<xmp> <body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7457634820015561536\x26blogName\x3dBehind+the+Scene+of+My+Life\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/\x26vt\x3d-3169458302945196764', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> </xmp>
Welcome

I've already left this blog but I will be happy if you still take a look on my old fan fiction :D

The Princess
Add your profile goes here.
Hi and Hello!
Let me introduce my name then~ Ching Ching is speakin' here! Scream out loud and be ready for the rockin' blog YEAH! This is the second blog I got here, the first is on LiveJournal, and I used that as my fan fiction park ♥♥ I'm Chinese who live in country named Indonesia, so I usually speak in Bahasa. I love lurking around at SOOMPI, check the request thread and help them all that had a problem about NG and GASOO poster. And by the way, I had a Tumblr. I use that page as my poster and banner gallery. So please welcome then~ I'll be glad to know that someone has visited it. I would to tell about my emptiness, problems and experiences on here.. So, just shut up and listen then! *LMFAO*.

Links
Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here

Archives
September 2009
Oktober 2009
November 2009

Layout ©

ME. kynzgerl
CODES. manikka
BRUSHES. 1 2
IMAGES. 1 2
The 2 paper heart: moargh.de
SOURCE. BLOGGER BLOGSKINS IMAGESHACK
Jumat, 30 Oktober 2009

Annyeong yorobun~
Akhirnya gw bisa nge-post chapter 15 dari fic gw yang satu ini...
Chapter 15 berarti udah tamat deh haha..
Tapi gw mau kasih bocoran kalo ntar fic ini bakalan ada special editionnya dalam bentuk ff one shot..
Umm...kira'' bakal gw post pas utlahnya si Seung Hyun..
Tanggal 4 November besok...so....tunggu ye...
Lagi dalem proses pengetikan soalnya...

Ya udah..jangan lupa komen di chapter ye...
komennya sangat ditunggu lho....

----------------------------------------------------------------------------------------------------

Characters in this Chapter :
-Kim Min Young : murid yang baru naik kelas ke SMA yang hobinya dengerin musik
-Seung Hyun (TOP) : anak “beradalan”,kakak kelas Min Young,personil dari Big Bang
-Seung Ri (Victory) : temen sekelas sama Min Young yang juga personil Big Bang termuda
-Min Hee Sung : tetangga baru Seung Hyun yang ditaksir Seung Ri
-Young Bae (Tae Yang) : temen sekelasnya Seung Hyun dan personil dari Big Bang
-Ji Yong (G Dragon) : member Big Bang yang jago membuat lirik
-Dae Sung (D-Lite) : member Big Bang
-Choi Dong Wook : pacar Min Young semasa SMP yang masih memegang janjinya

Chapter 15

Sinar matahari menyilaukan mata Hee Sung yang sedang terpejam itu.
Perlahan-lahan mata kantuknya itu terbuka dan melihat segalanya dengan jelas.
Ternyata dirinya tertidur di sofa semalaman.
Setelah menyadari segalanya kemudian ia melihat ke arah sofa di hadapannya itu,terlihat Seung Ri masih tertidur pulas di sana.

Hee Sung berjalan sedikit mengendap-endap menuju pintu.
Ia tidak ingin membangunkan Seung Ri yang masih tertidur itu.

Saat hendak membuka pintu,Hee Sung tidak sengaja menginjak sesuatu di bawah kakinya.
‘Ige mwoya?’ tanya dalam hati sambil mengangkat barang itu dan membacanya.

Hee Sung~a,
Gomawo telah menjadi tetangga yang baik selama ini...
Waktuku di Korea sebentar lagi akan habis...
Tolong berikan surat itu kepada Min Young...

Seung Hyun

------------------------------------------------------------
Hee Sung POV
Sebenarnya apa maksud dari kata-kata itu?
Apa mungkin Seung Hyun mau meninggalkan Korea? Tetapi mengapa begitu mendadak?
Lalu sebenarnya apa isi surat ini?
Sepertinya aku sudah ketinggalan berita selama ini...

Awalnya aku memang bertujuan untuk tidak membangunkan Seung Ri,tetapi setelah membaca notes dari Seung Hyun ini,rasanya aku harus membangunkannya.
Aku sangat penasaran sekali dengan maksud surat dan notes itu.

“Seung Ri...Seung Ri~a...Pali irona!” teriakku sambil berusaha membangunkan Seung Ri yang sedang tertidur pulas itu.
“Hee Sung~a...biarkan aku tidur lagi,” katanya.
Aku memang tidak tega membangunkannya,tetapi apa boleh buat,sekarang aku benar-benar membutuhkan bantuannya.
“Ayolah...Pali!” kataku lagi.
Akhirnya walaupun masih setengah sadar,Seung Ri mencoba untuk duduk dan mendengarkanku.
“Seung Ri~a...”
“Mmm..”
“Kau tahu apa maksud ini semua?” kataku sambil menunjukkan notes dan surat yang kutemukan di dekat pintu tadi.
Seung Ri membacanya.
Awalnya mimik wajahnya biasa saja,namun lama kelamaan aku dapat melihat perasaan kaget tersirat di wajahnya itu.

“Kau tahu maksud dari notes ini kan? Apakah Seung Hyun akan meninggalkan Korea?” aku mencoba bertanya.
----------------------------------------------------------
Seung Ri POV
“Kau tahu maksud dari notes ini kan? Apakah Seung Hyun akan meninggalkan Korea?” tanya Hee Sung.
Aku sudah mengira bahwa ia akan bertanya soal itu,tetapi aku tidak tahu harus menjawab pertanyaan itu dengan jawaban apa.
Padahal kemarin Hyung bilang bahwa rencana kepergiannya ke Jepang itu merupakan suatu rahasia,namun mengapa sekarang ia malah menitipkan notes dan surat ini kepada Hee Sung.
Apakah aku boleh memberitahukan soal rahasia ini kepada Hee Sung?

“Ya! Sebenarnya kau tahu akan hal ini kan?!”
“Mmm...aku....aku....”
“Kau menutupi sesuatu dariku kan? Seung Ri...cepat katakan apa itu!”
“Seung Hyun Hyung akan pergi ke Jepang hari ini,” jawabku dengan singkat.

Akhirnya dengan terpaksa aku mengatakan juga rahasia itu.
Aku pikir cepat lambat semuanya pasti akan mengetahui rencananya itu.
Selain itu,aku ingin agar ada orang yang dapat membantuku untuk mencegah rencananya itu karena aku dan lainnya masih membutuhkan kehadirannya.

“Mwo?! Jinja?! Kau pasti berbohong kan?” tanyanya tidak percaya.
“Anio...Jinja...kemarin Hyung bercerita soal itu denganku,” aku mencoba meyakinkannya.
“Andwe,bagaimana dengan Min Young? Dia pasti masih membutuhkannya.”
Aku lupa bahwa Hee Sung tidak tahu tentang masalah yang terjadi di antara mereka berdua.
“Seung Ri~a,kau harus mencegahnya,” katanya lagi.
“Molla....aku tidak tahu harus mencegahnya dengan cara apa,kemarin ia berkata bahwa tujuannya ke Jepang adalah untuk melupakan kenangannya bersama Min Young,” jelasku.
“Mwo? Hubungan mereka sudah putus?”
Akhirnya aku menjelaskan masalah yang telah terjadi di antara Min Young dan Hyung itu.
-------------------------------------------------------
Hee Sung POV
Seung Ri menjelaskan mengenai masalah yang membuat berakhirnya hubungan Seung Hyun dan Min Young itu.
Rasanya aku menjadi ikut sedih mendengar semua itu.

“Hee Sung~a,kau mempunyai cara untuk mencegahnya ke Jepang?” Seung Ri bertanya sesudah seleasai bercerita.
Aku berpikir sejenak...dan aku mempunyai ide brilian untuk mencegah kepergian Seung Hyun itu.
“Seung Ri...” aku membisikan ideku di telinganya.
Ia hanya tersenyum dan mengangguk pelan setelah mendengarkan semuanya.
“Arseo...idemu itu keren,ya sudah sekarang kita harus bersiap-siap pergi ke rumahku untuk menghadap Omma,” ajaknya.
Awalnya aku sudah merasa puas karena dapat melalui malam bersamanya,tetapi setelah mendengarkan ajakannya itu,semua semangatku seakan lenyap.
Namun,apa boleh buat semuanya ini harus segera diakhiri.
---------------------------------------------------------
Pagi itu Min Young merasa tidak enak badan.
Semalaman dirinya tidak bisa berhenti memikirkan Seung Hyun.
Seakan-akan ada sebuah perasaan tidak enak yang terus menghantuinya.

“Min Young~a,irona..” Omma Min Young membangunkannya.
“Mmm....”
Min Young menggeliat di atas tempat tidurnya.
Omma yang merasa ada yang tidak beres dengan anaknya segera menyentuh dahi Min Young.
“Min Young~a! Gwenchana? Sepertinya badanmu terkena demam,” kata Omma.
Min Young yang tidak menanggapi hal itu malah memilih untuk meringkuk kembali di bawah selimutnya.
“Sudahlah,hari ini kau istirahat saja di rumah,” perintah Omma yang lalu meninggalkan Min Young untuk beristirahat.
---------------------------------------------------------
“Seung Ri~a,apa tidak apa-apa jika kita hanya meninggalkan surat ini di kotak pos rumahnya?” tanya Hee Sung yang sekarang sudah berada di depan rumah Min Young.
“Sudahlah...letakkan saja di sana,” suruh Seung Ri sambil menunjuk kotak pos.
“Tapi...aku tidak tega melihat Min Young menangis saat membacanya,” ulur Hee Sung.
“Memang aku juga tega membayangkan perasaan Min Young,tetapi jika kita menyampaikannya dengan cara seperti ini mungkin rencana kita akan berhasil,” hibur Seung Ri.
“Baiklah!”
Akhirnya Hee Sung meletakkan surat itu di kotak pos dan melanjutkan perjalanan mereka menuju rumah Seung Ri.
--------------------------------------------------------
Seung Ri membuka pagar rumahnya.
“Ayo masuk,” kata Seung Ri sambil mempersilahkan Hee Sung masuk.
Hee Sung yang tadinya ceria saat di perjalanan langsung tegang dan membeku.
“Waeyo?” tanya Seung Ri.
“Anio...hanya saja aku...” jawab Hee Sung.
“Tanganmu dingin....kau tegang? Sudahlah,santai saja...kita pasti bisa melewati ini semua,” hibur Seung Ri sambil memegang kedua tangan Hee Sung.
Setelah menimbang-nimbang Hee Sung akhirnya memutuskan untuk mempercayai kata-kata Seung Ri barusan.

“Omma!” panggil Seung Ri sambil membuka pintu rumahnya itu.
“Seung Ri~a...tadi malam kau ke mana?!” teriakkan Omma Seung Ri yang khawatir itu segera menyapa mereka.
Namun setelah Omma melihat siapa yang telah dibawa Seung Ri ke rumahnya itu,wajah Omma langsung mengeras.
Perasaan benci dan tidak suka langsung tersirat di wajahnya.
“Buat apa kau bawa dia ke sini?!” bentak Omma.
“Omma tenang dulu..” kata Seung Ri.
“Pergi sana!” teriakkan Omma semakin keras.
Hee Sung sudah mengira bahwa dirinya akan diperlakukan seperti itu,namun ia mencoba untuk bertahan demi orang yang ada di sebelahnya itu.
“Ahjumma,mianhae...” Hee Sung kembali mengucapkan kata-kata itu dan tanpa sadar ia menangis.
“Mianhae...Jeongmal mianhae....aku yang salah,Ahjumma....” lanjut Hee Sung dengan suara bergetar.
“Kalau kau tahu bahwa dirimu bersalah,lalu mengapa kau berani mendekati Seung Ri lagi?!”
Hee Sung hanya terdiam saat mendengar kalimat itu.
‘Aku yang salah...aku tidak patut berada di sini,’ katanya dalam hati.
Akhirnya rasa bersalah Hee Sung kembali menguasai lagi dirinya sendiri.
Ia sudah tidak kuat menahan ini semua.
Hee Sung berniat meninggalkan rumah Seung Ri.
Namun saat hendak membuka pagar rumah,tiba-tiba sebuah tangan menarik tangannya.
“Changkaman!” teriak Seung Ri.
“Kau berjanji tidak akan menjauhiku lagi jadi tolong bertahanlah sebentar,” bujuknya.
“Tapi...”
“Mianhae...tadi aku tidak membantumu saat kau diomeli oleh Omma,tapi kali ini aku yang akan berbicara dengan Omma dan kau hanya perlu berada di sampingku,bagaimana?”
Hee Sung akhirnya mengangguk dan mengikuti Seung Ri yang menarik tangannya itu.

“Omma...kali ini aku yang akan menjelaskan yang sesungguhnya terjadi,” kata Seung Ri.
“Memang apa yang perlu dijelaskan?” balas Omma.
“Omma jangan lagi menyalahkan Hee Sung,semua yang kualami ini bukan karena dirinya...semuanya itu hanya kecelakaan saja...”
“Sudahlah...Omma tidak mau mendengar penjelasanmu itu!”
“Omma! Dengarkan aku! Aku tahu Omma sayang padaku,aku tahu Omma merasa sedih saat aku mengalami kecelakaan itu,tetapi Omma jangan menyalahkan Hee Sung! Dia adalah orang yang sebenarnya menyelamatkanku!”
“Ia hanya mencelakakanmu saja!”
Hee Sung yang mendengar perdebatan Seung Ri dan Omma yang hanya dapat menangis namun tangan Seung Ri menggenggam tangannya semakin kuat.
“Omma...tolong mengertilah....aku mencintainya...aku ingin melindunginya...saat itu aku ditusuk karena aku tidak berhati-hati,tetapi bukan karena Hee Sung....Jika Omma yang berada di situ dan aku yang diganggu oleh preman,Omma pasti akan melindungiku kan? Omma pasti rela mengorbankan nyawa demi orang yang Omma sayang kan?”
Omma tertegun dengan kata-kata yang barusan diucapkan Seung Ri.
“Omma...tolong mengertilah...saat itu aku sendiri yang rela mengorbankan nyawaku demi menyelamatkan Hee Sung.”
Akhirnya hati Omma tersentuh dan memeluk Seung Ri sambil menangis.
“Mianhae..Seung Ri~a...Omma baru sadar dengan apa yang Omma salahkan selama ini,” kata Omma.
“Omma...jadi Omma mau menerima Hee Sung?” tanya Seung Ri.
Omma hanya menangguk lemah lalu memeluk Hee Sung yang berada di sampingnya.
“Mianhae..Hee Sung~a....selama ini Ahjumma hanya menyalahkanmu saja.”
Hee Sung hanya bisa menangis bahagia karena akhirnya dirinya diterima kembali oleh Omma Seung Ri.
--------------------------------------------------------
Min Young POV
Kepalaku sakit sekali.
Badanku terasa lemas dan tidak bertenaga,walaupun sejak tadi pagi aku hanya tidur di kamar,tetapi itu semua tidak membuatku merasa baik.
Hatiku masih saja tidak tenang dan badanku masih saja tidak enak.
Namun,aku merasa bosan melalui hari ini hanya dengan beristirahat di kamar saja.

Aku melihat ke arah jendela di kamarku dan aku baru menyadari bahwa sekarang hari sudah menjelang sore.
Kemudian aku mulai bangkit dari tempat tidurku lalu melangkah keluar kamar dan menuruni tangga.
Saat aku melewati ruang makan,aku melihat sebuah kertas di atas meja makan.
Karena penasaran akhirnya mendekati meja makan.
Ternyata di amplopnya tertulis namaku,aku membuka surat itu dan membaca isinya.

Min Young,
Gomawo karena telah berada di sisiku selama ini...
Gomawo karena telah membuatku merasakan apa rasanya mencintai dan dicintai...
Aku tahu,selama di sisiku kau selalu merasa tersiksa dengan sikapku ini.
Mianhae karena tidak bisa menjadi yang terbaik untukmu.
Walaupun sekarang aku sudah tidak memilikimu,tetapi aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, sekalipun jika kau bahagia bersama dengan orang lain.

Mianhae jika aku memberitahu ini dengan terlambat.
Hari di saat kau membaca surat ini merupakan hari terakhir di mana aku berada di Korea.
Aku sudah memikirkan semuanya dengan baik.
Hari ini aku akan pergi ke Jepang.
Aku harap kau bahagia walaupun tidak ada diriku yang kau anggap sebagai Oppamu ini.
Aku akan selalu mengingatmu sebagai kunci dari rahasia-rahasiaku selama ini.


Seung Hyun


Air mataku bercucuran saat membaca setiap kata yang tertulis di surat itu.
Aku tidak menyangka Seung Hyun akan pergi ke Jepang tanpa sepengetahuanku.
Aku masih membutuhkan dirinya.
Walaupun sudah seminggu ini kami tidak saling bicara,tetapi aku masih ingin melihat wajahnya karena sampai kapan pun aku tidak akan melupakan wajahnya.

Tanpa memperhatikan kesehatanku,aku berlari ke luar rumah.
Mungkin jika aku pergi ke airport sekarang,aku masih bisa mencegah kepergiannya.

‘Seung Hyun~a,kumohon jangan pergi!’
---------------------------------------------------------------
Di saat yang sama Seung Hyun sedang duduk di salah satu kursi ruang tunggu di airport.
Keberangkatannya ke Jepang tinggal sebentar lagi.

Seung Hyun POV
Suasana aiport sore ini sangat ramai.
Aku melihat ke sekitarku sambil mencoba menghilangkan rasa jenuhku.
Namun,tiba-tiba seseorang menempati kursi di sebelahku.
Aku tidak memperhatikan siapa yang menempatinya.
“Seung Hyun!”
Aku kaget bahwa orang di sebelahku itu dapat mengetahui namaku.
Aku pun menoleh.
“Dong Wook!” aku menjadi tambah terkejut saat melihat orang yang duduk di sebelahku itu.
‘Mengapa ia bisa berada di sini? Memang dia mau pergi ke mana? Bukannya ia seharusnya bersama dengan Min Young?’ tanyaku dalam hati.
“Apa yang kau lakukan di sini?” tanyanya.
“Aku hendak pergi ke Jepang,” jawabku singkat.
Walaupun aku sudah merelakan semuanya,tetapi tetap saja aku merasa kesal saat melihat wajahnya.
“Mwo? Bagaimana dengan Min Young?” tanyanya lagi.
“Ia...ia sudah memilih orang lain.”
“Nugu?”
‘Kau ini pura-pura bodoh?’ ejekku dalam hati.
Aku masih tidak mengerti mengapa ia masih saja pura-pura tidak merasa bersalah.
“Sudahlah...kau mau mengetes aku? Orangnya kau tahu!” jawabku kesal.
Ia malah tertawa mendengar jawaban itu.
“Waeyo? Kau seharusnya bahagia bukan?” tantangku yang merasa tidak puas.
“Seung Hyun~a...ia tidak memilihku,kau salah sangka...ia sudah memilih orang lain yang katanya lebih penting dari pada diriku.”
“Mwo? Nugu?!” sekarang giliran diriku yang panik.
‘Jangan-jangan orang itu...’ aku mencoba meneraka di dalam pikiranku.
“Orang itu adalah dirimu!” teriaknya sambil sedikit tertawa.
Perasaanku tercampur aduk saat mendengar itu.
Sebagian diriku merasa tidak percaya dan senang,tetapi sebagian diriku lagi merasa sudah terlambat dan tertipu.
“Mwo? Bagaimana bisa..? Saat itu aku melihat kau dan dia...”
“Berpelukkan?” potongnya.
Aku hanya menangguk tidak percaya.
“Kau ini benar-benar bodoh! Saat itu aku hendak berpamitan dengannya,awalnya aku mengajaknya untuk memilihku,namun ia menolakku hanya demi dirimu.”
Ucapan Dong Wook barusan membuat diriku beku dalam sekejap.
Aku tidak tahu harus berkata dan melakukan apa sekarang.
“Ya! Kau jangan meninggalkannya! Kalau tidak kau akan berurusan denganku!”
Saat mendengar kata-katanya itu seakan-akan tubuhku bergerak sendiri dan memerintahkan kakiku untuk pergi menemui Min Young.
---------------------------------------------------------
Min Young POV
‘Semoga aku masih belum terlambat,’ kataku dalam hati.
Akhirnya aku sampai juga di airport,tanpa menghiraukan apa-apa lagi aku berlari ke dalam.
Aku melihat ke sekeliling dan suasana menjadi sangat ramai.
Sangat sulit mencari Seung Hyun di tengah-tengah keramaian seperti ini.
“Oppa! Oppa!” kata itu sudah berkali-kali kuteriakkan namun aku masih saja tidak dapat menemukan dirinya.
Aku merasa sangat lelah dan lemas.
Namun,tiba-tiba handphone ku berdering.

“Yeoboseyo?”
“Min Young~a...”
“Seung Ri~a...Oppa...Oppa meninggalkanku,”kataku sambil menangis.
Aku kira ia akan panik juga sepertiku,tetapi ia malah berkata,”Min Young,sekarang kau harus pergi ke gudang!”
Belum sempat aku bertanya untuk apa aku harus ke sana,namun ia sudah keburu menutup teleponnya.

Aku masih menangis karena tidak bisa menemukan Seung Hyun,mungkin saja ia sudah pergi dan aku terlalu terlambat untuk semuanya.
Tetapi aku masih memutuskan untuk pergi ke gudang.
Mungkin jika aku bercerita kepada yang lain,hatiku akan merasa lebih baik.
------------------------------------------------------------
Nafas Seung Hyun terengah-engah saat sampai depan rumah Min Young.
Ia merasa bersalah telah salah paham dengan apa yang sebenarnya terjadi dan ia ingin menjelaskan segalanya kepada Min Young.

Tok....Tok....Tok....Tok.....Tok.....Tok....
Tangan Seung Hyun tak hentinya mengetuk pintu.
“Changkaman!” suara Omma Min Young terdengar dari luar pintu.
Kreek...
Pintu dibuka.
“Ahjumma...apa saya bisa bertemu dengan Min Young?” tanya Seung hyun dengan terengah-engah.
“Oh,Min Young sedang sakit...tetapi jika penting,Ahjumma akan panggilkan dia sebentar.”
Omma Min Young berlari ke dalam untuk memanggil Min Young.
Namun saat ia kembali,wajahnya berubah menjadi pucat.
“Min Young...Min Young pergi....ia sedang sakit...”
Kepanikkan segera menyelimuti Omma dan Seung Hyun.
“Ahjumma,biar saya yang cari dia,” kata Seung Hyun.
----------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Min Young...Babo Ya!
Mengapa kau pergi?
Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu? Mengapa kau tidak memikirkan kesehatanmu sendiri?
Ke mana aku harus mencarimu?

Aku terus berlari tanpa arah sambil memikirkan wajahnya.
Tiba-tiba handphone di sakuku berdering.
“Yeoboseyo?”
“Hyung,cepat ke gudang sekarang!”
Hanya kalimat itu yang kudengar,setelah itu Seung Ri segera menutup teleponnya.
‘Menagapa hari benar-benar membingungkan? Mulai dari Min Young sampai Seung Ri,semuanya membuatku bingung,’ protesku dalam hati sambil berlari menuju gudang.
----------------------------------------------------
“Seung Ri~a!” teriak Min Young seraya membuka pintu gudang.
“Seung Ri! Seung Ri!” teriak Min Young berulang-ulang kali sambil mengintari gudang.
Ia melihat ke sekitar.
Semuanya sepi dan tidak ada orang di sana.
‘Sebenarnya di mana Seung Ri? Mengapa ia menyuruhku untuk datang ke sini?’ tanya Min Young dalam hati.
Walaupun masih tidak dapat menemukan Seung Ri di sana,tetapi ia masih ingin duduk sejenak di gudang.

Min Young POV
‘Sudah lama aku tidak masuk ke dalam sini lagi,rasanya rindu sekali dapat melihat semua ini lagi..’
Aku duduk di sofa yang biasa aku tempati jika sedang menunggu Seung Hyun latihan.
Mengingat namanya membuatku ingin menangis lagi,tetapi semua air mata yang aku cucurkan itu hanya sia-sia saja karena semuanya itu sudah terlambat.
Awalnya aku hanya duduk dan melihat ke sekitar ruangan,namun lama-kelamaan tubuhku rasanya lemas dan ingin sekali beristirahat.
Akhirnya aku berebahkan diriku di tengah empuknya sofa itu.

“Min Young...Min Young...”
Sebuah suara mengganggu tidurku,namun setelah itu bisa kurasakan ada seserang yang menyentuh pipiku.
Sentuhan dan suara ini seperti pernah terjadi di masa lalu,namun pastilah itu semua hanya mimpi.
-------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Aku sampai di gudang dengan nafas terengah-engah.
Aku masih mencoba untuk berlari ke dalam untuk mencari Seung Ri dan yang lain.
Namun,sebelum itu aku masih sempat melirik jam tanganku yang menunjukkan pukul lima sore itu.
“Seung Ri..”
Aku mencoba mencari Seung Ri dan melihat ke sekeliling gudang.
Bukannya menemukan Seung Ri,tetapi aku melihat Min Young yang sedang tertidur di sofa.
Aku mencoba menghampirinya.
“Min Young.....Min Young....” kupanggil namanya berkali-kali untuk membangunkannya.
Namun,ia masih saja menghiraukan semua itu.
Aku mencoba menyentuh pipinya.
‘Omona....panas sekali tubuhnya,’ kagetku dalam hati.
Ia sedang terserang demam,tetapi mengapa ia masih saja memaksakan dirinya untuk datang ke sini.
“Min Young~a...irona...” kataku sambil menggoncang tubuhnya pelan.
“Hmmm...nanti aku masih mau..”
Awalnya ia menggeliat ingin melanjutkan tidurnya,namun tiba-tiba ia membuka matanya lebar-lebar dan berhenti berbicara.
“Oppa!” teriaknya dengan suara bergetar.
Ia memelukku seketika dan aku tidak tahu harus berbuat apa,namun akhirnya aku mencoba membalas pelukkannya.
“Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!” teriaknya.
Aku hanya dapat memeluknya lebih erat dan membiarkan dirinya menangis di pelukkanku.
“Mianhae...karena aku tidak memberitahuku tentang itu semua...” kataku pelan.
“Aku memang bodoh karena tidak mau mendengarkan penjelasanmu waktu itu...tadi aku baru bertemu dengan Dong Wook di aiport dan ia menceritakan semuanya,” aku mengatakan semua itu dengan perasaan sedih sekaligus lega karena telah mengetahui kebenarannya.
“Mian...karena aku mengira dirimu lebih memilih Dong Wook daripada diriku.”
Ia melepaskan pelukkan dariku seketika.
Ia menatapku lekat-lekat.
Lalu menempelkan bibir kecilnya itu ke bibirku.
Aku membalas ciumannya itu.
Namun saat aku melakukan hal itu,aku merasakan perasaan bersalah.
Aku terlalu mudah untuk tidak mempercayai dirinya.
“Oppa...kau jangan pergi...” mohonnya.
Hatiku sakit melihat matanya yang berkaca-kaca itu,namun rencanaku ini tidak dapat dibatalkan lagi.
Appa ingin aku pergi ke Jepang karena ia ingin aku sukses dan tidak hanya mengurusi bandku yang ia anggap tidak membuahkan kesuksesan itu.
“Anio...mianhae...aku benar-benar harus pergi,” kataku pelan.
--------------------------------------------------------
Ruangan itu menjadi sangat sunyi setelah Seung Hyun mengatakan kata-kata itu,yang terdengar hanyalah isak tangis Min Young yang tak ada hentinya.
“Oppa...jangan pergi...aku mohon,” Min Young kembali memeluk Seung Hyun.
Namun tiba-tiba pintu gudang terbuka.
Seung Hyun dan Min Young juga ikut kaget dan melihat ke arah pintu.
“Hyung! Kau tidak bisa pergi!” cegah Seung Ri.
“Seung Ri~a,kau ini bercanda...aku benar-benar harus pergi,” tolak Seung Hyun.
“Kami punya alasan..” tambah Ji Yong yang berdiri di sebelah Seung Ri.
“Memangnya alasan apa?”
“Ini,” Young Bae memberikan selembar kertas kepada Seung Hyun.

KONTRAK REKAMAN

Judulnya berbunyi seperti itu.
Wajah Seung Hyun langsung kaget melihatnya.
“Jinja?” tanya Seung Hyun tidak percaya.
“Jadi...Hyung tidak jadi pergi ke Jepang kan?” tanya Dae Sung yang ingin memastikan.
Seung Hyun hanya diam saja namun wajahnya mengembangkan senyum seulas.
Melihat hal itu,Min Young langsung memeluknya dan menangis bahagia.
---------------------------------------------------------
Hee Sung yang melihat kejadian itu dari luar pintu gudang juga ikut bahagia karena idenya berhasil membuat semuanya berakhir dengan bahagia.
“Noona!” panggil Seung Ri yang tiba-tiba ada di sebelah Hee Sung.
“Seung Ri~a,berhentilah memanggilku ‘Noona’,aku risih mendengarnya,” kata Hee Sung.
Seung Ri hanya tertawa melihat wajah Hee Sung yang cemberut itu.
“Araseo,” jawab Seung Ri yang kemudian mencium Hee Sung.
Wajah Hee Sung langsung memerah.
“Nommu kyopta,” goda Seung Ri.
“Kau ini benar-benar...” tangan Hee Sung sudah siap-siap memukul langan Seung Ri,tetapi Seung Ri malah melarikan diri dengan masuk ke dalam gudang.
--------------------------------------------------------

Epilogue
Dua tahun kemudian....

Suara teriakan para V.I.P membuka konser Big Bang.

(yeah) love is pain
Dedicated to all my broken-hearted people
One's old a flame... just scream my name
And i'm so sick of love songs (yeah)
I hate them damn love songs... moment of ours

(geo-jis-mar)
Neuj-eun bam bi-ga nae-ryeo-wa neor de-ryeo-wa
Jeoj-eun gi-eog kkeut-e dwi-cheog-yeo na
Neo eobs-i jar sar su iss-da-go
Da-jim hae-bwa-do eo-jjeor su eobs-da-go
Mos-ha-neun sur-do ma-si-go
Sog-ta-neun mam bam-sae chae-wo-bwa-dosirh-eo neo eobs-neun ha-ru-neun gir-eo bir-eo
Je-bar ij-ge hae-dar-ra-go (-geo-jis-mar-i-ya)
………………………………..

Lagu Lies ciptaan Ji Yong seolah-olah telah menghipnotis para V.I.P yang datang ke acara itu.
“Onnie,konser kali ini benar-benar ramai..” seru Min Young yang berdiri di antara para V.I.P lainnya.
“De,mereka memang benar-benar sudah sukses sekarang,” ujar Hee Sung.

“Oke,beri tepuk tangan untuk Big Bang!” teriak MC pada malam itu.
“Sekarang mari kita bertanya kepada para member mengenai konser pada malam ini…”
“Malam ini adalah malam yang paling menyenangkan,jika kami mengingat masa-masa kami sebelum debut,semuanya terasa tidak nyata,” aku Ji Yong.
“Oke,jawaban itu sudah mewakilinya,dan untuk TOP,menurutmu apa yang paling penting dalam konser kali ini?” tanya MC lagi.
Seung Hyun hanya diam saja saat ditanyain pertanyaan itu,namun matanya melihat ke sekeliling.
Ia mencari seseorang di bangku penonton.
Kemudian ia menunjuknya.

Min Young POV
“Onnie,ottoke? Seung Hyun menunjuk ke arahku? Sebenarnya apa yang hendak ia lakukan?”
Aku panik saat Seung Hyun melakukan hal itu,namun Hee Sung Onnie di sebelahku hanya tertawa.
‘Oh tidak! Omona!’ jantungku semakin berderup kencang karena semua orang melihat ke arahku.
“Oke,Nona yang di sebelah sana bisa tolong maju ke depan,” ajak MC.
Oh tidak….bagaiamana ini….???
Badanku terus didorong oleh Onnie dari belakang,tetapi aku berusaha untuk menahannya.
Akhirnya teriakan para V.I.P memaksaku untuk maju ke panggung.
Tanganku dingin karena gugup.
Setelah aku naik ke atas panggung,MC bertanya,”sebenarnya siapakah Nona ini?”
Aku hanya terdiam saja sambil terpaksa tersenyum.
Tiba-tiba Seung Hyun yang berada di sebelahku berkata,”dia adalah kunci keberhasilanku.”
Setelah itu ia menciumku di depan semua orang.
‘Sudahlah…aku tidak dapat membayangkan apa yang terjadi,aku hanya dapat memejamkan mataku rapat-rapat.’
----------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Aku harap kau bahagia berada di sisiku.
Kau adalah kunci segala rahasia dan keberhasilanku.
Segala rintangan yang kita hadapi ini telah merubah sikapku dan membuatku belajar akan banyak hal.
Oleh karena itu…gomawo Min Young~a….
---------------------------------------------------
THE END

Label:


Rabu, 28 Oktober 2009

Hallo semua...rasanya dah lama gw ga curhat di blog ini haha...*perasaan minggu depan gw baru curhat deh*
Dari minggu kemaren demennya nge-post fan fic melulu...
Tapi sekarang beda..sekarang gw pengen talking-talking geje hehe..


Oke,PERTAMA...
Soal English Competiton kemaren...
Gw dikirim ma sekolah bareng temen'' gw yang otaknya encer'' *kayak cendol aja* itu buat ikut lomba English Knowledge di Univ Maranatha...*terkenal tuh di Bandung*
Hari pertama persiapan sih rada'' gimana gitu...cuma ikut technical meeting terus baca'' tentang English Literature doang...keliatan banget tuh ga niatya...
Apalagi pas hari lombanya...
Tim gw bener'' keliatan ga pengen menang deh kayaknya...
Tim yang laen sih baca buku...baca kamus *OXFORD pula..bayangin aje*...tapi kalo tim gw...
-gw buka fesbuk di hape
-Melani (temen gw) dengerin lagu pake hape
-Dea (temen gw yang BADAG) malah ngajak si Melani buat tukeran lagu...*TVXQ pastinya*
-Temen'' gw yang cowo malah ngerumpi kayak ibu'' di ruang serba guna
-Tasha (temen setim gw) juga malah jalan'' keliling Univ..*buat perencanaan masa depan kali ye*

Kita leha-leha kayak gitu sampe jam setengah 12 en bener,pertandingan dimulai...
Sialnya...gw dapet giliran pertama banget...(puteran pertama grup A)
Pas dikasih pertanyaan...kita semua (gw,Tasha,Philip) langsung liat-liat,culang-cileng geje gitu...ga ngerti si yang ngasih soal ngomong apa...
Selain kita ga tau soalnya,terus suaranya bener-bener ga jelas gitu deh,,,
Jadi akhirnya kita jawab asal gitu deh,,en ternyata...jawaban kita salah hahaha...*digetok ma guru Inggris*
Tapi setidaknya dari 10 *kalo ga salah* pertanyaan kita bisa dapet skor 300 *apa untungnya,cuma bisa jawab 3 pertanyaan doang*...

Gw en yang lain paling kaget pas bagian pertanyaan rebutan...syok saia....
Bener'' ga kebayang kalo soalnya bakalan kayak gitu..
Salah satunya tuh...
"What is the name of Justin Timberlake's former group?"
Pas dengernya gw aja sampe bingung...ini sebenernya lomba Inggris ato lomba tebak lagu..
Tapi untungnya pengetahuan gw soal lagu luas..jadi gw tau...haha...*sok pinter lu*
Namun,sayang sejuta sayang...gw telat mencet bel jadi aja tuh poin bukan buat gw...

En akhir kata gw bilang kalo tim gw kalah haha..
Tujuan ikut lomba sih bukannya buat menang tapi untung bersenang-senang soal hari itu gw ada Ulangan Fisika,en gara'' ikut lomba jadi gw ga masuk sekolah..HURRAY....*diulek ma MR.Chong (guru Fisika gw)* *namanya asli loh* *jangan ketawa!*



Yang KEDUA..gw pengen cerita soal fan fic gw yang paling baru...
Belum dipost sih...tapi udah selesai kok haha...

Dalam rangka ultah gw (15) en Oppa kesayangan gw dari SS501 itu...si Heo Young Saeng Oppa (23)...
Hahaha..seneng gw...*sadar Ching*
Gw buat fan fic duet bareng si Young Saeng Oppa haha...*kayak lagu aja diduetin*
Tapi gw kasih bocoran deh...walaupun ini dalam rangka ultah,ga tau kenapa gw pengen bikin ada yang mati...
Jadi so pasti di fic yang ini pasti endingnya..sad...
Tapi ke-sad-annya suatu ending itu tergantung lu-lu semua para reader...kalo lu tipenya BADAG kayak temen gw yang namanya Dea itu...
Fic ini mah bukan apa'' kok...jadi tunggu aje deh ampe tanggal 3 November ntar kalo penasaran haha...

Ya udah sekian dulu deh...cuap-cuap geje gw hari ini...semoga bermanfaat bagi kita semua..*kayak makanan aje*...
Annyeong~

Label:


Jumat, 23 Oktober 2009

Ya udah akhirnya setelah seminggu berlalu gw post lanjutannya...
Gw ga bisa banyak pesen soal gw terhimpit oleh waktu yang benar'' sempit..*geje dah*

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Characters in this Chapter :
-Kim Min Young : murid yang baru naik kelas ke SMA yang hobinya dengerin musik
-Seung Hyun (TOP) : anak “beradalan”,kakak kelas Min Young,personil dari Big Bang
-Seung Ri (Victory) : temen sekelas sama Min Young yang juga personil Big Bang termuda
-Min Hee Sung : tetangga baru Seung Hyun yang ditaksir Seung Ri
-Young Bae (Tae Yang) : temen sekelasnya Seung Hyun dan personil dari Big Bang
-Ji Yong (G Dragon) : member Big Bang yang jago membuat lirik
-Dae Sung (D-Lite) : member Big Bang
-Eun Hye : teman baru Min Young yang hobinya baca ramalan bintang


Chapter 13

“Seung Ri~a,chukahae...hari ini kau boleh pulang,” kata Young Bae senang.
Seung Ri memang bahagia dirinya sudah diperbolehkan pulang.
Tetapi,sebenarnya di dalam benaknya ia masih saja memikirkan Hee Sung.
-----------------------------------------
Seung Ri POV
‘Hee Sung~a,aku hari ini sudah boleh pulang...dengan begitu aku akan segera bertemu denganmu dan akan segera menjelaskan tentang semua ini,’ kataku dalam hati.

Semua orang hari ini berbahagia,tetapi aku tidak.
Bagiku jika tidak ada kehadiaran Hee Sung di sini rasanya menjadi hampa.
Dari sejak aku siuman kemarin,aku terus bertanya-tanya mengenai dirinya ke semua orang dan dari cerita mereka aku mengetahui bahwa sepertinya ia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang kurasakan sekarang.
Aku ingin minta maaf kepadanya.
Selama aku tidak sadarkan diri,ia selalu menyalahkan dirinya atas insiden ini.
Tetapi,sesungguhnya ini bukan kesalahannya,namun ini adalah sebuah kecelakaan.
Lagipula jika semua orang mau menyalahkan.
Semuanya bisa menyalahkan diriku saja,karena aku tidak berhati-hati waktu itu.
-------------------------------------------
Di waktu yang sama...
Hee Sung berjalan dengan kepala tertunduk.
Kemarin saat ia bertemu dengan Seung Hyun,Seung Hyun memberitahu bahwa hari ini Seung Ri sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Hee Sung POV
Kerjaanku belakangan ini memang banyak.
Banyak orang yang memesan baju kepadaku.
Tetapi,dibalik kesibukan itu semua aku masih teringat pada Seung Ri.
Hari ini rasanya aku ingin sekali melihat dirinya keluar dari rumah sakit.

‘Apa sebaiknya aku kunjungi saja dia secara diam-diam?’
---------------------------------------------
Dari kemarin keinginan itu terus menghantui Hee Sung.
Akhirnya pada hari ini dia tidak dapat membendung semua keinginan itu.
Ia berlari ke rumah sakit.
Ia berharap agar Seung Ri belum meninggalkan ruangannya pagi ini.
------------------------------------------------
Nafas Hee Sung terengah-engah saat tiba di pintu utama rumah sakit.
‘Seung Ri~a,semoga diriku tidak terlambat,’ gumamnya pelan.
Hee Sung menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang membuatnya teringat akan peristiwa itu.
Rasanya sudah beberapa hari ia tidak melihat pemandangan itu di mata,namun sebenarnya pemandangan itu masih saja tidak dapat hilang dari pikirannya.
Hee Sung akhirnya sampai di depan kamar yang ditempati Seung Ri.
Ia masih dapat mendengar suara-suara ceria dari orang-orang yang dikenalinya selama ini.
‘Syukurlah,aku belum terlambat,’ Hee Sung mencoba mengintip dari kaca di pintu.
Padahal sebenarnya Hee Sung berniat untuk mendorong pintu itu.
Namun,tiba-tiba terlihat Omma Seung Ri sedang membereskan barang-barangnya.
Oleh karena itu keinginannya kembali diurungkan.
Saat ia melihat wajah Omma,Hee Sung menjadi mengingat-ingat akan rasa bersalahnya.

Setelah lama melihat keadaan Seung Ri secara diam-diam,tidak sengaja ia melihat mata Seung Ri menatapnya.
“Omona! Ottoke?” Hee Sung menjadi panik dan memutuskan untuk berlari menjauhi kamar itu.

Hee Sung POV
Mianhae,Seung Ri..
Sekarang aku hanya dapat melihatmu dari jauh saja,namun itu semua sudah membuatku lega.
Saat kau sekarat waktu itu,aku selalu yakin kau dapat sembuh kembali dan kau sekarang telah membuktikannya padaku.
Gomapta,Seung Ri~a....
------------------------------------------------
“Seung Ri~a,besok kita latihan bersama lagi,araseo?!” teriak Ji Yong bahagia.
“Araseo,tetapi aku merasa lebih asyik menonton TV di rumah daripada latihan,sudah lama tidak latihan aku menjadi malas jadinya,” Seung Ri memberi alasan sambil tersenyum.
“Ahh~ dasar kau ini,mentang-mentang baru sembuh..jangan menjadi pemalas!” ejek Young Bae.
Seung Ri membalasnya dengan muka cemberut.
Sementara yang lain masih saja melanjutkan candaan mereka,Seung Ri tidak sengaja melihat ke arah jendala di pintu.
Ia menangkap sebuah bayangan yang selama ini ingin sekali dilihatnya.
Karena merasa tidak percaya,maka ia memutuskan untuk turun dari tempat duduk yang didudukinya itu dan berlari keluar.
Namun,saat ia mencoba untuk menangkap bayangan itu,sayangnya bayangan itu telah pergi meninggalkannya lagi.

Seung Ri POV
Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku?
Apakah itu semua hanya khayalanku atau semuanya itu nyata?
Mengapa tiba-tiba aku melihat bayangan Hee Sung dari balik kaca itu?
Apakah ia benar-benar datang ke sini atau itu hanya halusinasiku belaka?
Tetapi,sesungguhnya aku ingin sekali dia berada di sampingku sekarang.
------------------------------------------------
Keadaaan hubungan Min Young dan Seung Hyun yang sudah berakhir membuat diri Seung Hyun berubah drastis.
Seung Hyun menjadi kembali pada dirinya yang dulu.
Seung Hyun yang sekarang sudah mulai berubah,kini kembali lagi pada sifat berandalannya yang dulu.

“Min Young~a,sebenarnya apa yang terjadi di antara kau dan Seung Hyun Oppa?” tanya Eun Hye tiba-tiba.
Min Young yang sejak tiga hari yang lalu selalu murung hanya dapat menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan itu.
“Bukannya,kau sudah menjadi yoja chingu nya?” tanya Eun Hye yang terus mengoceh.
“Sudahlah,ini semua sudah berakhir,jadi kau tidak perlu mengungkit-ungkit itu lagi,” protes Min Young.
“Tetapi,kau tidak lihat perubahan drastisnya itu kan?”
Min Young wajar tidak tahu mengenai hal itu karena sejak hubungannya dengan Seung Hyun berakhir,ia selalu diam di kelas dan memasang wajah murung.
“Memang apa yang dilakukannya?” tanya Min Young yang terdengar agak penasaran.
“Kemarin kudengar dari teman-teman yang lain,ia mulai bolos lagi seperti dulu,” jelas Eun Hye.
Min Young yang mendengar itu pura-pura tidak tertarik dan kembali membendamkan wajah di balik kedua lengannya itu.
---------------------------------------------------
Min Young POV
Mendengar berita dari Eun Hye,aku sedikit terkejut.
Walaupun aku tadi pura-pura tidak menanggapinya,tetapi sebetulnya aku peduli akan hal itu.
Aku masih tidak percaya Seung Hyun yang pertama kali aku lihat itu kembali lagi.
Seung Hyun~a,mengapa kau kembali lagi ke jalan yang salah?
Apa karena waktu itu kau hanya berubah untukku saja?
Tetapi,aku ingin kau berubah untuk selamanya.
Aku ingin sifat-sifat yang aku lihat saat bersamamu tidak menjadi hilang begitu saja.
Tanpaku juga,kau bisa berubah demi kebaikanmu sendiri.

Aku sudah tahu,ia akan membolos ke mana.
Walaupun kemarin aku sengaja tidak datang bimbel karena hatiku sedang kacau.
Tetapi,hari ini aku memberanikan diri untuk datang kembali.

Seperti biasanya,aku menyusuri lorong yang biasa aku susuri sambil membawa buku-buku tebal yang aku biasa bawa.
Namun,hari ini hatiku agar berdebar-debar.
Tidak tahu mengapa aku takut bertemu dengannya karena aku merasa tidak pantas lagi untuk berdiri di hadapannya.

Kubuka pintu kelasnya...hatiku berdebar semakin kencang..
Kemudian aku mengalahkah masuk dengan wajah tertunduk.
Padahal tadi aku dengan beraninya mencoba untuk datang ke kelas ini,tetapi aku malah berkata dalam hati,’Tuhan,semoga hari ini Seung Hyun membolos.’
-------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Hari ini benar-benar sepi tanpanya,tapi apa boleh buat semuanya memang harus berakhir di sini.
Walaupun hubunganku telah berakhir,namun aku masih ingin melihat wajahnya.
Saat aku menatap ruang kelasku yang sepi ini,aku selalu mengingat-ingat saat bimbel bersamanya.
Saat kami tertawa bersama,saat aku menggodanya,dan saat aku mempertahankan hubunganku dengannya di hadapan Dong Wook.
Rasanya aku merindukan itu semua.

Krek…
Seseorang membuka pintu.
‘Siapa yang akan datang sesore ini,sekarang kan waktunya pulang sekolah,’ pikirku.
Namun,saat aku berbalik ingin mengetahui siapa kah wajah yang muncul.
“Oppa!” teriaknya.
“Min Young~a,buat apa kau datang ke sini?” aku berteriak galak.
Padahal aku tidak mau melakukan semua ini.
‘Mianhae,Min Young~a aku harus bersikap kasar terhadapmu,’ kataku dalam hati.
“Aku…aku hanya…”
“Sudahlah,aku sudah memutuskan tidak mengikuti bimbel lagi,jadi tidak perlu datang ke sini lagi!”
“Hajiman….”
“Sudahlah aku mau pulang!”
Aku mengambil tas ranselku di atas meja lalu meninggalkannya sendirian.
Aku dapat melihat wajahnya itu,ia terlihat sedih dan lesu,ia tidak terlihat seperti Min Young yang seperti biasanya.
Tetapi,aku berpikir mungkin jika ia bersamanya ia akan lebih bahagia daripada bersamaku.
--------------------------------------------------
Min Young hanya dapat terpaku saat Seung Hyun berkata dengan nada seperti itu terhadapnya.
Saat Seung Hyun meninggalkannya sendiri,ia hanya dapat diam dan tidak berkata-kata.
‘Eun Hye memang benar,dirinya yang dulu sudah kembali…tetapi mengapa? Mengapa ia berubah begitu cepat? Aku ingin sekali melihat Seung Hyun yang biasa aku panggil Oppa muncul kembali…Seung Hyun yang memiliki sifat jauh dari pikiran orang selama ini.’
Kata-kata itu tidak henti-hentinya diteriakan Min Young dalam hati.
Setelah Seung Hyun pergi,ia tidak langsung pulang,namun ia masih terus menatap ruang kelas dengan tatapan yang kosong sambil menangis.
--------------------------------------------------
Keesokkan harinya,Seung Ri yang sudah keluar dari rumah sakit masih saja dilarang Ommanya untuk masuk sekolah jadi akibatnya ia merasa bosan dengan aktfitas di rumahnya.

Seung Ri POV
Hari ini benar-benar membosankan.
Seharian aku dikurung di rumah,sementara yang lainnya dapat bersenang-senang di luar sana.
Aku ingin sekali berjalan-jalan di luar.
Sudah cukup kebosanan terus meliputiku saat di rumah sakit dan sekarang saatnya aku merasakan kebebasan lagi.
Lagipula Omma memang ada-ada saja,keadaanku sekarang sudah benar-benar baik jadi tidak perlu mengkhawatirkanku.
--------------------------------------------------
Seung Ri mengendap-endap keluar dari kamarnya.
Ia menengok keadaan di kanan dan kiri.
Ia takut Ommanya mengetahui niatnya untuk kabur.
Setelah keadaan aman,ia mulai keluar rumah dan berlari sekencang-kencangnya.

‘Untung saja Omma tidak di rumah dan akhirnya aku bisa menghirup kebebasan lagi,’ kata Seung Ri dalam hati.
Pada awalnya ia hanya berniat berjalan-jalan di dekat sekolahnya.
Sudah rindu rasanya tidak melihat bangunan itu,namun ia hanya dapat melihat dari luar saja karena sekarang akitifitas di dalamnya masih berjalan.
‘Sebaiknya ke mana aku harus pergi?’ tanyanya dalam hati.
Setelah berpikir agak lama akhirnya ia ingat kembali akan tujuannya kemarin.
-------------------------------------------------
Seung Ri POV
Akhirnya aku bisa datang ke bangunan ini lagi.
Aku sudah tidak sabar melihat wajah dan senyumannya itu.
Aku berlari menuju lantai dua,dan segera mengetuk pintu kamar di sebelah kamar Seung Hyun Hyung.
“Hee Sung~a!” kuketuk berkali-kali pintu itu sambil berteriak.
“Nuguseo?!” teriak seseorang dari dalam.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu karena aku ingin kedatanganku di sini menjadi suatu kejutan untuk dirinya.
Kemudian pintu pun dibuka,aku melihat seorang wanita yang terlihat pekerjaannya.
Ia mengalungi meteran baju dan kain-kain di lehernya.
Namun,melihat hal itu aku hanya tersenyum dan langsung memeluknya.
Aku dapat melihat wajah kagetnya saat aku berlaku begitu kepadanya.
Aku berharap ia membalas pelukanku ini,tetapi semua itu lain.
“Ya! Lepaskan aku!” teriaknya sambil memukul punggungku.
Aku melepaskannya dan bertanya,”waeyo? Kau tidak kangen padaku?”
“Anio!” katanya galak.
“Sudah pergi sana! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!”
Aku belum sempat memberi penjelasan,tetapi Hee Sung sudah membanting pintu dengan keras.

Rasanya semua usahaku sia-sia belaka.
Demi datang ke sini padahal aku harus menerima caci maki dari Omma,tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja.
Aku harus bisa mengembalikan sifatnya yang dulu.
-----------------------------------------------------
Di balik pintu,Hee Sung langsung terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya sambil berkata-kata kepada dirinya sendiri.
“Seung Ri~a,mengapa kau datang ke sini?” katanya parau.
“Aku sudah berusaha untuk melupakanmu,tetapi mengapa kau datang lagi ke sini dan membuatku ingat akan dirimu lagi.”
“Aku tidak pantas berada di dekatmu,karena aku ini sumber kesialan atas dirimu,jika kau dekat-dekat denganku maka kau akan tertimpa bencana lagi.”
Hee Sung masih tidak sanggup bangkit berdiri,ia masih saja terus menyalahkan dirinya terhadap semua kecelakaan itu.
--------------------------------------------------------
Sementara,Seung Ri dengan wajah kecewa menuruni anak tangga.
Kepalanya tertunduk lesu.
“Ya! Seung Ri!” teriak seseorang.
Seung Ri yang mendengar panggilan itu segera menoleh dan menyahut,”Hyung!”
Kedua orang ini sama-sama kaget.
Seung Hyun kaget akan kedatangan Seung Ri di apartemennya karena setahunya Seung Ri seharusnya masih berada di rumah dan masih harus beristirahat.
Sedangkan,Seung Ri terkejut dengan kedatangan Seung Hyun karena walaupun ini merupakan apartemennya,tetapi saat ini masih jam sekolah oleh karena itu seharusnya Seung Hyun masih berada di sekolah.
“Hyung mengapa sudah pulang?” tanya Seung Ri penasaran.
Seung Hyun malah tidak menjawab pertanyaan itu dan balik bertanya,”kau sendiri bukannya baru sembuh jadi mengapa kau bisa pergi ke sini?”
Seung Hyun juga tidak menjawab,namun Seung Ri sudah tahu alasannya.
“Kau membolos lagi,Hyung?” tanya Seung Ri.
“Bisa dibilang iya,aku sedang tidak ada semangat,” jawab Seung Hyun santai.
“Tumben,biasanya kau sangat semangat ingin pergi ke sekolah,agar bisa bertemu dengan Min Young,benar kan?” goda Seung Ri.
“Sudahlah,kau jangan pernah sebut nama itu lagi,hubungan kami sudah berakhir,” jelas Seung Hyun.
“Mwo? Waeyo?” Seugn Ri kaget begitu mendengar penjelasan itu.
“Bukan karena apa-apa,tetapi demi kebaikanku dan Min Young,” kata Seung Hyun singkat.
“Hyung~a,aku boleh mampir ke apartemenmu tidak?” tanya Seung Ri.
“Silahkan saja,aku tahu pasti kau takut pulang ke rumah kan?” goda Seung Hyun.
Seung Ri yang tahu rahasianya terbongkar hanya bisa tertawa malu.
------------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Kebetulan Seung Ri mampir,aku akhirnya dapat bercerita dengannya.
Mungkin aku juga akan bercerita tentang keputusan terakhirku.
Aku juga mengetahui masalahnya dengan Hee Sung dan aku rasa perjuangannya lebih berat dibandingkan perjuanganku dulu mendapatkan Min Young.
------------------------------------------------------
Seung Hyun mempersilahkan Seung Ri duduk di sofa,sembari ia meletakkan ranselnya.
“Hyung~a,sebenarnya kau ada masalah apa dengan Min Young?” tanya Seung Ri yang masih juga penasaran.
“Kau sendiri sekarang masih ditolak oleh Hee Sung?” Seung Hyun malah bertanya balik dan mengalihkan pembicaraan.
“Iya begitulah…aku bingung dengannya,padahal waktu itu ia yang mencegahku untuk pergi,tetapi saat aku kunjungi dia,dia malah menyuruhku untuk menjauhinya,” kata Seung Ri lesu.
“Maksudmu? Memang kapan ia mencegahmu pergi?”
Akhirnya Seung Ri menceritakan tentang mimpi yang dialaminya itu,sebuah mimpi yang merupakan penentuan antara kehidupan dan kematian.

“Aku rasa Hee Sung hanya menipu perasaannya sendiri,aku yakin ia juga memiliki perasaan terhadapmu,tetapi mungkin karena Omma mu itu,” Seung Hyun memberikan semangat.
Seung Ri berpikir sejenak mengenai kata-kata Hyungnya itu.
‘Mungkin kata-kata Hyung benar,aku harus berusaha menunjukan cintaku sekali lagi padanya agar ia mengakuinya,’ pikir Seung Ri dalam hati.
“Seung Ri~a,aku rasa saat kau bisa mendapatkan hatinya,kau juga harus bisa menghadapi Omma mu itu,ia salah paham atas Hee Sung selama ini,” lanjut Seung Hyun.
“Baiklah Hyung,nasihatmu itu sungguh keren haha…” balas Seung Ri.
“Oh yah,ngomong-ngomong Hyung sebenarnya ada masalah apa dengan Min Young? Bukankah hubungan kalian waktu itu masih baik-baik saja?” tanya Seung Ri lagi.
Kali ini Seung Hyun tidak dapat mengelak lagi.
“Min Young….Min Young sudah dapat laki-laki yang lebih baik daripada diriku,” kata Seung Hyun pelan.
“Lebih baik ia memiliki pengganti yang benar-benar menyayanginya itu daripada ia terus-terusan bersamaku,” Seung Hyun masih saja menyalahkan dirinya.
“Sudahlah Hyung,” Seung Ri mencoba menghibur.
“Seung Ri~a,kau adalah satu-satunya orang yang kuberitahu mengenai rencanaku ini,” kata Seung Hyun.
“Kemarin Omma meneleponku dan memberitahuku bahwa Appaku mengirimku ke Jepang.”
“Mwo?! Hyung~a! Jinja?”
------------------------------------------------------------

Characters in this Chapter :
-Kim Min Young : murid yang baru naik kelas ke SMA yang hobinya dengerin musik
-Seung Hyun (TOP) : anak “beradalan”,kakak kelas Min Young,personil dari Big Bang
-Seung Ri (Victory) : temen sekelas sama Min Young yang juga personil Big Bang termuda
-Min Hee Sung : tetangga baru Seung Hyun yang ditaksir Seung Ri
-Young Bae (Tae Yang) : temen sekelasnya Seung Hyun dan personil dari Big Bang
-Ji Yong (G Dragon) : member Big Bang yang jago membuat lirik
-Dae Sung (D-Lite) : member Big Bang


Chapter 14

“Kemarin Omma meneleponku dan memberitahuku bahwa Appaku mengirimku ke Jepang.”
“Mwo?! Hyung~a! Jinja?” tanya Seung Ri yang kaget dengan apa yang barusan diucapkan oleh Seung Hyun.
Seung Hyun hanya menunduk dan terlihat frustasi.
“Hyung!” bentak Seung Ri.
“Kau tidak bisa bertindak begitu,di sini masih banyak yang masih membutuhkanmu,” lanjutnya.
“Aku tahu akan hal itu,tetapi sebaiknya aku pergi..aku ingin melupakannya,siapa tahu jika aku tidak melihatnya dalam jangka waktu yang lama,aku akan bisa melupakannya,” jawab Seung Hyun lemah.
Seung Ri tidak bisa membalas kata-kata Seung Hyun setelah mendengarkan alasan darinya.
“Hyung,memang kapan kau akan berangkat?” tanya Seung Ri.
“Mungkin hari Sabtu,” balas Seung Hyun.
“Omona,cepat sekali? Kau hanya memiliki waktu dua hari lagi?” tanya Seung Ri kaget.
Seung Hyun hanya diam sambil memikirkan kembali keputusan yang diambilnya ini.
---------------------------------------------
Ting...Tong...Ting...Tong....
Bel tanda berakhirnya sekolah telah berkumandang.
Min Young terlihat berbeda,apalagi sejak dirinya kemarin bertemu lagi dengan Seung Hyun.
Namun,sifat penasaran dan ingin tahunya sama sekali tidak berubah.
Walaupun Seung Hyun sudah menolak kehadirannya kemarin,tetapi hari ini ia ingin sekali melihat wajahnya.

Min Young POV
Aku berjalan menyusuri lorong yang kemarin aku susuri.
Walaupun kemarin dirinya melarangku untuk datang ke tempat itu,namun hatiku rasanya tidak tenang.
Aku merasa masih membutuhkan dirinya.
Sekarang walaupun ia sudah tidak menjadi milikku lagi,tetapi rasanya aku masih belum sanggup kehilangan dirinya.

Kelasnya tampak hening seperti biasanya.
Namun saat kubuka,aku tidak lagi melihat seseorang yang ingin kulihat.
Aku tidak lagi seseorang yang selalu bermalas-malasan di meja dekat jendela itu.
Aku hanya tertegun dan mengerti bahwa pasti hari ini Seung Hyun membolos lagi.
--------------------------------------------------------------
Keesokkan harinya Hee Sung masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
Selama dirinya menjaga Seung Ri waktu itu,banyak sekali pekerjaannya yang terbengkalai.

Kring....Kring...
Telepon di apartemen Hee Sung berdering.
“Yeoboseyo?” tanya Hee Sung.
“De,Mr.Kim saya akan segera menyelesaikan pesanan Anda besok,” lanjutnya.
Ternyata Hee Sung mendapatkan telepon dari pelanggan setianya.
Sudah seminggu ini Hee Sung dibanjiri pesanan pelanggan.
-------------------------------------------------------------
Sementara itu,Seung Ri berhasil memaksa Ommanya untuk mengizinkannya sekolah hari ini.
Namun,selama di sekolah dirinya sama sekali tidak dapat berkonsentrasi.
Seung Ri selalu saja memikirkan tentang keadaan Hee Sung yang kemarin mengusir dirinya dari apartemen.

Seung Ri POV
Mengapa Hee Sung masih menolakku?
Mungkin benar apa kata Hyung,mungkin saja Hee Sung hanya menipu perasaannya sendiri.
Tetapi,bagaiamana cara untuk membuktikan semua kebenaran itu?
Apa aku harus menunjukkan terlebih dahulu perasaanku terhadap dirinya?
------------------------------------------------------------
Hari sudah sangat malam,tetapi Hee Sung belum juga berhenti menyelesaikan pesanan pelanggannya itu.
“Ottoke?” tanya Hee Sung kepada dirinya yang sudah agak panik.
Kepanikan Hee Sung bertambah saat melihat bahan kain yang ia gunakan untuk membuat pesanan baju pelanggannya sudah tidak mencukupi.
Dengan segera Hee Sung mengganti bajunya dan pergi ke toko tempat biasanya ia membeli kain.

Setelah berjalan cukup jauh dari apartemennya,akhirnya ia sampai di sebuah pusat perbelanjaan.
‘Untung saja belum tutup!’ seru Hee Sung dalam hatinya.
Hee Sung segera melangkahkan kakinya ke dalam gedung pertokoan yang terlihat sudah agak sepi itu.
------------------------------------------------------------
Di saat yang sama...
Seung Ri sedang berjalan-jalan sebentar di sekitar rumahnya,tetapi tidak sengaja Seung Ri melewati sebuah gedung pertokoan sepi dan tiba-tiba ia menangkap sosok Hee Sung yang sedang memasuki gedung pertokoan tersebut.
Akan tetapi,Seung Ri yang tidak mengira akan bertemu dengan Hee Sung hanya dapat terpaku di tempatnya.

Seung Ri POV
‘Buat apa Hee Sung pergi ke tempat ini malam-malam begini?’ tanyaku dalam hati.
Tetapi,di sisi lain hatiku aku bertanya-tanya,’mungkinkah ini saatnya aku membuatnya dekat kembali denganku?’
Pertanyaan itu terus saja memenuhi kepalaku sejak tadi siang.

Dengan segenap keberanian yang kukumpulkan akhirnya aku mencoba menuruti keinginanku itu.
Aku mengikuti Hee Sung masuk ke dalam gedung pertokoan itu.
Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dan bersembunyi di pilar-pilar gedung.
Hee Sung nampaknya benar-benar kelelahan akan pekerjaannya.
Wajahnya sudah tidak secerah dulu saat kami pertama kali bertemu,ia terlihat pucat sekarang.

Setelah selesai berbelanja,Hee Sung membawa banyak kain sambil membaca selebaran.
Melihat kain-kain itu,aku menjadi ingin membantunya.
Tetapi aku bertanya kepada diriku,‘apakah ia akan menerima semua bantuanku dengan tulus seperti dulu?’
Sekejap pertanyaan itu muncul,aku baru ingat kalau tujuanku belum tercapai.
Akan tetapi,Hee Sung sudah keburu menekan tombol turun lift.
Aku hanya melihatnya dari kejauhan,dadaku rasanya ingin meledak dan ingin mengatakan semuanya,tetapi mengapa semuanya itu justru sulit sekali untuk diucapkan.

Saat Hee Sung hendak memasuki lift,tiba-tiba aku melihat suatu kejanggalan.
Bilik lift itu belum sampai di atas,tetapi pintu lift sudah terbuka.
Akan tetapi,Hee Sung masih terus berkonsentrasi membaca selebaran di tangannya dan hendak melangkah maju memasuki lift tanpa bilik itu.
“Hee Sung! Hee Sung!” sudah kuteriakkan namanya berkali-kali tetapi ia tidak mendengarnya.

BRAKK....
“TOLONG! TOLONG!” teriaknya dari dalam lorong lift.
Ia terjatuh dan sekarang berada di atas permukaan bilik lift yang tersangkut itu.
Aku segera berlari menghampiri lift yang pintunya masih terbuka itu.
Aku menengok dan melihat keadaannya.
“Hee Sung~a! Aku akan menolongmu! Changkaman!” teriakku.
“Seung Ri~a! Jangan tinggalkan aku lagi!” katanya dan aku tahu dari suaranya bahwa ia mulai menangis.
“De! Aku berjanji,tetapi tunggulah sebentar! Aku akan mencari bantuan!”
Aku melihat ke sekitar tempat itu,tetapi semuanya tidak ada orang.
Aku berlari sedikit untuk mencari bantuan,tetapi terlambat,toko-toko di sini semuanya sudah keburu tutup.
Akhirnya tanpa berpikir lagi aku memegang tali lift itu dan turun ke bawah untuk menolongnya.
Memang aku merasakan rasa perih dan panas yang amat sangat di kedua telapak tanganku itu,tetapi untukku itu bukan masalah demi menolongnya.
-----------------------------------------------------------
Seung Hyun berjalan menyusuri jalan dengan kepala tertunduk.
Ia kembali merenungkan keputusannya itu.
Sejenak Seung Hyun menatap langit di atasnya dan bertanya dalam hati.
‘Min Young~a,mengapa aku tidak dapat melupakanmu?’
Walaupun beratus-ratus kali pertanyaan itu muncul di kepalanya,tetapi kemudian Seung Hyun melanjutkan kembali perjalanan tanpa arah itu.
Sampai akhirnya ia berhenti dan menyadari tempat yang berada di hadapannya sekarang.
Tempat tersebut mungkin hanya sebuah rumah dan tempat yang sekarang dipijaknya itu memang hanya sebuah jalan sempit.
Bagi semua orang mungkin tempat itu hanya sebuah tempat yang tidak penting karena semuanya itu hanya biasa-biasa saja,tetapi bagi Seung Hyun tempat itu adalah kenangannya yang indah.
Namun,walaupun begitu Seung Hyun hanya dapat menyesali semuanya itu sekarang.
---------------------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Mengapa aku berhenti di tempat ini?
Sebenarnya apa yang aku pikirkan?
Aku memang rindu sekali dengan tempat ini.
Tempat yang dulu aku gunakan tertawa dan bercanda bersamanya,tempat yang aku gunakan untuk menangis dan menceritakan semua rahasiaku kepada dirinya.
Dan tempat ini juga yang aku gunakan untuk menyatakan perasaanku terhadapnya.
Rasanya ingin sekali memutar waktu untuk terakhir kalinya dan melihat semua itu.
Rasanya aku ingin kembali ke masa-masa itu,masa di mana aku merasa ada yang selalu membuat hidupku ini berarti,masa di mana akau merasa bahwa ada seseorang yang mengisi kehidupanku yang biasa-biasa saja ini.
Tetapi,pemutar waktu itu hanya khayalanku belaka.
Semuanya kenangan itu hanya dapat kusimpan dan kusesali saja.
--------------------------------------------------------------
Min Young POV
Entah mengapa saat kubuka jendelaku tadi aku melihat sosok Seung Hyun di depan rumahku?
Apakah itu semua hanya halusinasiku saja?
Mungkin aku terlalu rindu akan dirinya.
Hari ini aku sudah tidak melihat wajahnya lagi di sekolah,ia kembali membolos seperti kebiasaanya yang lalu itu.
Tetapi,mengapa aku memiliki perasaan bahwa aku tidak akan melihat wajahnya lagi?
--------------------------------------------------------------
Seung Ri akhirnya berhasil mengeluarkan Hee Sung dari lorong lift itu.
Sekarang Hee Sung mengulurkan tangannya.
Lalu Seung Ri dengan menahan rasa sakit di telapak tangannya itu akhirnya menggapai tangan Hee Sung.

Hee Sung POV
Tanpa sadar aku memeluk Seung Ri saat diri berhasil keluar setelah menolongku.
Aku menangis di pelukannya yang hangat itu.
“Hee Sung,gwenchana?” tanyanya.
Aku hanya menjawab pertanyaan itu dengan sebuah gelengan lemah dan air mata.
“Hee Sung~a,sudah...kita sudah selamat,” katanya mencoba menenangkan diriku.
Mendengar hal itu,pikiran dan hatiku menjadi lebih tenang.
“Seung Ri~a,gamsahaeyo...” kataku lirih.
Ia memelukku lebih erat.
“Aku akan melakukan segalanya untukmu karena aku sudah berjanji padamu sebelumnya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun,” katanya.
Aku memang tidak pernah mendengarkan janji seperti itu dari mulutnya,tetapi aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku.
‘Saranghaeyo,’ kata itu kembali kuucapkan tetapi hanya di dalam hati.
Melihat apa yang dilakukannya barusan,aku menjadi teringat akan peristiwa mengerikan yang disebabkan oleh diriku dan itu semua yang membuatku hanya dapat mengucapkan kata itu dalam hati.

Seung Ri membantuku berdiri.
Aku menggapai tangan yang ia ulurkan itu,namun saat kutarik kembali tanganku darinya.
Aku melihat bercak darah di telapak tanganku ini,tetapi anehnya tanganku sama sekali tidak merasa sakit.
Kemudian aku melihat ke arah Seung Ri,lalu aku mengarahkan pandanganku ke arah tangannya.
“Omona! Seung Ri!”
Aku mengangkat telapak tangannya itu.
Banyak sekali luka-luka dan darah yang sudah menodainya.
Ia mencoba menarik kembali tangannya yang kuperhatikan itu.
“Gwenchana,Hee Sung~a..”
“Gojimal! Kau ini benar-benar....”
“Sudahlah,ayo kita pulang..lupakan hal itu Hee Sung,luka-luka itu tidak terlalu parah.”
Seung Ri mengambil plastik belanjaan yang ada di sebelahku sambil agak meringis dan dapat kulihat bahwa sebenarnya ia mencoba menyembunyikan rasa sakit itu di depanku.
“Terserah kau mau menyembunyikan rasa sakit itu di depanku atau tidak...tetapi pokoknya kau harus mampir ke apartemenku dulu hari ini,” jelasku.
Akhirnya kami bahu-membahu membawa belanjaan yang banyak itu menuju apartemenku.
------------------------------------------------------------
Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam,namun Seung Hyun masih saja berkutat dengan selembar kertas dan pena yang tertata di hadapannya.
‘Mengapa untuk mengucapkan sebuah kalimat perpisahan itu sangat sulit,’ tanyanya dalam hati.
Seung Hyun mulai menulis kembali.
Ia bingung harus menulis dari mana.
Ia juga sebenarnya tidak rela meninggalkan kenangan-kenangan yang ditulisnya itu.

Seung Hyun POV
Aku merasa hari ini berlalu dengan sangat cepat.
Rasanya baru tadi aku berjalan di depan rumahnya dan meningat segala sesuatu tentang dirinya,tetapi entah mengapa sekarang aku harus segera melupakan dan meninggalkannya.
Tetapi,itulah kenyataannya dan semuanya memang harus terjadi.

Kulipat surat itu dan kumasukan ke dalam sebuah amplop putih yang bertuliskan namanya.
‘Min Young,aku harap kau menerima surat ini dengan bahagia karena aku ingin melihatmu bahagia seperti sebelum kau bertemu denganku dulu,’ aku kembali bergumam sambil menutup amplop itu.

Aku berencana untuk menitipkannya pada Hee Sung,walaupun ia sering bertemu dengan Min Young.
Tetapi,setidaknya hubungan mereka masih baik-baik saja dan aku yakin ia pasti mau membantuku untuk memberikan surat itu kepada Min Young.

Tok....Tok....Tok......
“Hee Sung~a!” aku berteriak memanggil namanya,tetapi sepertinya ia sedang keluar mungkin.
Tetapi,jarang-jarang ia keluar pada saat tengah malam begini.

Ya sudahlah,lebih baik aku membuat notes untuknya dan memasukkan surat ini di bawah lubang pintunya.
-----------------------------------------------------------
“Seung Ri,pali!” Hee Sung menaiki anak tangga di apartemennya dengan lincah.
Sementara Seung Ri yang tertinggal agak jauh di belakang hanya tertawa sambil menahan rasa sakit di kedua telapak tangannya itu.

Kreekk.....
Pintu apartemen Hee Sung terbuka.
‘Omona! Aku baru menyadari bahwa selama ini aku membiarkan apartemenku dalam keadaan kotor seperti ini,’ gumam Hee Sung.
“Hee Sung~a,waeyo? Ayo masuk,” ajak Seung Ri.
“De,mianhae kalau kondisinya tidak seperti yang kau harapkan,” Hee Sung hanya dapat mengatakan kata maaf sambil tersenyum atas keadaan apartemennya itu.
“Gwenchana,oh yah....barang-barang ini harus kuletakkan di mana?” tanya Seung Ri.
“Oh...di sini saja,” Hee Sung menunjukkan meja kerjanya yang berantakan itu.
“Arasseo,” jawab Seung Ri.
“Oke,aku pulang dulu,” pamit Seung Ri.
“Mwo? Changkaman! Kau harus duduk di sana,” perintah Hee Sung sambil mengambil kotak obatnya.
Seung Ri dengan terpaksa akhirnya duduk di sofa ruang tengah.
“Mana tanganmu? Sini,mau aku obati.”
“Hee Sung~a,gwenchana..aku bisa melakukannya sendiri kok.”
“Pali!”
Akhirnya Hee Sung menarik tangan Seung Ri dan membersihkan lukannya itu.
Seung Ri yang awalnya menolak,akhirnya hanya bisa diam dan tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Hee Sung itu.
“Seung Ri~a,sebenarnya apa yang kau lakukan tadi? Jangan-jangan kau mengikuti aku secara diam-diam lagi seperti dulu? Benar kan?” tanya Hee Sung sambil mengobati luka Seung Ri.
Seung Ri hanya tersenyum mendengar pertanyaan Hee Sung barusan.
“Kau mau tahu mengapa aku melakukan semua itu?”
“Memang karena apa?”
“Karena....Noona....”
“Hah?”
Belum sempat Hee Sung melanjutkan kata-katanya,tetapi bibir Seung Ri sudah terlebih dulu menempel pada bibirnya.

Hee Sung POV
“Kau mau tahu mengapa aku melakukan semua itu?”
“Memang karena apa?”
“Karena....Noona....”
“Hah?”
Tiba-tiba bibir Seung Ri menempel pada bibirku.
Aku begitu kaget,tetapi kali ini anehnya aku tidak mau menolak semuanya itu.
Aku justru menerimanya,tetapi saat aku merasakan bibrnya yang hangat itu,aku mulai meneteskan air mataku lagi.
Aku dorong badannya menjauhi diriku.
“Cukup,Seung Ri...aku akan merasa bersalah melakukan hal ini,” teriakku.
“Hee Sung~a,sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau memiliki perasaan yang sama terhadapku juga kan?”
Aku hanya diam mendengar kata-katanya itu.
“Tetapi aku yang salah,aku yang membuatmu celaka waktu itu,” aku membantahnya dan menangis.
“Sudahlah,semua itu adalah kecelakaan dan itu bukan salahmu,” ia memelukku lagi.
“Dan lagipula...kau yang menyelamatkanku sebenarnya,” bisiknya.
“Saat aku hendak menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan dunia ini,kau yang memanggilku dan saat itu pula aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu lagi,” jelasnya.
Begitu mendengarkan penjelasannya itu,aku menjadi mengerti akan kata-kata yang diucapkannya di lift dan aku terharu dengan kesetiaannya itu.
“Seung Ri~a,saranghae,” bisikku.
Tanpa kusadari,kata-kata itu keluar dari mulutku,tetapi aku senang.
“Na do saranghae,Hee Sung~a,” balasnya.
Ia berniat menciumku kembali tetapi aku malah menahannya dengan sebuah pertanyaan konyol.
“Aku takut akan Omma mu itu,waktu itu aku berjanji kepadanya bahwa aku tidak akan mendekatimu lagi,tetapi sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Hee Sung.
“Aku akan menjelaskan semua ini kepada Omma,tetapi kau harus percaya kepadaku bahwa semua ini pasti akan kita lewati,dan satu lagi....kau jangan pernah menjauhi diriku lagi,” katanya.
----------------------------------------------------------

Label:


Rabu, 21 Oktober 2009

Akhirnya gw putuskan juga posting ni Fan Fic (FF) hari ini haha...
Awalnya mau dipost minggu depan,biar samaan ma di forum gitu..
Tapi kasian si Nadila yang nunggu hehe...
ya udah deh..pesan gw cuma kayak biasa deh...komen..komen en komen haha...

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Hate U, Love U


“SHIRO!” teriakkan keras itu keluar dari ruang kerja Appa Ki Bum.
“Andwe! Kau harus menikahinya!” teriak Appa.
“Shiro,Appa! Aku sama sekali tidak mencintainya! Lagipula mengapa aku harus menikah dengan gadis itu?! Aku sama sekali tidak mengenalnya!” teriak Ki Bum tidak terima.
“Appa tidak mau tahu!” wajah Appa sudah mulai geram.
“Sudahlah,chaggya...” Omma Ki Bum yang berada di ruangan itu berusaha membuat suasana kembali tenang.
“Ki Bum~a,mengertilah sedikit...perusahaan tuan Lee telah banyak membantu perusahaan kita,jadi sesuai dengan kesepakatan...kau akan dinikahkan dengan anak perempuannya,” Omma mencoba untuk menjelaskannya,tetapi Ki Bum tetap saja tidak terima.
“Appa! Omma! Kalian benar-benar tidak memikirkan perasaanku!” pekik Ki Bum yang berniat meninggalkan ruangan.
“Araseo! Kalian tidak perlu menikah dulu! Tetapi Appa putuskan kalian harus tinggal bersama mulai minggu depan,kalau kau tidak mau Appa akan menarik semua fasilitas yang Appa berikan semua kepadamu selama ini!” Appa mengambil keputusan tegas.
Ki Bum yang berniat membanting pintu langsung segera mematung mendengar peringatan Appa barusan.
Ia mulai memikirkan tentang segala fasilitas yang diberikan Appanya.
Mulai dari kartu kredit,rumah mewah,mobil keluaran terbaru.
Semuanya itu akan lenyap jika ia berniat untuk menolak perjodohan gila itu.
Akhirnya dengan berat hati Ki Bum berbalik dan setuju dengan semua itu.
------------------------------------------------
Seminggu kemudian...

Young Mi POV
Wah,ternyata apartemen yang Appa sediakan begitu mewah.
Aku sebenarnya tidak begitu mengharapkan semua ini.
Tetapi,yang terpenting adalah aku penasaran dengan pemuda yang bernama Kim Ki Bum itu.
Semoga saja dia orang yang baik.
-----------------------------------------------
Aku hendak membuka pintu apartemen,namun sebuah tangan sudah mendahuluiku.
“Ya! Nugu?” tanyanya dengan wajah ketus.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaannya itu.
Aku terpaku memperhatikan wajahnya itu.
‘Wah,jangan-jangan dia yang bernama Kim Ki Bum,’ jantungku berdebar tidak karuan.
“Ya!” ia membuyarkan lamunanku.
“Jeosong-hamnida...naneun Lee Young Mi imnida...” jawabku gugup.
Ia membalas perkenalanku dengan sebuah senyum sengak yang merendahkan.
Aku mengerutkan keningku dan bingung dengan sikapnya barusan.
“Jadi kau yang menghancurkan hidupku!” teriaknya tidak puas.
‘Ye? Apa aku tidak salah dengar? Mendengar jawabannya aku langsung tahu bahwa dialah Kim Ki Bum yang dijodohkan denganku,tetapi aku sama sekali tidak menyangka bahwa sifatnya akan berubah seperti ini,’ pikirku sambil termenung mendengarkan omelannya yang begitu panjang dan menyesakkan.
“Ya! Geumanhae! Siapa yang ingin menghancurkan hidupmu?! Kau sendiri yang setuju untuk tinggal di sini kan? Kalau kau tidak mau sebaiknya kau tidak perlu masuk karena apartemen itu berstatus milik Appa ku!” aku berbalik mengancamnya.
Akhirnya ia diam begitu mendengar ancamanku barusan dan menerobos masuk ke dalam apartemen sambil membawa barang-barangnya tanpa mempedulikan diriku.
End of Young Mi POV
-------------------------------------------
Suasana di dalam apartemen Ki Bum dan Young Mi tidak kunjung berubah.
Kesunyian dan ketidak perdulian menyelimuti mereka berdua.
Ki Bum selalu menganggap bahwa Young Mi tidak ada,Young Mi yang tidak dianggap juga berpura-pura menyibukkan diri.

Malam pun tiba dan itu pun menjadi sebuah masalah bagi mereka.
“Ya! Ini semua gara-gara kau! Jadi kau tidur di luar!” teriak Ki Bum.
“Mwo?! Kenapa tidak kau saja! Lagipula jangan menyalahkan diriku,aku tidak tahu kalau di sini hanya ada satu tempat tidur!” protes Young Mi.
“Aku?! Aku harus tidur di luar?! Seharusnya itu dirimu!” Ki Bum melemparkan seluruh perlengkapan tidur Young Mi keluar.
“Ya! Kau ini benar-benar laki-laki yang tidak berperasaan!” teriak Young Mi marah.
“Kau yang sebenarnya mati rasa! Kau yang telah mengusik hidupku dan merusaknya!”
Tanpa berperasaan lagi Ki Bum mendorong Young Mi keluar kamar,Young Mi terjatuh di lantai.
BLAM!
Ki Bum menutup pintu dengan keras dan membiarkan Young Mi tidur di ruang tengah.

Young Mi yang tadi terduduk di lantai tidak sadar meneteskan air matanya.
‘Ki Bum~a..kau sama sekali tidak seperti Ki Bum yang diceritakan Appa..’ gumamnya dalam hati.
Hatinya perih seperti dirajam beribu-ribu pisau rasanya.
Hari yang ia bayangkan akan menjadi hari yang indah malah rusak seketika.
Ia tidak menyangka bahwa Ki Bum yang dijodohkan dengannya adalah Ki Bum yang tidak berperasaan seperti itu.

Young Mi berusaha bertahan,ia mengambil selimut dan bantal yang berserakkan di dekatnya.
Menyeretnya dengan pelan menuju ke atas sofa.
Malam ini terpaksa ia habiskan di atas sebuah sofa.
Walaupun sofa yang ia tidurinya itu empuk dan mewah,ia sama sekali tidak merasakan kenyamanan atas segalanya itu.
--------------------------------------------
Ki Bum POV
“Ki Bum~a irona!” teriak seseorang sambil mengetuk pintu kamar.
Mataku rasanya sulit sekali untuk dibuka.
Namun setelah lama aku mencoba untuk mengedipkannya,aku dapat melihat segala di sekelilingku.
Aku mulai menyadari bahwa aku tidak tidur di kamarku yang biasanya dan suara yang tadi memanggilku adalah suara Young Mi.
Iya,Young Mi...orang yang telah membuat hidupku tidak sama lagi.
Mengapa aku harus menjalani hidup dengan dia yang menyusahkan itu?

Aku bangkit dari tempat tidur dan membuka pintu.
“Mau sarapan?” tanyanya.
Biasa...dia hanya pura-pura baik dan aku tidak perlu mendengarkan kata-kata manisnya yang munafik itu.
Aku malas menjawab semua itu.
Aku keluar dari kamar sambil mengambil handukku dan berlalu menuju kamar mandi.
End of Ki Bum POV
-------------------------------------------------
Wajah Young Mi langsung kecewa saat Ki Bum tidak menganggapnya.
Ia sengaja bangun pagi-pagi untuk menyiapkan segalanya,namun sekarang Ki Bum justru menyia-yiakan semuanya itu.
Pikiran dan hati Young Mi mulai geram.
“Ya! Bisakah kau mengharagaiku sekali saja!” teriaknya kesal.
Ki Bum berbalik dan memasang tampang tidak berdosa ke arah Young Mi.
“Kau ini benar-benar...padahal aku sudah melupakan segala hal yang terjadi tadi malam dan berusaha memperlakukan dirimu dengan baik,namun apa balasanmu sekarang?! Kau malah tidak menganggapnya begitu saja!”
Amarah Young Mi sudah benar-benar tidak dapat dibenung lagi.
Ia merasa dirinya direndahkan dan diacuhkan begitu saja.
Namun,Ki Bum masih saja berpura-pura tidak menyadari semua perbuatannya yang melukai hati Young Mi itu.
“Oh begitu...gamasahae karena kau sudah melupakannya,tetapi kau tidak peduli dengan semua kata-kata manis tipuanmu itu!” Ki Bum berbalik kembali dan melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Young Mi yang merasa sudah benar-benar tersakiti oleh kata-katanya itu hanya dapat menangis sambil berlari membuka pintu apartemen dan membantingnya keras-keras.
BLAM!!!
--------------------------------------------------
Young Mi POV
Aku membanting pintu apartemen dan berlari keluar sekencang yang kubisa.
Hatiku ini rasanya ingin meledak.
Aku sudah tidak bisa menahan ini semua.
Mengapa saat aku berusaha untuk memperlakukannya dengan baik dan tulus,ia justru menganggapku munafik.
Sebenarnya apa sih maunya?!
-------------------------------------------------
Aku hendak kembali ke apartemen dan membereskan semua pekerjaanku yang tadi sempat terlupakan akibat sakit hatiku ini.
Aku akan mencoba untuk melupakan masalah barusan seperti tadi malam.
Tetapi saat aku hendak memasuki gedung apartemen,langkahku terhenti seketika.
Sebuah pemandangan menyesakkan kembali menghadangku.
Aku melihat Ki Bum hendak keluar dari gedung sambil menggandeng mesra seseorang wanita.
Hatiku rasanya seperti disayat-sayat sebilah pisau.
Walaupun aku membenci caranya memperlakukan diriku,tetapi mengapa perasaan cemburu ini masih saja mendorong untuk keluar.
Aku mencoba menahannya dengan mengigit bibir bawahku kesal.
‘KI BUM~A,KAU BENAR-BENAR MEMBUATKU GILA!!’ hanya kata-kata itulah yang dapat kuteriakkan dalam hati.
Entah mengapa saat pertama kali Appa menceritakan tentang dirinya kepadaku,aku langsung tertarik akan segala tentang dirinya.
Mulai dari sifatnya,kebiasaannya,dan hal lainnya.
Semua itu seolah-olah seperti magnet yang menarikku.
Tetapi mengapa saat aku bertemu dengannya secara langsung,semua itu langsung berubah.
Ia tidak seperti yang diceritakan Appa.
Namun walau begitu,mengapa diriku masih saja tidak bisa menghapus perasaan ini.
End of Young Mi POV
----------------------------------------------------
Ki Bum dengan santainya melangkah pergi dari apartemen sambil mengandeng Hae Yeon,wanita yang disewanya itu.
Raut wajahnya sama sekali tidak menggambarkan perasaan bersalah.
Ia hanya menganggap Young Mi hanya sebagai seorang yang munafik.
Orang yang hanya mengganggu dirinya saja.

“Ki Bum~a,hari ini kita mau pergi ke mana?” tanya Hae Yeon dengan gaya sok manis di depan Ki Bum.
“Hari ini kita bersenang-senang saja,chaggya...” Ki Bum tersenyum ke arah Hae Yeon.
Mereka berjalan meninggalkan apartemen.
----------------------------------------------------
Setelah hidup tanpa mengawasan dari orang tuanya,Ki Bum semakin menjadi.
Tiga bulan tidak terasa sudah ia habiskan di sebuah apartemen bersama dengan Young Mi yang tidak dicintainya itu dan setiap hari kerjaannya selalu pergi dengan wanita-wanita yang tidak jelas asal usulnya tanpa merasa bersalah kepada Young Mi terhadap semua yang telah ia lakukan itu.

Setiap hari ia selalu menghidari komunikasi dengan Young Mi.
Jika ada komunikasi pun,mereka selalu mengawali dan mengakhirinya dengan teriakkan,amarah,dan tangisan.
Young Mi yang awalnya mencoba bertahan,lama-kelamaan pun semakin tertekan.
Tetapi anehnya saat ia hendak menyerah akan semuanya itu,selalu ada suatu perasaan yang membuatnya bertahan dan menghadapi itu semua dengan lapang dada.
---------------------------------------------------
Ki Bum POV
Hari ini rasanya lelah sekali.
Aku merasa badanku akan terserang demam dan rasa dingin serasa menusuk kulitku ini.
Aku membuka pintu apartemen.
Hari ini berbeda...
Ke mana Young Mi? Aneh sekali,biasanya jam segini ia pasti sudah sampai.
Ahh~ sudahlah buat apa aku memikirkan dirinya yang tidak penting itu.
Lebih baik sekarang aku beristirahat sebentar di sofa.
Mungkin itu akan mengurangi rasa lelahku.
End of Ki Bum POV
----------------------------------------------------
Young Mi POV
‘Mengapa apartemenku gelap sekali? Apa Ki Bum belum pulang?’ gumamku sambil membuka pintu.
Hari ini aku memang banyak urusan jadi aku pulang agak telat.
Tetapi mengapa Ki Bum tidak menyalakan lampu?

Aku melangkahkan kakiku perlahan menuju tombol lampu.
‘Ki Bum benar-benar aneh,apakah dia terlalu berhemat listrik sampai-sampai ia tidak menyalakan lampu pada saat malam hari?’
“Ki Bum~a!” aku memanggil Ki Bum,siapa tahu saja ia belum pulang.
Namun saat aku melewati ruang tengah,aku baru sadar bahwa ia sedang tertidur di sana.
“Ki Bum~a,pali irona...kalau mau tidur jangan di sini,sana pindah saja ke kamar,” suruhku.
Ia tidak menjawabku.
Aku bingung dengan sikapnya,biasanya jika kupanggil pasti ia akan marah-marah,apalagi jika aku mengusik tidurnya,tetapi mengapa hari ini ia berbeda?

Aku mendekatkan wajahku ke wajahnya dan memperhatikan wajahnya dengan jelas.
Wajahnya basah karena bulir-bulir keringkat dan lama-kelamaan baru aku mengetahui bahwa ia menggigil kedinginan.
Melihat semua itu,hatiku langsung dipenuhi oleh perasaan khawatir.
Kuletakkan tanganku perlahan di dahinya.
‘Omona..dia terserang demam tinggi,’ kagetku dalam hati.
Akhirnya dengan hati-hati aku membangunkannya,kemudian aku memapah dirinya yang setengah sadar itu menuju kamar dan membaringkan dirinya di atas tempat tidur.
Setelah itu aku berlari menuju dapur,mengisi sebuah ember dengan air dingin dan mengambil sebuah handuk dari lemari.
Aku mengompres dahinya itu kemudian memberikan obat penurun demam.
----------------------------------------------
Aku sudah membiarkannya tidur di dalam kamar,tetapi mengapa perasaan hatiku tidak tenang?
Aku benar-benar tidak bisa tidur dengan perasaan gundah seperti ini.
Setelah menimbang-nimbang cukup lama,akhirnya kuputuskan untuk tidur di kamar menemaninya malam ini.
Aku sudah tidak peduli dengan omelannya besok pagi,yang penting aku bisa melihatnya sehat kembali,semua itu sudah membuatku senang walaupun diomeli.

Aku membawa perlengkapan tidurku dari sofa yang biasa kupakai sebagai tempat tidur di malam hari.
Kemudian meletakkannya di lantai di sebelah tempat tidur Ki Bum.
Kujadikan bad cover-ku sebagai alas tidurku,walaupun aku masih dapat merasakan dinginnya lantai pada malam itu,tetapi setidaknya itu cukup empuk bagiku.
Kuletakkan bantal di atas bed-cover lalu aku membaringkan kepalaku.
Hari ini benar-benar hari yang melelahkan,tetapi mau apalagi semuanya itu harus kujalani.
Aku sepintas menujukan padanganku kepada wajah Ki Bum yang sudah tertidur nyenyak itu.
Wajahnya terlihat damai.
Ingin sekali rasanya melihat wajahnya yang seperti itu setiap hari,tetapi aku tahu itu semua hanya harapanku yang tidak akan tercapai selamanya.
Kepalaku sudah berat sekali rasanya dan mataku juga sudah merengek untuk dipejamkan.
Namun sebelum aku tertidur aku bangkit sebentar dari tempat tidurku yang seadaanya itu,lalu berbisik di telinga Ki Bum.
“Aku harap kau cepat sembuh dan dapat memarahiku lagi karena sekarang aku melanggar peraturan yang kau buat...”
End of Young Mi POV
----------------------------------------------------
Ki Bum POV
Rasa dingin itu kembali menggangguku.
Akhirnya dengan setengah terpaksa kubuka mataku.
Kualihakan mataku yang sayup itu menuju sebuah jam digital di meja nakas samping tempat tidurku.
02.00 AM
Ternyata sekarang baru jam dua pagi.
Rasa dingin ini benar-benar mengganggu,tetapi kucoba untuk menghiraukannya.

Aku hendak memejamkan mataku kembali,namun bahwa kusadari bahwa di atas dahiku ada sebuah handuk.
Handuk? Sebenarnya apa yang telah terjadi? Apakah tadi aku demam?
Lalu siapa yang meletakkan handuk ini?
Jangan-jangan...
Kepalaku mencoba untuk mengingat-ingat apa yang tadi telah terjadi.
Tadi saat aku setengah sadar,aku merasa ada yang memapahku dan membaringkan tubuhku di atas tempat tidur ini.
Ia memberiku obat,tetapi siapakah dia?

Aku hendak bangkit dari tempat tidurku untuk mencari tahu orang itu.
Tetapi saat aku mengangkat kepalaku.
Aku melihat Young Mi.
Iya,Young Mi...Ia tertidur di lantai yang hanya beralaskan bed covernya itu.
Awalnya aku hendak marah melihatnya tidur di kamarku.
Tetapi saat mendengar igauannya itu.
“Ki Bum~a...waeyo? Kau selalu memandangku munfaik...”
Kata-kata itu terlontar secara tidak sadar dari mulutnya itu.
Hatiku menjadi sedih.
Ia menangis dalam tidurnya.
Apakah ini selalu terjadi di dalam tidurnya setiap hari?
Mengapa aku menjadi iba melihat semua yang dilakukannya itu,dan aku yakin pasti dialah orang yang memapah dan merawat diriku.
Dia juga orang yang mengkhawatirkanku sampai-sampai rela tertidur di lantai yang begitu dingin itu.

Entah apa yang telah menghipnotisku malam ini.
Semua anggota tubuhku seperti di luar kendaliku.
Tanganku yang biasa kugunakan untuk berbuat kasar terhadapnya malam ini justru menginginkanku untuk membelai pipinya yang halus itu.
Menghapus air matanya yang sudah mulai mengering itu.
Lalu tubuhnya yang menggigil kedinginan itu seperti berteriak meminta pertolongan dari diriku.
Akhirnya aku menggendong tubuhnya itu dan membaringkannya di sebelahku.
Menyelimutinya dengan selimutku dan memeluknya untuk menghangatkannya.
End of Ki Bum POV
----------------------------------------------------
Pagi itu matahari bersinar sangat cerah dan sinarnya masuk melalui celah-celah jendela kamar.
Mata Young Mi mulai mengerjap pelan dan akhirnya semuanya terlihat jelas.
‘Ki Bum? Mengapa aku bisa di dalam pelukkannya?’
Hati Young Mi bingung sekaligus bahagia,namun secara tidak sadar ia kembali meneteskan air matanya.
“Waeyo?” suara Ki Bum tiba-tiba mengejutkannya.
“Anio,mengapa kau bangun?” tanya Young Mi yang mencoba menyembunyikan perasaan gugupnya.
“Tanganku basah jadi aku bangun...” jawab Ki Bum sambil tersenyum.
Jantung Young Mi langsung berdetak dua kali lebih cepat begitu melihat sikap Ki Bum yang begitu baik kepadanya.
“Ya sudah..aku mau ke dapur,” jawab Young Mi gugup.
Namun saat Young Mi hendak melepaskan pelukan Ki Bum,Ki Bum malah mempererat pelukannya itu.
“Changkamanyeo...bisakah aku merasakan hal ini lebih lama? Young Mi~a...mianhae...” kata Ki Bum pelan.
“Untuk apa?”
“Mianhae karena telah bersikap kasar kepadamu selama ini,mianhae karena telah melukai perasaanmu selama ini,mianhae karena selalu membentakmu....aku sengaja melakukan semua itu karena selama ini aku menganggapmu sebagai orang munafik...tetapi sekali lagi...jeongmal mianhae..” Ki Bum menempelkan dagunya di bahu Young Mi.
Young Mi yang mendengar kata-kata barusan langsung berbalik.
“Ki Bum~a...harusnya aku yang berkata begitu...aku yang telah merusak hari-hari mu yang indah sebelumnya...mianhae karena aku telah merusak kehidupanmu...” Young Mi kembali menangis kembali.
“Sudahlah....” Ki Bum memeluk Young Mi dan menenangkan tangisannya itu.
Kesunyian kembali menyelimuti kamar itu,hanya isak tangis bahagia dan terharu yang terdengar.
“Young Mi~a..aku mau membalas perbuatanmu tadi malam...” suara Ki Bum memecah kesunyian.
“Ye?” tanya Young Mi bingung.
Ki Bum tidak membalas kebingungan Young Mi dengan sebuah jawaban.
Ki Bum menggendong Young Mi secara tiba-tiba.
“Ya! Turunkan aku!” protes Young Mi sambil memberontak.
Tetapi ia tidak menghiraukannya.
Setelah sampai di dapur barulah ia mendudukkan Young Mi di atas meja dapur.
“Kau tunggu di situ...aku akan membuatkan sarapan untukmu?” Ki Bum tersenyum.
“Memang kau mau membuatkanku apa?” Young Mi balas tersenyum.
“Tunggu saja...”
Ki Bum memotong-motong sayuran dan bahan lainnya,sedangkan Young Mi menunggunya sambil tersenyum sendiri.
Ia tidak menyangka bahwa harapan yang ia panjatkan selama ini benar-benar terwujud secara nyata sekarang.
Ki Bum yang kemarin selalu memperlakukannya secara kasar,langsung dapat berubah dalam semalam.

“Igeu...” Ki Bum memberikan sebuah piring berisi sarapan kepada Young Mi.
“Otte?” tanyanya penasaran.
Young Mi mencicipinya dengan bahagia.
“Kau mau tahu rasanya?” tanya Young Mi.
Ki Bum hanya mengangguk penasaran.
Dengan segera Young Mi menempelkan bibirnya ke bibir Ki Bum dan memasukkan makan itu ke mulut Ki Bum.
Ki Bum hanya terkejut Young Mi yang berani melakukan hal itu,tetapi ia menerima dengan lembut.
“Otte? Kau sudah tahu rasanya kan?” Young Mi tersenyum jahil.
“Mashita...” Ki Bum tertawa.
-------------------------------------------------------
Ki Bum POV
Setelah semua yang terjadi,aku tahu bahwa aku adalah orang yang beruntung.
Appa menjodohkanku dengan seseorang yang sungguh baik seperti Young Mi.
Awalnya aku membencinya,tetapi sekarang aku mencintainya.
Orang memang akan berkata bahwa itu adalah hal yang gila.
Bagaimana aku perasaanku terhadapnya dapat berubah dalam semalam?
Dari benci menjadi cinta?
Aku akan menjawab,aku pun tidak tahu.
Yang terpenting adalah sekarang aku ingin berteriak ‘yongwhoni sarangahae’ untuk dirinya seorang.
End of Ki Bum POV
------------------------------------------------------

Label:


Senin, 19 Oktober 2009

Kali ini gw ngepost tentang curhatan gw yang geje haha...
Sebenernya sih ga geje'' amat sih tapi kalo lu mikirnya geje...ya yang gw tulis ini bakalan jadi geje *ngomong apa sih gw,bikin orang bingung aje*
Oke..kali ini gw mau cerita tentang minggu ini...
Emang ini hari Senen sih...tapi gw rasanya males banget,kayak ga pengen belajar...padahal biasanya gw terkenal sebagai anak yang rajin loh...*bener kan temen-temen?* *dibacok gara'' sok pede*
Mungkin ini efek dari kabar buruk yang gw denger minggu kemaren kali ye...
Minggu kemaren tuh *gw lupa kapan tanggal tepatnya* gw dapet kabar buruk banget...
Papa gw yang dirawat di rumah sakit ntuh emang udah boleh pulang,tapi bagi gw itu bukan kabar baik soal ternyata papa gw difonis kena kanker usus stadium dua...
Pertamanya emang gw ga bisa nerima banget,bayangin aja gw murung seharian en males ngelakuin apa-apa...itu Ching'' style banget kalo lagi sedih...
Sekarang gw emang udah bisa nerima semua itu...tapi tetep aja sepanjang minggu rasa ga enak di hati menghantui melulu...ga pengen belajar lah...jadi males ngapain'' lah...itu gejala jelek keluar semua...

Anehnya...minggu ini ide buat bikin cerita gw keluar semua....kayak ga ada abis''nya deh...gw juga ga tau kenapa...dari kemaren bawaannya pengen duduk di depan laptop melulu en ngetik terus...
Mungkin kejadian buruk bisa ngelancarin peredaran otak kali ye....

Oke...gw udah mau ngeakhirin tentang curhatan gw yang geje kali ini...
Tapi buat penutup gw juga pengen ngebocorin tentang Fan Fic gw yang selanjutnya...
Yang selanjutnya itu is dedicate to my friend Nadila...*Ai pasti tau lah*
Dia pengen dibuatin Fan Fic ma Kim Ki Bum-nya SHINee alias si Key...*tau ga* *kalo ga berarti kurang gaul* *disate masa*
Bocorannya adalah...kayaknya ni Fan Fic bakalan gw rating-in NC 17 deh...*akhirnya otak mesum saia berani diakui* soal gw pengen cerita tentang bittersweet life-nya dua pasangan yang dinikahin paksa...kayaknya si lucu deh...terus endingnya seperti biasa,yaitu happy ending haha...

Ya udah kalo yang penasaran....tunggu aje dah haha...

Annyeong...^^

Label:


Minggu, 18 Oktober 2009

The Same Regret



Yeon Hee POV
Kuakui bahwa penampilan Tae Min kali ini benar-benar memukau.
Kedua mataku tidak dapat berkedip.
Kedua telingaku tidak dapat berhenti mendengarkan.
Mulutku tidak dapat berkata-kata.
Jari-jarinya yang terus menari-nari atas hitam-putihnya tuts piano itu menghasilkan melodi-melodi indah.
Kunikmati setiap iramanya yang melantun indah di udara.
Prok..Prok....Prok....
Suara tepukkan tanganku mengalawai tepuk tangan para penonton lainnya.
Tae Min mengakhiri penampilannya di atas panggung dengan membungkuk sopan kepada penonton.
-------------------------------------------
Sudah setahun ini aku kagum sekaligus jatuh hati kepada murid yang bernama Lee Tae Min itu.
Kepiawaiannya dalam bermain piano itu yang awalnya membuatku benar-benar terpesona.
Walaupun sudah lama aku menyimpan perasaan ini dan menjadikannya sebagai rahasia dari siapapun,namun aku masih berharap jika perasaanku ini terbalaskan.
Setiap hari aku selalu memperhatikan gerak-gerik,kelakuan,hingga kebiasaannya.
Sebagian orang memang menilai dirinya hanya sebagai serigala berbulu domba karena ia hanya menutupi keberandalannya itu dengan kemampuannya bermain piano,tetapi aku yakin bahwa kebiasaan buruk yang dilakukannya selama ini pasti memiliki alasaan tersendiri.
End of Yeon Hee POV
-------------------------------------------
“Ya! Mengapa kau dari tadi melamun?!” tanya Min Young sambil menepuk punggung Yeon Hee dari belakang.
Seketika itu juga Yeon Hee tersadar dari lamunannya dan memasang wajah murung.
“Mian...kedatangan kami tidak mengganggumu kan?” tanya Yeon Ri yang berusaha mencairkan suasana.
“Anio,” Yeon Hee membetulkan posisi duduknya.
“Jadi sebenarnya kau ada masalah apa? Kau kan bisa cerita kepada kami,siapa tahu kami bisa membantumu,” bujuk Yeon Ri.
Awalnya Yeon Ri agak sedikit mengurungkan niat untuk bercerita sedikit mengenai masalahnya kepada Min Young dan Yeon Ri,tetapi akhirnya ia sadar kalau ia tidak dapat menghadapi ini sendirian karena ia butuh teman untuk berbagi.
Yeon Hee menarik nafas dalam-dalam lalu berkata,“aku mau pendapat kalian...jika seandainya kalian menyukai seseorang,apakah kalian memilih untuk menyimpan perasaan itu atau kalian akan berusaha untuk menyampaikan perasaan itu?”
Min Young dan Yeon Ri menatap Yeon Hee lekat,mereka tidak membayangkan bahwa Yeon Hee akan menanyakan pertanyaan seperti itu.

Sebelum menjawab pertanyaan itu,Min Young berbisik kepada Yeon Ri untuk mendiskusikan jawabannya bersama.
Setelah agak lama menunggu akhirnya Yeon Ri menjawab pertanyaannya itu.
“Kata kami sebaiknya kau menyampaikannya....kau tidak perlu menyampaikan hal itu secara blak-blakan.”
Wajah Yeon Hee masih belum lega setelah mendengar jawaban dari kedua sahabatnya itu.
Menurutnya jawaban itu bukan ide yang baik karena ia merasa bahwa dia tidak akan mempunyai keberanian sebesari tu untuk mengungkapkan perasaannya itu.
-------------------------------------------
Seminggu kemudian...

Murid-murid di kelas Yeon Hee yang sedang melakukan kerja bakti besar-besaran.
Namun, sebentar lagi bel sekolah akan berdering kelas.
Waktu yang tersisa tinggal beberapa menit lagi dan semua orang mulai mempercepat kerja merka supaya dapat pulang tepat waktu.
Lalu Yeon Hee yang ikut berkerja bakti juga mempercepat kerjanya.
Tanpa mempedulikan apa-apa lagi akhirnya berlari di koridor sambil membawa ember berisi air bekas mengepel lantai.
Matanya sibuk memperhatikan ember berat yang dibawa dengan kedua tangannya itu dan tidak memperhatikan jalan.
Awalnya semua itu dapat berjalan tanpa hambatan namun,tiba-tiba terdengar suara...
BRAK!
Yeon Hee menabrak seseorang.
Seluruh air kotor yang tadi dibawanya di dalam ember tumpah tak tersisa.

Yeon Hee POV
‘Omona! Apa yang baru saja kulakukan? Ottoke?’ aku panik dalam hati.
Aku tidak berani memandang orang di depanku yang kujamin pasti ia akan meminta pertanggung jawaban dari diriku.
Aku hanya berani memadang sepatunya yang basah itu.
“Ya!” teriaknya marah.
Aku tersontak kaget,namun tetap tidak berani memandang wajahnya itu.
Namun,tiba-tiba ada sebuah tangan yang mengangkat daguku.
“Liat sini!” teriaknya lagi.
‘Ommo! Tae Min!’
Aku semakin takut setelah mengetahui bahwa orang kutabrak barusan adalah Tae Min.
Mulutku langsung diam tertutup rapat dan badanku langsung gemetar ketakutan.
“Lepaskan bajumu!” perintahnya.
“Mwo?” aku bertanya bingung.
“Cepat lepaskan dan bersihkan sepatuku!” perintahnya.
Aku tidak menyangka bahwa ia akan mengatakan itu.
Aku memang tahu kalau ia memang salah satu anggota dari kelompok berandalan di sekolah ini,tetapi kata-kata barusan begitu merendahkan dan melecehkan perasaanku.

PLAK..
Aku mendaratkan sebuah tamparan di pipinya.
“Ya! Kau benar-benar keterlaluan! Padahal awalnya aku tergila-gila padamu” teriakku sambil menangis.
‘Mwo? Apa yang barusan aku katakan?!’
Wajahku memerah tidak berani melanjutkan kata-kata,namun tiba-tiba sebuah tangan menarikku dan menarikku untuk menjauh dari keramaian.
End of Yeon Hee POV
-----------------------------------------------
“Ya! Apa yang kau katakan barusan? Kau tergila-gila padaku?!” teriak Tae Min setelah membawa Yeon Hee ke taman belakang sekolah yang sepi.
Yeon Hee hanya tertunduk tak berdaya.
Ia bingung mau menjawab itu semua dengan jawaban apa.
“Jawab pertanyaanku.”
Tae Min mencengkram kedua pundak Yeon Hee.
“Ne...” suara Yeon Hee bergetar dan tercampur dengan suara isak tangis dirinya.
“Araseo,kau milikku sekarang,” bisiknya dit telinga Yeon Hee.
Belum sempat Yeon Hee membalas kata-katanya,namun ia sudah terlebih dahulu menempelkan bibir Yeon Hee.
Yeon Hee membalas semua itu dengan penuh kebahagiaan yang tidak pernah dikiranya selama ini.
-----------------------------------------------
Keesokkan harinya....

“Tae Min~a,apa kau harus menggandeng tanganku?” tanya Yeon Hee.
Tanpa mempedulikan mata-mata yang memandang geram,Tae Min tetap menggenggam tangan Yeon Hee.
“Aku merasa risih,” mohon Yeon Hee.
“Sudahlah,jangan anggap semua itu karena sekarang kau milikku,” bisik Tae Min.

Tiba-tiba anggota geng Tae Min menghampiri mereka.
“Ya! Dari mana kau?!” sapa Jong Hyun.
“Biasa...” kata Tae Min sambil melirik Yeon Hee di sisinya.
Jong Hyun dan lainnya hanya bisa ber-oh ria saat melirik Yeon Hee.
“Siapa namanya?” celetuk Jin Ki.
Mendengar pertanyaan itu,tanpa disuruh lagi Yeon Hee langsung memperkenalkan dirinya dengan senang hati.
“Annyeonghaseo,naneun Park Yeon Hee imnida,bangapsumnida.”
Ia tidak menyangka kalau ia akan berkenalan dengan para anggota geng yang paling ditakuti di sekolah itu.
“Ya sudah,sekarang kau tolong belikan minuman di kantin,” suruh Tae Min.
“Ne,” jawab Yeon Hee sambil tersenyum.
--------------------------------------------------------
Tae Min POV
“Ya sudah,sekarang kau tolong belikan minuman di kantin,” suruhku.
Ia menjawabnya dengan tersenyum tulus.
Aku tidak menyangka ia akan melakukan itu semua dengan mudah,tetapi saat melihat senyuman tulus di wajahnya itu,aku menjadi tidak tega untuk melukai hatinya.

“Ya! Tae Min~a,kau yakin mau memacari gadis seperti Yeon Hee?”
Pertanyaan Jong Hyun Hyung langsung membuyarkan lamuanku.
Aku hanya tersenyum.
“Mm,tidak juga,” aku menjawabnya dengan santai.
“Lee Tae Min~a,kau benar-benar hebat,jadi kau hanya memanfaatkannya?”
Ki Bum Hyung yang ada di sampingku juga menyeletuk sambil tersenyum licik.
“Ya begitulah,” jawabku dengan nada santai.
End of Tae Min POV
--------------------------------------------------------
“Yeon Hee~a!” panggil seseorang.
Yeon Hee yang sedang mengantri di kantin langsung menoleh.
“Min Young,kau benar-benar mengagetkanku saja,” jawab Yeon Hee sambil tersenyum.
“Mian,ngomong-ngomong sedang apa kau di sini? Kau beli minuman banyak sekali,memang untuk siapa saja?” tanya Min Young yang bingung dengan botol-botol minuman yang dibawa Yeon Hee itu.
“Ini buat Tae Min dan yang lain.”
“Hah? Sejak kapan kau dekat dengan mereka?”
“Sejak hari ini,tapi lebih tepatnya kemarin.”
“Memang apa yang terjadi kemarin?”
“Aku.....aku.....Mmm...Tae Min kemarin ‘menembakku’!”
Wajah Yeon Hee langsung berseri sekaligus tersipu,tetapi wajah Min Young langsung berubah drastis begitu mendengar berita mengejutkan itu.
----------------------------------------------------------
Min Young POV
Mwo?! Sekarang dia sudah pacaran dengan Tae Min si anak berandalan itu!
Ini benar-benar tidak bisa dibiarkan!
Aku harus segera memberitahu berita ini kepada Yeon Ri.
Apa yang sebenarnya dia pikirkan?
Mengapa ia bisa tertarik dengan anak seberandalan itu?
Padahal selama ini dia sudah melihat sendiri korban-korbannya,tetapi mengapa sekarang ia justru terjerumus ke dalamnya?
Aku tahu orang yang waktu itu ia bicarakan bersamaku dan Yeon Ri pasti Tae Min.
Aku tahu Yeon Hee memang tergila-gila padanya,tetapi aku sebagai sahabatnya tidak tega jika akan melihatnya terluka nanti.
End of Min Young POV
----------------------------------------------------------
Dua minggu sudah berlalu tanpa terasa.
Hubungan Tae Min dan Yeon Hee hanya berjalan seperti biasanya.

“Ya! Pali!” Tae Min membentak Yeon Hee yang kesusahan membawa buku dari perpustakaan.
“Changkaman!”
Yeon Hee mencoba berteriak agar Tae Min menunggu dan membantunya,namun semua teriakan itu sia-sia saja karena Tae Min berlalu tanpa mempedulikan Yeon Hee.

Yeon Hee POV
Aku mulai meragukan apa yang telah dikatakannya waktu itu.
Ia bilang kalau aku miliknya,berarti ia akan menjagaku dan memperlakukanku dengan baik.
Namun,sampai sekarang ini...
Ia hanya memperlakukanku layaknya pembantu.
Apa ciuman yang ia berikan padaku saat itu juga hanya pura-pura belaka?
Aku harap ia serius dengan semua itu karena aku juga mencintainya dengan tulus.
End of Yeon Hee POV
-------------------------------------------------
Hari lepas hari semuanya itu menjadi nyata.
Tae Min sama sekali tidak berubah,ia tidak pernah memperlakukan Yeon Hee sebagai kekasihnya.
Ia selalu mengacuhkan dan menganggapnya hanya sebagai pembantunya,namun Yeon Hee tidak pernah mengeluh dengan semua perlakuan itu.
Ia tetap tersenyum jika disuruh untuk melakukan sesuatu.
Ia tetap melakukan semua perintah Tae Min dengan tulus dan cinta dari hatinya.
Tetapi,ternyata dari kejauhan ada dua pasang mata yang menatap semua perlakuan Tae Min dengan geram.
Kedua pasang mata itu menggambarkan semua rasa tidak terima dan pembalasan.
-------------------------------------------------
Yeon Hee POV
Seperti pagi-pagi sembelumnya,setiap pagi aku harus membawa buku-buku ini menuju kelas Tae Min.
Aku tiba di kelasnya seperti biasa,tetapi pagi ini aneh sekali.
Mengapa ia tidak ada di kelasnya?
Bukannya ia selalu duduk di kursinya jika aku datang.

Aku mencari keluar kelas,namun tiba-tiba aku memdengar sebuah teriakan di dekat toilet.
“Ya! Kau jangan coba-coba dekati Yeon Hee lagi!” seseorang berteriak.
‘Omo! Itu suara Min Young kan?’ gumamku dalam hati.
Aku mencoba bersembunyi di antara pilar-pilar.
Ternyata di sana juga ada Tae Min dan Yeon Ri.
Jangan-jangan Yeon Ri dan Min Young mengancam Tae Min...
Apa yang harus kulakuan sekarang? Ottoke?
End of Yeon Hee POV
------------------------------------------------
Tae Min POV
“Ya! Kau jangan coba-coba dekati Yeon Hee lagi!” Min Young membentakku.
‘Dia pikir dia siapa? Sampai-sampai ia berani membentakku!’
Aku hanya mengulas sedikit senyum meremehkan dan menahan emosi untuk tidak meladeninya.
“Kau mau aku menjauhi Yeon Hee?” tanyaku.
“Ne! Jangan membuat dia sengsara lagi!” Yeon Ri juga ikut-ikutan menyeletuk.
“Terserah kau saja! Lagipula dia yang selama ini tergila-gila padaku,jadi permintaan kalian itu bukan masalah bagiku...selama ini aku hanya menjadikannya pembantu saja kok.”
Tidak tahu aku memikirkan apa,namun tiba-tiba kalimat itu bisa kulontarkan dengan santainya.
Aku dapat melihat tangan Min Young sudah semakin geram,tetapi aku sengaja memalingkan wajahku ke arah yang lain.
Aku memang pantas menerima sebuah tinju untuk kata-kata yang barusan kukatakan itu.
Namun saat aku tamparan itu mendekat,tiba-tiba seseorang menghalanginya.
“Hentikan!” teriaknya.
Aku melirik orang itu.
“Yeon Hee~a! Buat apa kau ke sini!” aku kaget.
Aku dapat melihatnya berlinang air mata,aku tahu pasti dia juga mendengar kata-kata yang tadi ucapkan itu.
End of Tae Min POV
------------------------------------------------------
Yeon Hee membawa Tae Min menuju halaman belakang sekolah.
“Tae Min~a...mianhaeyo...aku memang tergila-gila padamu,tetapi aku tidak bermaksud mengusik duniamu..”
Yeon Hee berlinang air mata.
Tae Min tidak dapat berkata-kata dan hanya memandang Yeon Hee .
“Mianhae,karena aku tidak dapat menjadi pembantu yang kau anggap baik selama ini karena selamanya aku tidak pernah menganggapmu sebagai majikanku..selamanya kau akan kuanggap sebagai Lee Tae Min yang membuatku selalu ceria walaupun selalu menyusahkanku,” lanjut Yeon Hee pelan.
“Mulai sekarang aku tidak akan mengganggumu lagi...sekali lagi mianhae karena selama ini membuatmu risih karena keberadaanku.”
Yeon Hee sudah berlari pergi sebelum Tae Min menjawab semua kata-katanya itu.
-------------------------------------------------------
Tae Min POV
Tiba-tiba tubuhku mematung begitu mendengar kata-katanya barusan.
Ia seperti menyadarkanku,tetapi tidak tahu mengapa kakiku tidak memiliki kemauan untuk mengejarnya.
Sudahlah,ia tidak begitu penting dalam kehidupanku.
Hidupku ini akan baik-baik saja tanpa dirinya.
End of Tae Min POV
-------------------------------------------------------
Keesokkan harinya...
“Ya! Mana buku-bukuku?” tanya Tae Min dengan nada tinggi.
“Park Yeon Hee!” teriaknya lagi.
“Tae Min~a....jangan meneriakkan nama itu lagi,kemarin bukannya ia telah meninggalkanmu!” teriak Ki Bum.
Tae Min langsung terdiam begitu mendengar apa yang dikatakan Ki Bum barusan.
Dirinya lupa bahwa kemarin ia telah menyakiti perasaan Yeon Hee dan saat ini ia baru merasakan seberapa penting Yeon Hee dalam kehidupannya.

Tae Min keluar dari perpustakaan dengan setumpuk buku-buku tebal di kedua tangannya.
‘Saat itu mengapa aku begitu tega menyuruh Yeon Hee membawa semua buku-buku yang berat ini?’
Tae Min hanya bisa menyesal akan semua hal setelah seseorang yang selalu baik terhadapnya meninggalkannya.
-----------------------------------------------------------
Yeon Hee POV
Sudah seminggu lamanya aku berpisah dan berpura-pura tidak peduli terhadap dirinya.
Tetapi,sebenarnya aku selalu memperhatikan dan mengkhawatirkan dirinya dari jauh.
Aku sering mendengarnya meneriakkan namaku setiap pagi.
Walaupun aku sedih karena tahu hal yang sebenarnya terjadi,tetapi saat melihatnya marah dan memanggil namaku,rasanya hatiku ini senang.
Aku menjadi seperti seseorang yang berarti saat bersama dirinya.
End of Yeon Hee POV
------------------------------------------------------------
“Jadi kau menyesal?” tanya Yeon Ri.
Tae Min diam saja,walaupun ia tahu bahwa ia salah,tetapi ia tetap saja memasang tampang dingin tanpa sedikit perasaan.
“Tetapi sayangnya itu semua sudah terlambat,” jawab Min Young santai.
“Baiklah,apa mau kalian sehingga kalian mau menuruti permintaanku?” tanya Tae Min tegas.
Yeon Ri kemudian membisikkan sesuatu di telinganya.
------------------------------------------------------------
“Yeon Hee~a! Tolong bawa pot ini ke halaman belakang,” perintah Min Young sambil memberikan sebuah pot kecil kepada Yeon Hee.
Maklum,seperti kebiasaan setiap minggunya sekolah Yeon Hee selalu mengadakan kerja bakti secara besar-besaran dan kali ini Yeon Hee mengurusi soal tanaman-tanaman sekolah.
“Araseo,” jawab Yeon Hee.

Yeon Hee melangkahkan kakinya menuju halaman belakang sekolah.
Di sana terdapat sebuah rak yang berisi banyak tanaman-tanaman hias kecil.
Yeon Hee segera menghampiri rak itu dan berniat untuk meletakkan pot yang dibawanya di sana.
Namun saat ia hendak meletakkannya,ia melihat sebuah amplop kecil tertempel di pot tersebut.
Yeon Hee penasaran dan membukanya.

Yeon Hee~a...
Mianhaeyo...aku memang benar-benar bodoh...
Aku telah melewatkan seorang wanita baik hati sepertimu dalam kehidupanku.
Awalnya aku memang tidak menyadari itu semua,mianhae...
Tetapi setelah mendengar perkataanmu itu,aku baru sadar bahwa aku memerlukan dirimu...
Dulu aku hanya menganggapmu sebagai pengganggu dan terlebih lagi merendahkan dirimu hanya sebagai seorang pembantu.
Walaupun kau dulu hanya kuanggap sebagai pembantuku,tetapi aku selalu terharu melihat senyuman itu.
Saat ini aku rindu dengan senyumanmu itu.
Tanpanya hariku terasa seperti musim gugur yang kelabu.
Oleh karena itu,bisakah kau memberikanku kesempatan lagi untuk melihat senyumanmu itu?
Aku benar-benar menyesal.


Tae Min

Air mata terharu Yeon Hee langsung berlinang di kedua pipinya.
Ia tidak menyangka bahwa Tae Min yang dulu mempermainkan dirinya akan berkata seperti itu.
Saat Yeon Hee berkemelut dengan semua itu,tiba-tiba seseorang menepuk pundaknya.
“Tae Min~a..”
“Mianhae,” kata Tae Min pelan.
“Jadi kau mau menerimaku lagi? Aku tahu aku memang salah,tetapi kau mau memberikan kesempatan kedua untuk diriku kan?” tanya Tae Min memohon.
“Aku...aku terlalu kesal untuk menerimamu.”
Kali ini Yeon Hee tersenyum sedikit.
“Mianhae...aku tahu aku yang telah mempermainkanmu,jadi wajar jika kau tidak bisa menerimaku,tetapi apakah ada sesuatu hal yang bisa kulakukan agar bisa diterima kembali olehmu?” Tae Min memelas.
“Baiklah….tutup matamu sekarang!”
Tae Min dengan pasrah menutup kedua matanya walaupun ia tahu bahwa Yeon Hee sudah bersiap-siap mengambil pot di sebelahnya.

Tae Min POV
Aku tahu aku menyesal akan semua ini dan aku pantas untuk mendapatkan ganjaran dari dirinya.
Aku hanya menutup mataku dan menerima segala resiko yang terjadi.
Aku dapat merasakan angin dari kedua tangan Yeon Hee yang mengayun di atas kepalaku.
‘Saranghae,Yeon Hee~a…mianhae…’ aku hanya dapat meneriakkan kata-kata itu dalam hati.
PRANG!
Tiba-tiba aku mendengar sebuah benda jatuh berserakkan di lantai.
Aku hendak membuka mataku untuk melihat apa yang sedang terjadi,namun betapa mengejutkannya Yeon Hee malah menciumku.
Ciumannya terasa hangat dan lembut.
Aku membalas ciumannya itu.
“Tae Min~a..aku mengampunimu….saranghae…” bisiknya lembut.
“Na do saranghae…Yeon Hee~a…” aku membalasnya dengan tersenyum.

Aku selalu berpikir bahwa betapa baiknya Tuhan karena ia telah memberikan seseorang yang baik kepadaku,namun mengapa awalnya aku tidak dapat melihat semua kebaikkannya itu.
Aku memang bodoh…
Aku tidak mau pengalami penyesalan seperti ini untuk kedua kalinya karena Yeon Hee memang terlalu berharga untukku.
End of Tae Min POV
----------------------------------------------------------------

Label: