkannya,tetapi aku tidak peduli.

Aku bahagia karena hari yang dulu kunantikan itu datang.
Oppa yang dulu memberikan kalung ini dan berjanji akan menjemputku kembali telah menggenapi janjinya,tetapi sekarang aku merasa semuanya sudah terlambat.
Tuhan...mengapa kau mewujudkan impianku ini pada saat yang tidak tepat?
Aku tidak dapat membendung air mataku lagi.
Aku merasa hal ini tidak adil.

Tiba-tiba kurasakan tubuhku di peluk dari belakang.
Aku tahu itu pasti Oppa,tetapi aku tidak berani menengok ke belakang.
Hatiku perih rasanya melihat wajahnya itu.
“Min Young~a,waeyo?” bisiknya di telingaku.
Aku terus menangis dan menghiraukan pertanyaannya itu.
Ia melepaskan pelukkannya itu dan berdiri di hadapanku.
Ia menghapus air mataku dengan tangannya.
“Kau masih belum mengenalku?” tanyanya sambil memegang kedua pipiku.
Aku tersenyum mendengar kata-katanya.
Tanpa basa-basi lagi aku langsung memeluknya.
Ia membalas pelukkanku.
Aku menangis terharu sekaligus menyesal di dalam pelukkannya itu.
Aku merasa menjadi orang paling bahagia dalam sesaat,tetapi aku merasa itu tidak adil bagi Oppa.
---------------------------------------------------
17 Oktober 2009

Omo! Perutku!
Rasa sakit ini kembali menyerangku.
Mengapa sakit ini kambuh di saat seperti ini?
Tuhan,tolonglah...bisakah Kau hilangkan rasa sakit ini?
Bisakah kau memberikanku waktu lagi?

Tubuhku terpelanting karena rasa sakit.
Kucoba menggapai obat yang ada di laciku.
Botolnya itu kubuka dengan kasar dan isinya segera kutumpahkan ke tanganku yang satu lagi.
Kutelan obat pahit itu.
Memang rasanya pahit,tetapi lebih pahit saat mengetahui bahwa teror itu kembali lagi.
Aku terduduk di sebelah tempat tidurku,kemudian menyenderkan kepala sejenak.
Namun belum lama aku merasa tenang,aku sudah mendengarkan suara Young Saeng Oppa kegirangan di luar.
“Min Young~a,lihat apa yang kubawa!” teriaknya.
Aku baru menyadari bahwa obat-obatku berserakkan di lantai.
Dengan segera aku membereskannya dan memasukkan pil-pil itu ke dalam laci.
Aku tidak ingin ia sedih karena mengetahui ini semua.

Krreek...
Ia membuka pintu kamarku.
Aku tersenyum sambil menahan rasa sakit ini.
“Ada apa,Oppa?” tanyaku pelan.
“Igeu..” ia menyerahkan sebuah kotak CD ke arahku.
“Mwo ya?” tanyaku bingung.
Ia menyuruhku membaca judulnya.
SS501 / REBIRTH
Itu yang tertulis di sana.
“Itu album terbaru dariku dan temanku,” ujarnya bangga.
“Jadi Oppa sudah terkenal sekarang?” tanyaku sambil bergurau.
“Ne,dan kau satu-satunya fans yang mendapatkan album itu sebelum hari perilisannya,” ia tersenyum dan tiba-tiba mencubit pipiku.
“Oppa! Jinja! Lagipula kapan aku pernah bilang kalau aku itu fansmu?”
“Sudah..kau tidak perlu menipu dirimu..”
Oppa tiba-tiba menggendongku.
Aku kaget dan mencoba memberontak ingin diturunkan.
“Oppa!” teriakku.
Akhirnya ia menurunkanku di halaman depan rumah.
Ia memandang ke arah depan tanpa merasa bersalah kepadaku yang berdiri di sampingnya ini.
Lalu ia menyanyi dan bersenandung.
Aku terpesona dengan suaranya itu.
Suaranya membuat hatiku yang takut ini menjadi merasa aman dan damai.

“Chukahae,Oppa...” sahutku pelan.
Ia menghentikan nanyiannya dan berbalik ke arahku.
“Memang untuk apa?” tanyanya bingung.
“Untuk albummu....aku senang mendengar Oppa bernanyi...rasanya hatiku damai,” kataku sambil mencoba tersenyum.
Kali ini aku benar-benar memaksakan diri untuk tersenyum,tubuhku sudah meringis kesakitan.
‘Tuhan...bisakah Kau mengabulkan permohonanku? Tolong hilangkan rasa sakit ini,aku sudah tidak bisa menahannya lagi,’ gumamku dalam hati sambil memegang perutku yang rasanya sudah hampir pecah ini.
Tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
“Min Young~a! Min Young~a!”
Aku mendengar Oppa memanggilku.
Namun aku tidak menghiraukannya.

Aku merasakan tubuhku diangkat oleh seseorang.
‘Oppa? Apakah aku berada di gendongannya? Ke mana ia akan membawaku? Tolong Oppa jangan bawaku ke tempat menakutkan itu lagi,’ pintaku dalam hati.
----------------------------------------------------
18 Oktober 2009

Dit...Dit....Dit...
Suara itu lagi yang dapat kudengar di ruangan sepi ini.
Kurasakan tanganku digenggam seseorang.
Kubuka mataku perlahan.
“Appa..” ujarku pelan.
Appa menangis di samping tempat tidurku,ia menggenggam tanganku semalaman.
Kulihat ke arah lainnya,Omma sedang duduk termenung di sofa.
Melihat pemandangan ini,hatiku menjadi kembali terenyuh.

Kedua mataku kembali kuputar untuk mencari seseorang.
“Young Saeng Oppa?” tanyaku kepada Appa.
“Ia sedang keluar,sebentar lagi dia pasti akan tiba kok,” jelas Appa.
Aku hanya menangguk,tetapi hatiku tetap khawatir.
Entah mengapa aku tidak ingin Oppa mengetahui keadaanku yang sebenarnya.
“Appa...bisakah kau menyimpan penyakitku ini sebagai rahasia dari Young Saeng Oppa?” tanyaku pelan.
Appa tidak menjawab,aku melihat wajahnya merenung.
“Appa,tolong..” pintaku,akhirnya Appa menyetujuinya dengan sebuah anggukkan.
--------------------------------------------------------
22 Oktober 2009

Aku berdiri di tengah-tengah taman bunga lavender di dekat rumahku.
Wangi bunganya seolah-olah mengisi kekosongan hatiku.
Hatiku kosong karena sudah empat hari lamanya aku tidak melihat wajahnya.
Sejak aku dirawat di rumah sakit,ia sudah menghilang begitu saja.
Sebenarnya ke mana Oppa? Aku sangat mengkhawatirkannya.

Aku melangkah gontai menuju arah pulang.
Langit yang sudah sore yang mendung membuatku semakin takut akan berakhirnya hari ini.
Rintik-rintik hujan kembali turun dan membasahi diriku.
Kurasakan setiap rintik dan dinginnya air yang turun dari langit itu.
Rasanya seperti memberi suatu semangat baru dalam hidupku yang suram ini.

Tiba-tiba sesosok laki-laki muncul dari kejauhan.
Ia terus berjalan mendekat ke arahku lalu memayungiku.
Aku melihat wajah orang itu dan baru kusadari bahwa ia adalah Young Saeng Oppa.
Aku kaget saat melihatnya.
Namun ia langsung memeluk tubuhku yang mengigil ini dengan salah satu lengannya.
Tubuhku serasa mematung di dalam pelukkannya.
“Saranghae..” bisiknya pelan.
Aku tersontak kaget dan langsung memberontak di pelukkannya.
Aku senang ia berkata seperti itu.
Tetapi aku hanya dapat berkata,”mianhae,Oppa...”
Aku tidak dapat membalasnya perasaannya itu,walaupun sebenarnya dalam lubuk hatiku yang terdalam aku juga memiliki perasaan yang sama dengannya,namun aku tidak mau menyakiti hatinya.

Oppa masih saja tidak mau melepaskan pelukkannya itu dan aku hanya dapat menangis sambil memukul dadanya.
Ia menahan tanganku.
“Oppa,mianhae...aku tidak bisa menerima kata-katamu itu.”
Aku tidak mau menjadi orang egois,aku mau ia bahagia bersama orang lain yang dapat bersamanya sampai seumur hidupnya.
“Min Young~a,apa karena penyakitmu itu?” Tangisanku semakin deras saat ia bertanya seperti itu.
Selama ini aku berusaha menutupi kenyataan itu daripadanya,tetapi dari mana ia dapat mengetahui itu semua?
“Kau tidak perlu menutupi itu,aku tahu semuanya...dan aku serius dengan kata yang kuucapkan tadi,aku berjanji akan selalu menjagamu,”katanya.
Ia menatapku lekat lalu mencium bibirku dengan lembut.
Aku membalasnya dengan dengan bersalah yang mendalam,tetapi entah mengapa saat ia mengecupku aku merasa ada sebuah semangat baru yang memenuhi diriku ini.
Hidup yang kurasa tidak berarti ini terasa seperti disinari oleh semangat baru lagi.
---------------------------------------------------
27 Oktober 2009

Aku mengunci diriku di kamar,menjauhi diri dari segalanya.
Saat aku menerima dan membalas Oppa,aku merasa bahagia,tetapi mengapa sekarang perasaan bersalah itu muncul kembali.
Akhir-akhir ini semakin sering kurasakan sakit di lambungku ini.
Kemarin aku mencoba meredamnya dengan obat,tetapi aku tahu ini sudah terlalu terlambat.
Obat-obat itu tidak dapat mengubah nasib hidupku.
Kubaca sekali lagi laporan kesehatan yang kuterima beberapa bulan lalu.
KANKER LAMBUNG STADIUM 4
Rasanya itu semua tidak adil,mengapa Tuhan terlambat mendatangkan kebahagiaan bagiku.

Seperti hari-hari sebelumnya kucoba menahan rasa sakit itu.
Kuremas perutku dengan kuat,namun karena tidak kuat dan aku hanya dapat berguling di lantai demi menahan teriakkan yang hendak keluar dari mulutku ini.
Aku tidak ingin melihat Oppa susah dan sedih.

Tok...Tok...Tok....Tok...Tok...
Kudengar suara pintu diketuk secara tiba-tiba dari luar.
”Min Young! Min Young!” teriak seseorang.
Aku tahu itu suara Oppa.

Aku berusaha menjawabnya dengan tergagap,”O...ppa...gwenchenayeo...”
“Min Young~a! Buka pintunya!” Oppa menggedor pintu semakin keras.
“Oppa...gwenchana...” aku berusaha menghalaunya masuk.
Aku tidak mau ia melihatku dengan kondisi seperti ini.
Ini terlalu menyedihkan untuknya dan biarlah aku meredam rasa sakit ini sendiri.
“Min Young~a...buka pintunya...atau kudobrak..”
Aku sudah tidak dapat menjawabnya lagi.

Brraakk...
Pintu tiba-tiba terbuka.
Oppa berlari masuk menghampiriku.
Ia mendudukan tubuhku yang tergeletak di lantai lalu memelukku dari belakang.
“Babo,mengapa kau menyembunyikan rasa sakit itu?! Mengapa kau menahannya sedirian?!” suara Oppa bergetar.
“Jangan menyembunyikan rasa sakit itu sendirian,kau bisa memelukku...Min Young~a,tolong jangan menanggung itu sendirian,aku tidak mau melihatmu menderita karena menanggung ini semua seorang diri.”
Perlahan-lahan kurasakan air mata Oppa berjatuhan di pundakku,namun aku juga hanya dapat menangis mendengar kata-katanya itu.
“Oppa...oppa tahu...aku memohon kepada Tuhan agar aku diberi perpanjangan waktu,aku ingin hidup sampai tanggal empat November karena aku ingin merayakan ulang tahunmu,Oppa..”
Aku mencoba tersenyum di tengah-tengah tangisanku,tetapi Oppa malah semakin mempererat pelukkannya.
“Min Young~a...aku janji kita akan merayakan ulang tahun yang berbeda tahun ini.”
Aku tahu Oppa tidak mau membicarakan soal waktu yang tersisa,tetapi aku tahu ia hanya mau menjalani sisa waktu yang ada dengan suatu kebahagiaan.
---------------------------------------------
31 Oktober 2009

Tanggal tiga November sudah semakin dekat dan itu berarti waktuku juga sudah semakin sedikit.
Namun entah mengapa sekarang aku baru menyadari bahwa aku tidak menyesal untuk hidup di waktu yang singkat ini.
Apakah karena kehadiran Oppa?
Walaupun ia tahu bahwa waktu terus mengejarku,tetapi ia selalu berjuang untuk membuatku bahagia di waktu yang seadanya ini.
Entah ia mengajakku untuk pergi mengenang masa-masa dulu atau pun pergi untuk bersenang-senang.
Kami mengambil foto sebanyak mungkin yang kami bisa.
Karena aku tidak ingin ia melupakanku begitu saja walaupun sebentar lagi aku akan tidak ada di sisi.
Akan tetapi,semakin mendekati hari itu aku menjadi semakin takut untuk pergi meninggalkan dirinya.
Aku tidak rela meninggalkannya,padahal sudah berulang kali kukatakan pada diriku bahwa aku tidak sepantasnya untuk egois.
Ia tidak seharusnya hidup dalam bayang-bayangku yang sebentar lagi akan meninggalkannya ini.
Mianhae,Oppa karena aku terlalu egois,tetapi bisakah kau tetap meningatku saja walaupun aku tidak dapat berada di sampingmu selamanya.
-----------------------------------------------
3 November 2009

“Omma! Mana buku resep itu?” tanyaku kepada Omma yang sedang serius merawat tanaman di halaman itu.
Hari ini adalah hari ulang tahun Oppa dan aku berjanji bahwa aku akan membuatkan sesuatu yang spesial untuk dirinya.

Aku ingin membuat kue tart dengan tanganku sendiri.
Memang kedengarannya itu merupakan hal sederhana dan biasa,tetapi aku harap Oppa menyukainya.

Dengan hati bersemangat kubuka lemari penyimpanan bahan makanan di dapur.
Akan tetapi,ternyata lemari itu sudah kosong tanpa sisa.
Hatiku langsung dipenuhi oleh kepanikan dan kekecewaan.
Kucoba memutar otakku dan akhirnya tanpa berpikir panjang kukeluarkan sepeda kesayanganku yang sudah lama disimpan di gudang.
Sudah lama aku tidak melihatnya.
Semenjak aku sakit Appa melarangku untuk menggunakannya,katanya aku tidak boleh terlalu lelah.
Tetapi untuk kali ini saja,Appa…mianatta…tolong maafkan kelakuanku.
---------------------------------------------------
Aku memboseh sepeda keluar dari gudang tanpa sepengetahuan Appa maupun Omma.
Semuanya berjalan lancar seperti yang dipikirkan olehku.

Aku sampai ke toko bahan-bahan kue langganan Omma dan dengan segera kuparkirkan sepedaku di sebelah pintu toko lalu berlari masuk ke dalam.
Aku memborong semua bahan-bahan yang kuperlukan dan memasukkannya ke dalam keranjang sepeda.
Kuboseh kembali sepedaku pulang.
Perjalanan terasa lancar dan sedari tadi.
Aku bisa menikmati semilir angin sore yang menerpa wajahku,namun tiba-tiba kurasakan lagi rajaman penyakit yang serasa menyayat lambungku ini.
‘Tuhan tolong…berikanku perpanjangan waktu lagi,aku hanya mau merayakan ulang tahunnya dan setelah itu kau boleh menjemputku kembali,’ kupanjatkan doaku sambil berharap rasa sakit ini akan hilang.
----------------------------------------------------
Aku tiba di rumah dengan keadaan kotor dan berantakan.
Kedua lututku luka akibat jatuh dari sepeda dan sekarang aku hanya dapat berjalan terseok-seok ke dalam dapur.

Kukeluarkan semua bahan kue yang tadi kubeli di atas meja dan mulai kucoba membuat tart itu sesuai dengan panduan di resep.

1 jam…
2 jam….
3 jam….
5 jam…

Lima jam tak terasa telah berlalu dan sampai sekarang tak ada kue buatanku yang berhasil dengan sukses.
Hatiku sudah semakin tidak bersemangat melihat semuanya.
Kulihat sekitarku dan semuanya sudah berubah menjadi kapal pecah.
Tepung bertaburan di mana-mana sedangkan alat-alat masak pun masih berantakan di atas meja dengan keadaan kotor.

Kulihat jam yang tergantung di dinding dapur.
Jarum jam sudah menunjukkan pukul sembilan kurang lima malam dan aku baru ingat bahwa kemarin aku berjanji akan bertemu Oppa di kebun kenanganku jam sembilan malam.

‘Aish…aku harus segera ke sana,’ gumamku sambil menanggalkan celemek di tubuhku lalu berlari sambil menahan sakit ini.
Sejak sore rasa pilu selalu tak pernah meninggalkan lambungku ini.
Aku tahu ini memang sudah waktunya dan aku hanya dapat menunggu akan menjemputan dari-Nya.
------------------------------------------------
Malam ini hanya sinar bulanlah yang menerangi gelapnya kebun.
Hanya sedikit cahaya remang-remang yang menerangi dari kejauhan,namun tetap saja aku tidak dapat melihat segalanya dengan jelas.
Kuputar bola mataku sekeliling.
Mencari sesosok yang kukenal,namun tidak ada seorang pun yang menungguku di sana.

“OPPA!” aku berteriak.
Namun tidak ada yang menyahut teriakkanku itu.
Aku terus melihat kesekeliling mencarinya dan membuatku aku hampir frustasi.
Kekecewaan sekaligus ketakutan langsung menghampiriku.
Mataku sudah berkaca-kaca.
Namun tiba-tiba kudengar suara samar-samar dari kejauhan...
“Saengil chukahamnida…saengil chukahamnida…saranghaneun Shin Min Young…Saengil chukahamnida…”

Aku berbalik mencari asal suara itu dan membuka mataku agar bisa melihat orang yang menyanyikannya.

Oppa keluar dari tempat persembunyiannya sambil membawa tart yang bertancapkan lilin.
Tanpa disangka air mataku langsung meleleh.
Aku tidak bisa menahan haru yang kurasakan.

Aku tidak menyangka Oppa akan membuat kejutan seperti itu.
Walaupun semua kejadian ini bagaikan gambaran yang terulang kembali,tetapi aku tahu bahwa ini semua berbeda.
Rasa sayang Oppa kepadaku kali ini bukanlah rasa sayang yang diberikannya dulu.

“Ayo,tiup lilinnya,” ajakkan Oppa seolah menyadarkanku dari tangis haru.
Kuucapkan permohonan dalam hati sambil memejamkan mataku.

Wuusshh..
Kutiup lilin-lilin kecil yang menyala itu dengan senyum bahagia.
“Apa yang kau mohon?” tanya Oppa sambil mengelus kepalaku lembut.
Kukembangkan senyum terbaikku kearahnya.
“Kali ini...aku memohon agar Oppa selalu bahagia,aku ingin melihat Oppa menjadi orang terbahagia di dunia ini,aku tidak mau Oppa merasakan penyesalan atau pun kesedihan.”
Kuucapkan kata-kata itu dengan hati yang pilu.
Oppa yang terlihat tegar di depanku sekarang hanya dapat terpaku.
Aku tahu ia mengerti arti kata yang kuucapkan barusan.
Ia meletakkan kue tart yang dipegangnya di atas batu lalu mendekapku erat.
Kurasakan kesedihan dan ketakutan yang sama memenuhi dirinya.
“Oppa...aku takut,” bisikku pelan.
“Aku takut meninggalkanmu,aku takut tidak dapat melihat keceriaan yang kau berikan selama ini kepada diriku,Oppa...aku takut aku tidak bisa melihat semuanya lagi,” lanjutku.
Ia tidak menanggapi ucapku,namun ia mempererat pelukkannya.
“Min Young~a...jika aku boleh meminta,aku ingin sekali menghabiskan waktu denganmu lebih panjang lagi...”
Kuhentikan kata-kata dengan sebuah kecupan di bibirnya.
Aku tidak mau mendengarkan kata-kata itu dari mulutnya.
Aku takut aku tidak akan sanggup meninggalkannya jika mendengarnya.
------------------------------------------------
Kusandarkan kepalaku di bahunya.
Tubuhku sudah mulai mati rasa dan yang kurasakan hanyalah dingin yang menusuk kulitku.
Aku tahu ini memang saatnya.
Waktuku sudah habis dan Tuhan benar-benar telah mengabulkan permohonanku.
“Min Young,bagaimana ulang tahun kali ini?” kata Oppa pelan.
Kurasakan desahan hangat nafasnya menyentuh daun telingaku.
Aku tersenyum dan memejamkan mata.
“Yeppo...nommu yeppo..”
Aku tidak menjawab pertanyaannya melainkan hanya mengomentari kunang-kunang yang berterbangan di sekitarku.
Oppa ikut tertawa melihatnya.

“Min Young~a,mianhae karena telah membuatmu menderita selama ini...Mianhae karena aku datang terlambat.”
“Oppa,gwenchanayeo...Oppa memang datang terlambat,tetapi Oppa memberikan kebahagiaan bagi hidupku ini,gamsahaeyeo,” suaraku tercekat.

Lelah sekali rasanya hari ini.
Ini rasanya memejamkan mata dan tertidur untuk selamanya.

“Min Young,sekarang sudah tepat tengah malam..”
Kudengar Oppa berbisik lembut di telingaku,namun yang dapat kudengar hanyalah suara samar menjelang hilang.
Kupejamkan mataku sambil membalasnya dengan sebuah kalimat terakhir.
“Oppa,saranghae...”
----------------------------------------------------------


Akan kuingat semua kenangan ini Oppa...
Walaupun aku tahu ini kenangan yang tak bernama,tetapi aku akan selalu ingat semuanya.
Akan selalu kuingat senyumanmu,semangatmu,pelukkanmu,dan apa yang telah berikan bagiku.
Tak sia-sia rasanya menunggu..
Menunggu dalam kesepian dan kepedihan,tetapi semuanya berujung kebahagiaan.

Oppa,gomawo karena telah membuat hidupku berwarna dan memiliki arti.
Ingin rasanya memutar apa yang telah terjadi...
Memutar semua gambaran-gambaran wajahmu...
Namun sayangnya Tuhan tak mengizinkan hal itu...

Akan tetapi,jangan pernah menyesal dengan apa yang telah terjadi karena aku tidak ingin kau menyesal akan takdir yang telah diberikan olehTuhan kepadaku ini.
Aku ingin kau bahagia..walaupun tidak bersamaku...
Tetapi,sekali lagi kumohon agar kau selalu mengingatku karena aku pun akan selalu mengingatmu di atas sana...


Shin Min Young

-----------------------------------------------------------------

Label: