<xmp> <body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7457634820015561536\x26blogName\x3dBehind+the+Scene+of+My+Life\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/\x26vt\x3d-3169458302945196764', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> </xmp>
Welcome

I've already left this blog but I will be happy if you still take a look on my old fan fiction :D

The Princess
Add your profile goes here.
Hi and Hello!
Let me introduce my name then~ Ching Ching is speakin' here! Scream out loud and be ready for the rockin' blog YEAH! This is the second blog I got here, the first is on LiveJournal, and I used that as my fan fiction park ♥♥ I'm Chinese who live in country named Indonesia, so I usually speak in Bahasa. I love lurking around at SOOMPI, check the request thread and help them all that had a problem about NG and GASOO poster. And by the way, I had a Tumblr. I use that page as my poster and banner gallery. So please welcome then~ I'll be glad to know that someone has visited it. I would to tell about my emptiness, problems and experiences on here.. So, just shut up and listen then! *LMFAO*.

Links
Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here

Archives
September 2009
Oktober 2009
November 2009

Layout ©

ME. kynzgerl
CODES. manikka
BRUSHES. 1 2
IMAGES. 1 2
The 2 paper heart: moargh.de
SOURCE. BLOGGER BLOGSKINS IMAGESHACK
Selasa, 03 November 2009


Annyeong...
Gomawo semua yang udah komen buat fic yang kemaren gw post hehe..
hari ini gw mau ngepost lagi..
rencananya sih penen ngepost ntar...tapi mata saia udah keburu ga kuat euy...
jadi gw post skg..
ini buat ulang taunnya TOP alias Choi Seung Hyun...besok tgl 4 Nov...
Oh yah..fic ene tuh special editionnya dari fic chaptered gw yang You're the Key of My Secret...
ya udah baca en komen aja deh...


PS: Judul tidak menentukan senang atau sedihnya suatu cerita loh..
jadi baca aja dulu...baru komen...
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Loneliness, Sadness, and Tears


Min Young POV

“Oppa...jangan pergi...aku mohon,” aku kembali memeluknya erat.

“Mianhae...aku benar-benar harus pergi,” katanya lirih.

“Kami punya alasan..” tambah Ji Yong yang berdiri di sebelah Seung Ri.
“Memangnya alasan apa?”
“Ini,” Young Bae memberikan selembar kertas kepada Seung Hyun.

KONTRAK REKAMAN
“Mwo?” tanyanya tidak percaya.
“Jadi...Hyung tidak jadi pergi ke Jepang kan?” tanya Dae Sung ingin memastikan.
Seung Hyun hanya diam saja namun wajahnya mengembangkan senyum seulas.
Tanpa basa-basi lagi langsung kudekap pinggangnya sambil meneteskan air mata bahagia.

Kejadian itu rasanya tak pernah bisa kulupakan dari benakku.
Walaupun kejadian itu sudah berlalu setahun lamanya,tetapi entah mengapa aku selalu menganggapnya baru terjadi kemarin.
Masih dapat kurasakan awal kehilangan itu dan masih dapat pula kurasa akhir yang berujung pada kebahagiaan terindah.

Sekarang walaupun aku bahagia bersama dirinya,tetapi semuanya telah berubah.
Dulu sebelum mereka merasakan awal dari masa debut mereka,kehidupan terasa indah,berwarna,dan berjalan sesuai dengan rencana.
Namun sekarang,hal itu tidak dapat dirasakan.
Kehidupan terasa hampa walaupun dirinya masih menjadi milikku.
End of Min Young POV
--------------------------------------------------------
Drrrt...Drrrt...Drrrt....
Min Young melihat layar handphone-nya yang masih bergetar.

SEUNG HYUN OPPA

Wajahnya langsung tersenyum saat melihat tulisan di layar handphone flip-nya.

“Yeoboseyo?”
“Min Young~a...mianhaeyo...jeongmal mianhae..”
“Oppa? Ada apa? Sekarang Oppa ada di mana?”
“Mmm...Min Young~a,mianhaeyo...ternyata aku tidak bisa datang.”
“Oh,gwenchana,Oppa.”

Min Young langsung menutup handphone flip-nya dengan keras.
Walaupun ia mengucapkan kata-kata itu dengan sedikit senyuman di wajahnya,tetapi sebenarnya hatinya merasa luka dan tertipu.
Waktunya sudah terbuang sia-sia di tengah dinginnya malam ini.
Padahal pagi tadi wajahnya berseri saat Seung Hyun memberitahunya bahwa nanti malam jadwalnya sedang kosong,maka dari itu mereka bisa berjanjian untuk bertemu.
Tetapi,ternyata harapan itu hilang seketika dan itu bukanlah kejadian untuk pertama kalinya bagi Min Young.
----------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Rasanya sudah tidak sabar untuk bertemu dengannya.
Lama sekali aku tidak melihat senyuman dan keceriaannya yang membuat rasa lelahku hilang seketika itu.
Aku rindu padanya,tetapi untungnya hari ini rasa rinduku itu dapat segera terobati karena Hyo Jin berkata bahwa jadwal malam ini kosong jadi aku dapat keluar sebentar untuk menghabiskan waktu bersamanya.

Sekarang sudah jarang sekali aku dapat bertemunya,padahal dulu hampir setiap hari aku dapat belajar dan menghabiskan waktu bersamanya.
Memang sekarang aku sudah berhasil mencapai cita-citaku,tetapi tanpa dirinya aku merasa selalu ada yang kurang dengan hidupku ini.
Entah mengapa aku juga merindukan apartemenku yang dulu.
Apartemen yang sederhana dan kecil,tetapi itu merupakan salah satu tempat kenanganku bersamanya.
Sekarang aku tinggal di asrama bersama dengan Young Bae,Ji Yong dan member Big Bang yang lain.
Semuanya terasa monoton dan terkadang aku bosan dengan kehidupan ini.
-------------------------------------------------
Kulirik jam tanganku dan sekarang sudah pukul empat sore.
Sebaiknya aku bersiap-siap karena sebentar lagi aku harus pergi untuk bertemu Min Young.

Kulangkahkan kakiku dengan semangat menuju asrama.
Memilih baju yang terbaik,mandi,dan mempersiapkan segalanya.
Aku tidak ingin hari ini disia-siakan begitu saja karena aku tahu kesempatan seperti ini adalah kesempatan langka.

Semua sudah siap dan aku hendak berjalan keluar asrama.
Namun tiba-tiba Hyo Jin memanggilku sambil agak berteriak.

“Seung Hyun~a...ada masalah!” jelasnya sambil terengah-engah.
Aku menengok.
Terlihat sekali bahwa wajahnya pucat.

“Kaset rekaman tadi pagi tiba-tiba hilang...dan kalian harus masuk ruang rekaman sekarang juga untuk merekam ulang semuanya.”
Begitu mendengar kalimat itu rasa kaget dan kecewa seolah-olah menyambar diriku.
“Hajiman...” aku mencoba menolak perintahnya itu.
Aku tidak mau mengecewakan Min Young yang telah lama menungguku.
“Andwe...pokoknya kau harus rekaman sekarang karena yang lain sudah menunggu,” paksanya sambil menarik salah satu tanganku.
Akhir dengan berat hati kubuka handphone flip ku dan segera memberitahu Min Young bahwa aku membatalkan acara itu.
Rasanya berat.
Aku tidak ingin melihat dirinya kecewa,namun apa boleh buat aku harus memilih antara orang yang kusayangi atau pekerjaanku dan kali ini aku hanya dapat berkata dalam hati.
‘Mianhae,Min Young~a...aku tidak dapat membahagiakanmu..’
End of Seung Hyun POV
---------------------------------------------
Min Young POV
Sekarang diriku sudah berada di kelas 11 dan tidak terasa sebentar lagi ujian kenaikkan kelas menghadangku.
Seperti biasanya aku duduk termenung sendirian sambil membaca buku matematika-ku.
Kubaca dan kuingat kembali rumus-rumus trigonometri yang dulu diajarkan oleh Mr.Lee.
Melihat buku itu dan mengingat nama Mr.Lee,aku menjadi teringat masa-masa dulu.
Masa di mana pertama kali aku bertemu dengan Seung Hyun.
Masa di mana aku masih membenci dan menganggapnya sebagai anak berandalan yang tidak bisa diajar.
Aku tertawa dalam hati jika mengingat semuanya,tetapi entah mengapa aku malah ingin kembali ke masa itu dibandingkan menetap di masa kini yang begitu sepi dan hampa.
Aku sadari bahwa aku rindu akan dirinya yang terkadang membuatku kesal itu.

Kapan aku bisa bertemu dengannya sesering dulu?
Padahal kemarin rasa rinduku dapat terobati,tetapi mengapa ia kembali membatalkan semua itu?
Sampai berapa kali pula aku harus sabar menghadapi pengingkaran janji yang ia buat itu?
End of Min Young POV
-------------------------------------------
Hari-hari berjalan begitu sepi di antara hubungan Seung Hyun dan Min Young.
Kesuksesan Big Bang justru menjadi perantara akan hubungan mereka.
Seung Hyun yang selalu sibuk dengan berbagai jadwal padatnya tidak dapat menyempatkan diri untuk menelepon apalagi bertemu dengan Min Young.
Semuanya menjadi terasa menggantung.
-------------------------------------------
“Min Young~a!” teriak Hee Sung sambil membawa sebuah tabloid.
“Ye,Onnie...ada apa?”
Min Young yang mendengar teriakkan itu segera menghentikan kesibukkannya di depan komputer Hee Sung.
“Igeu...”
Hee Sung menunjukkan sebuah halaman di tabloid yang ia bawa itu.

T.O.P TERNYATA MEMILIKI HUBUNGAN RAHASIA DENGAN MANAGERNYA

Kedua mata Min Young melihat tulisan itu tanpa berkedip.
Hatinya pilu.
Ia merasa ditipu dengan janji yang dulu diucapkan Seung Hyun itu.
Semua kenangan-kenangan bersamanya terbang bagaikan abu yang ditiup angin.

Tanpa sadar air mata Min Young meleleh dan membasahi kedua pipinya.
Hee Sung yang melihat hal itu hanya dapat menepuk-nepuk bahu Min Young dan berusaha menghiburnya.
“Min Young~a,walaupun yang tertulis di sana merupakan berita yang menyedihkan bagimu,tetapi aku yakin bahwa itu semua hanyalah gosip belaka.”
Akan tetapi, ia sudah terlanjur terhipnotis oleh artikel gila itu.
Min Young seolah-olah menutup kedua telinganya dan berlari keluar apartemen.

Min Young POV
Seung Hyun~a....tega sekali kau melakukan ini padaku.
Aku tahu memang belakangan ini kau sibuk dan aku sudah berusaha untuk bersabar.
Aku berusaha untuk tetap memahami akan semua kesibukkanmu itu.
Tetapi mengapa?
Mengapa kau seolah-olah tidak menghargai semuanya?
Apakah ini akhir hubungan kita?
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah artikel gila.
Berita macam apa itu?
Foto-foto itu juga bukan merupakan foto mesraku dengan Hyo Jin!
Itu hanya foto-foto biasa,namun paparazi-paparazi sialan itu malah salah mengartikannya.
Sebenarnya apa tujuan mereka dengan mempublikasikan semua kebohongan ini!

Kurasakan handphone di saku jaketku bergetar.
“Yeoboseyo? Hee Sung?”
“Seung Hyun~a,apa yang ada di berita itu benar?”
“Anio...mereka hanya merekayasa foto itu...aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Hyo Jin!”
“Aku percaya omonganmu itu,tetapi Min Young...”
“Ada apa dengan Min Young...”
“Sudahlah Seung Hyun..lebih baik kau jelaskan semuanya kepada dirinya...”

Hee Sung menutup telepon.
Ia berkata bahwa aku harus menjelaskan semuanya kepada Min Young.
Apa Min Young juga sudah melihat berita itu?
Tetapi walaupun ia sudah melihat,harusnya ia tidak percaya begitu saja terhadap semua skandal ini.
Seharusnya ia percaya kepada diriku.
End of Seung Hyun POV
----------------------------------------------------
Sudah dua kali Min Young mendiamkan handphone di tasnya yang bergetar itu.
Ia tahu siapa yang meneleponnya,namun ia mendiamkannya begitu saja.
Ia butuh waktu untuk sendiri dan merenung.
Merenungkan akan semua yang telah terjadi,semua perubahan yang tak sanggup ia jalani lagi ini.
Hatinya masih sakit untuk memikirkannya.
Walaupun ia tahu bahwa semua yang tertulis di tabloid itu belum tentu benar,namun entah mengapa setelah ia memikirkan tentang hubungan dirinya dan Seung Hyun yang renggang itu,semuanya menjadi masuk akal.
Semuanya memang sudah tidak dapat ia jalani lagi.
Sudah berpuluh-puluh janji yang Seung Hyun batalkan demi pekerjaannya.
Awalnya memang ia bersabar dan memaklumi semua itu,tetapi lama kelamaan ia tidak sanggup untuk menjalani itu semua.
Kesabarannya sudah habis untuk melihat semua hal yang tidak adil itu.
-------------------------------------------------
Cuaca malam itu sangatlah dingin karena mendekati musim salju,namun Min Young tetap bersih kukuh untuk pergi ke apartemen Hee Sung.
Ia butuh teman bicara karena ia tidak ingin menjadi gila jika menyimpan semua masalahnya sendirian.

Min Young melangkah gontai menuju apartemen Hee Sung.
Menaiki setiap anak tangga dengan perasaan dingin.
Akan tetapi,hatinya kembali perih saat melihat pintu kamar yang bertuliskan angka tujuh itu.
Kamar yang merupakan tempat tinggal Seung Hyun dulu.
Memandangnya serasa seperti kembali ke masa lalu yang bahagia,namun sekarang semua itu telah berubah.
Tetapi entah mengapa hati Min Young mendorongnya untuk berjalan mendekati pintu itu.
Menyentuh dinginnya kayu yang terkena hawa malam itu,kemudian menyusuri kenopnya.
Semua itu di luar kontrol otaknya.
Akan tetapi itu semua adalah kemau hatinya yang terakhir.
Ini mungkin terakhir kalinya akan mengenang semuanya.

Tiba-tiba kenop pintu itu diputar dari dalam.
Min Young terlonjak kaget,namun dirinya lebih kaget saat melihat sesosok yang keluar dari pintu itu.
Belum sempat ia mengatakan sepatah kata pun dari mulutnya,tetapi orang itu sudah mendekapnya.
Min Young membiarkan dirinya di dekap erat.
Rasa hangat menyelimuti dirinya.

“Oppa...bogoshiposso..” ucap Min Young pelan.
“Na do...” Seung Hyun balas membisik di telinganya.

Min Young melepaskan pelukkan Seung Hyun.
Ia menatap kedua mata di depannya dengan lekat.
“Oppa...mianhae...aku egois...”
“Sst..” Seung Hyun menempelkan jarinya di bibir Min Young.
“Aku yang seharusnya berkata seperti itu...aku terlalu mementingkan pekerjaan daripada dirimu.”
“Oppa,gwenchanayo..tetapi,sekali lagi mianhae...bisakah kita mengakhiri hubungan kita sampai di sini saja.”
Wajah Seung Hyun langsung mengeras,ia tidak percaya apa yang baru didengarnya itu.
“Mwo?” Seung Hyun memegang kedua lengan Min Young yang berada di hadapannya.
“Ye,Oppa...mianhae....jeongmal mianhaeyo....aku sudah berusaha untuk memahamimu,tetapi aku tidak dapat menahan itu semua lagi.”
Min Young melepaskan kedua tangan Seung Hyun yang berada di lengannya,berbalik,kemudian menuruni anak tangga sambil meneteskan air mata.
--------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Sekarang yang dapat kulihat adalah punggungnya yang lama-kelamaan menghilang dari pandanganku.
Meninggalkan diriku sendiri di tengah dinginnya malam ini.

Aku tahu ini bukan salahnya,tetapi ini memang yang seharusnya kuterima atas apa yang telah kuperbuat selama ini.
Mianhae...Min Young~a...aku terlalu mementingkan pekerjaanku.
Aku selalu membuatmu kecewa terhadap berpuluh-puluh penantian yang sia-sia.
Mianhae...

Min Young,bisakah kau memberikan sebuah kesempatan kedua untuk diriku?
Apakah kau bisa memberikan itu kepadaku?
Aku masih membutuhkanmu...
Kaulah satu-satunya yang dapat mengisi kekosongan di hatiku ini.
End of Seung Hyun POV
---------------------------------------------------
Min Young POV
Seung Hyun~a....mianhae...
Aku memang egois karena tidak bisa memahami itu semua.
Tetapi,aku rasa ini memang jalan yang terbaik.
Aku bukan orang yang pantas di sisinya lagi.
Aku harap Seung Hyun bisa mendapatkan seseorang yang dapat memahami dirinya lebih dariku dan dapat membuatnya tersenyum kembali.
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Bulan lepas bulan Min Young mencoba untuk melupakan semua yang telah ia lalui bersama Seung Hyun,namun sekarang semuanya terasa semakin sulit.
Sekarang kesuksesan Big Bang tidak dapat dibendung lagi.
Hampir setiap hari tabloid-tabloid memuat berita tentang berita.
Wajah-wajah mereka pun semakin sering mucul di acara-acara televisi.
Min Young hanya dapat berpura-pura diam dan berusaha untuk tidak mengenal wajah-wajah mereka lagi.

Hari ini Min Young tidak sengaja melihat kalender yang tertempel di dinding kamarnya.
4 November 2009
Air matanya kembali meleleh.
Ia ingat apa yang terjadi pada tanggal 4 November dua tahun yang lalu.
Sebuah gambaran yang tak akan pernah ia bisa lupakan untuk selama.

Flashback
Seung Hyun dan Min Young berjalan perlahan menuju sebuah komedi putar,semua pengunjung sudah pulang jadi hanya mereka berdualah yang ada di tempat itu.
Namun tiba-tiba seluruh lampu di taman ria itu padam.
Seung Hyun yang kaget menggenggam tangan Min Young lebih kuat.

“Saengil chukahamnida…. saengil chukahamnida…..”
Suara itu terdengar samar-samar di tengah kegelapan malam ini.
Tiba-tiba Min Young menarik tangan Seung Hyun ke bawah dan membisikkan sesuatu.
“Saengil Chukahamnida,Oppa…” bisiknya.
Seung Hyun tersenyum bahagia.

“Ya! Chingu,keluar kalian!” teriak Seung Hyun.
Kemudian lampu komedi putar yang terang itu menyala kembali dan terlihat Ji Yong,Young Bae,Dae Sung,dan Seung Ri keluar dari tempat persembunyian mereka.
Seung Hyun yang sangat senang langsung berlari ke arah mereka dan memeluk mereka.
“Gomapta,chingu ya…” katanya sambil berteriak.
--------------------------------------------
”Min Young,gomapta karena telah membuat hari ini sangat berarti dan sekarang aku mau bertanya sesuatu kepadamu,”kata-kata Seung Hyun mengehentikan langkah Min Young.
“Apa,Oppa?” Min Young penasaran.
“Maukah kau menjadi pacarku?” tanya Seung Hyun.
End of Flashback

Kenangan indah itu kembali mengisi kepala Min Young dan menimbulkan rasa penyesalan di hatinya.
Bagaimana pun walau Seung Hyun sudah berpisah dengan dirinya,tetapi perasaan itu masih saja memenuhi hatinya.
Walaupun ia mencoba untuk memungkiri itu semua,tetapi itu semua malah akan menjadi suatu kesia-siaan belaka.
-------------------------------------------
Malam ini seperti malam-malam biasanya.
Min Young berkutat dengan buku-buku pelajarannya dengan ditemani remangan cahaya lampu meja belajar.
Namun konsentrasi belajarnya tiba-tiba terpecah karena getaran handphone yang diletakkannya di atas kasur.

“Yeoboseyo...”
Min Young mengangkat handphonenya dengan bermalas-malas.
“Min Young~a!”
“Seung Ri?”
Min Young terkaget saat mendengar suara dari sang penelepon barusan.
Sudah lama rasanya ia tidak mendengar suara itu,suara yang akrab di telinganya.

“Min Young~a! Cepat ke rumah sakit?”
“Ye?”
“Seung Hyun Hyung dirawat!”
“Mwo?”
“Sudahlah...jangan banyak tanya lagi...kau bisa pergi sekarang kan? Kurasa ia membutuhkan dirimu.”

Min Young menutup handphone flip-nya.

‘Sebenarnya apa yang terjadi pada Seung Hyun?’
Hanya pertanyaan itu saja yang dapat muncul di otaknya.
Ia mengigit bibir bawahnya dan menimbang-nimbang semuanya.

Min Young POV
Aish,mengapa ini semua dapat terjadi?
Apa yang harus kulakukan?
Apakah aku harus pergi? Atau aku mau menipu rasa khawatirku berapa lama lagi?

Sudahlah..
Aku memutuskan untuk pergi ke sana.
Aku tidak mau menyimpan kekhawatiran ini hanya di hatiku.
-----------------------------------------------
Aku tidak mempedulikan dinginnya udara malam menjelas musim dingin ini.
Aku terus berlari menuju rumah sakit.
Saat aku tiba di sana Ji Yong,Seung Ri,Young Bae,Dae Sung,dan seorang perempuan sudah berada di lorong depan kamar Seung Hyun.
“Min Young...” Seung Ri memanggilku dan aku pun berjalan mendekat.
“Seung Ri~a,sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanyaku penuh penasaran.
“Sebenarnya Hyung tidak parah,tetapi sebaiknya ia dirawat karena dirinya mengalami stres berat.”
Lidahku terasa kelu dan mematung sehingga tidak dapat berkata apa-apa.
“Setiap hari kerjaannya hanya pergi ke club dan minum-minum,” jelas Seung Ri.
Omona! Apa ini semua karena aku?
Aku yang membuatnya begitu?

“Boleh menjenguknya?” tanyaku pelan.
Ji Yong mempersilahkanku untuk masuk dan menutup pintu dari luar.
Kulangkahkan kakiku perlahan agar Seung Hyun tidak terbangun karena kehadiranku ini.
Aku tidak ingin ia sedih kembali jika melihat kehadiranku ini.

Aku berjalan mendekati dirinya terbaring lemah di tempat tidur itu.
Wajahnya pucat dan peluh membasahi dahinya.
Aku melihatnya lebih dekat kemudian menyentuh pipinya yang dingin itu.
“Oppa..mianhae,karena diriku kau menjadi seperti ini,” bisikku pelan sambil mengelap peluh di dahinya itu.
Hatiku kembali merasa bersalah saat melihatnya diam tak bergeming.
Aku tidak sanggup membendung air mataku ini.
Aku mencoba mengalihkan pandangan ke arah lain,namun sebuah tangan dingin sudah terlebih dahulu menghapus air mataku.
Aku menoleh.
Seung Hyun tersenyum ke arahku.
“Sebenarnya apa yang kau tangisi?” tanyanya ketus.
Aku hanya menggeleng dan menghapus air mataku.
“Gojimal,” ucapnya pelan.
Ia kembali tersenyum ke arahku,tetapi aku hanya menatapnya nanar.
Tak tahu harus membalas perlakuannya dengan sikap apa.
Rasa canggung yang bercampur dengan rasa bersalah memerintahkan kakiku langkah menjauhi tempat tidurnya,tetapi di luar dugaanku ia malah menahan tanganku.
“Min Young~a,kumohon jangan tinggalkan aku lagi.”
Ucapan yang begitu tulus dan tak berdaya itu terlontar dari mulutnya.
Tubuhku terasa membeku dan tidak tahu harus membalas kata-kata itu dengan apa.
Aku hanya diam membiarkan tanganku ditahan olehnya,namun tiba-tiba ia terduduk di atas tempat tidurnya dan menarik tanganku sehingga aku ikut menduduki tempat tidurnya.
“Oppa,geumane,” protesku pelan.
Aku menjadi semakin tidak rela meninggalkan dirinya jika ia bersikap begitu terhadapku.
Akan tetapi bukannya melepaskan diriku,ia malah memeluk pinggangku dari belakang.
Aku kaget dan sempat memberontak,tetapi ia memelukku semakin erat.
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Kupeluk dirinya yang hangat ini.
Merasakan setiap rambutnya yang menyentuh wajahku.
Rasa yang sudah lama tidak kurasakan ini.
Aku rindu akan senyuman dan segala tentangnya.
“Min Young~a,mianhae...”
Hanya kata-kata itulah yang dapat kuucapkan dan tidak akan pernah berhenti kurenungkan.
Aku telah menyia-nyiakan kebaikkan hati dan pengertian darinya.
Aku terus memeluknya seakan-akan aku tidak mau kehilangan dirinya untuk kedua kalinya.
Kurasakan setiap tetes air matanya membasahi lengan bajuku,namun aku hanya dapat memeluknya lebih erat.
Aku tidak ingin menyia-nyiakan kembali orang dipelukkanku ini.
Dirinya terlalu berharga untukku bahkan lebih berharga dibandingkan pekerjaanku.
End of Seung Hyun POV
--------------------------------------------------
Keesokkan harinya...

Seung Hyun mendapati kursi di samping tempat tidurnya telah kosong.
Wajahnya yang tersenyum cerah tadi malam kembali lesu seperti hari-hari sebelumnya.
Dengan semangat yang padam akhirnya Seung Hyun memutuskan untuk merebahkan tubuhnya itu di atas tempat tidur.
--------------------------------------------------
Min Young berjalan sambil menunduk di taman rumah sakit.
Sekilas matanya memandang lurus ke depan tanpa emosi.
Pandangannya kosong.
Berbagai pemikiran telah membutakan semuanya.

“Min Young-sshi?”
Min Young baru sadar bahwa ada seseorang yang memanggilnya.
“Ye?” Min Young berbalik.
Nyalinya langsung ciut saat mengetahui orang yang memanggil namanya.
“Kang Hyo Jin imnida.”
Wanita yang bernama Hyo Jin itu mengulurkan tangannya ke hadapan Min Young.
Min Young terpaksa mengulurkan tangan dan menjabat tangan Hyo Jin.
“Naneun Kim Min Young imnida..”
“Ye,aku sudah mengenalmu sejak lama,walaupun aku tidak pernah bertemu denganmu,tetapi Seung Hyun sering bercerita tentangmu kepadaku.”
Wajah Min Young langsung pucat saat mendengar ucapan Hyo Jin itu.
“Mian,mungkin karena akulah hubunganmu dengan Seung Hyun menjadi seperti ini,tetapi cobalah untuk memaafkannya,ia masih membutuhkanmu dan aku tahu kau juga masih membutuhkannya kan?”
Pertanyaan itu seolah-olah membongkar semua apa yang telah disembunyikan Min Young,namun ia hanya diam tak bergeming membiarkan pertanyaan itu berlalu begitu saja.
Akan tetapi,Hyo Jin hanya tersenyum saat melihat respon Min Young diam membeku itu.
“Ya sudahlah,pikirkan semuanya baik-baik,pikirkan semua kenangan yang pernah kalian buat dan jangan pernah kau katakan penyesalan jika kau tidak mau mencoba untuk mengampuninya.”
Hyo Jin menepuk bahu Min Young dan meninggalkan dirinya sendiri.

Min Young POV
Aku mencoba mengenang semuanya.
Mengenang kembali saat yang telah aku lalui bersamanya dulu.
Aku ingat saat ia berkelahi dengan Dong Wook Oppa.
Aku ingat saat ia mengampuniku walaupun aku telah berkata mianhae berpuluh-puluh dan telah menyakiti hatinya berulang-ulang kali.

Kenangan yang terakhir itu seolah-olah menyadarkanku dari tidur panjangku.
Menyadarkanku agar penyesalan yang terasa di dalam hatiku sekarang.
Aku sadar bahwa seharusnya aku malu.
Malu karena aku tidak dapat membalas semua pengampunan yang ia berikan kepadaku dulu.

Aku berlari menuju kamar Seung Hyun.
Terus berlari tanpa mempedulikan apa pun.
Aku ingin segera memeluknya dan berkata “mianhae” di telinganya.
‘Mianhae...Oppa....aku menyesal....’
End of Min Young POV
---------------------------------------------------------
Min Young terlambat sampai di kamar inap Seung Hyun.
Tempat tidur yang tadinya ditempati sekarang sudah tertata rapi.
Min Young hanya dapat memandang sebuah ruangan kosong tanpa penghuni,namun ia menyadari bahwa ada sebuah amplop yang tertinggal di atas meja.

Min Young membuka amplop itu dan mendapati sebuah tiket konser di dalamnya.

BIG BANG
BIG SHOW CONCERT 2008

Melihat tulisan itu,tanpa berpikir dua kali,Min Young segera berlari keluar rumah sakit dan pergi menuju konser itu.
---------------------------------------------------
Min Young memasuki gedung konser dengan nafas terengah-engah,yang terdengar olehnya hanyalah gemuruh tepuk tangan V.I.P disusul nada lagu Lies yang sudah hampir berakhir itu.
Ia menengok ke arah panggung.
Ia kaget melihat Seung Hyun sudah berdiri di sana dengan member lainnya.
Yang ia rasakan sekarang hanya lah rasa khawatir sekaligus bahagia.
Entah mengapa ia senang melihat Seung Hyun yang terbaring lemah tadi malam dapat kembali ceria seperti yang ada di atas panggung sana.

“Min Young~a!”
Suara orang yang dikenalnya membuat Min Young berbalik dan tersadar akan lamunannya.
“Onnie!” panggil Min Young sambil tersenyum.
Hee Sung yang memanggil namanya tadi ikut tersenyum rindu.
Mereka berdua berdiri di antara V.I.P lainnya dan menikmati konser pada hari itu.
“Onnie,konser kali ini benar-benar ramai..” seru Min Young yang tiba-tiba membuka topik pembicaraan.
“Ye,mereka memang benar-benar sudah sukses sekarang,” ujar Hee Sung.

Namun,belum lama mereka berbicara sang MC sudah terlebih dahulu membuat mata mereka memandangi panggung.
“Oke,beri tepuk tangan untuk Big Bang!” teriaknya.
“Sekarang mari kita bertanya kepada para member mengenai konser pada malam ini…”
“Malam ini adalah malam yang paling menyenangkan,jika kami mengingat masa-masa kami sebelum debut,semuanya terasa tidak nyata,” aku Ji Yong.
“Oke,jawaban itu sudah mewakilinya,dan untuk TOP,menurutmu apa yang paling penting dalam konser kali ini?” tanya MC lagi.
Seung Hyun hanya diam saja saat disuguhi pertanyaan itu,namun matanya melihat ke sekeliling.
Ia mencari seseorang di bangku penonton.
Kemudian ia menunjuknya.

Mata Min Young membelalak tak percaya.
“Onnie,ottoke? Seung Hyun menunjuk ke arahku? Sebenarnya apa yang hendak ia lakukan?” Min Young bertanya dengan panik ke Hee Sung yang ada di sebelahnya.
Hee Sung hanya tersenyum tak peduli.
“Oke,Nona yang di sebelah sana bisa tolong maju ke depan!”
Kali ini keadaan menjadi semakin parah.
Min Young hanya membeku di tempat dan melirik Hee Sung dengan pandangan penuh harapan.
Namun bukannya membantu,Hee Sung malah mendorong badan Min Young agar menuruti perintah sang MC.
Akhirnya karena teriakkan V.I.P di sekitar,Min Young memberanikan dirinya untuk naik ke atas panggung.

Min Young POV
Kulihat beratus-ratus V.I.P atau mungkin beribu-ribu orang memandang ke arahku di atas panggung ini.
Aku hanya bisa menunduk malu untuk meredam rasa gugupku.

Sebenarnya apa yang hendak dilakukan Seung Hyun?
Apa maksudnya dengan menunjukku tadi?

Tiba-tiba MC mengajukkan pertanyaan lagi.
“Sebenarnya siapakah agasshi ini?”
Aku hanya memandang ke arah Seung Hyun yang berdiri di sampingku.
Ia tersenyum ke arahku sebelum menjawab pertanyaan itu.
“Ia adalah kunci keberhasilanku,” katanya.

Aku terharu mendengar kata-katanya itu.
Namun tiba-tiba saat aku merasa kegugupanku berakhir,Seung Hyun menciumku.
Ia menciumku di depan beribu-ribu V.I.P dan sekarang yang dapat kulakukan hanya lah menutup mata.
Menerima segalanya.

Air mataku kembali mengalir.
Merasakan semuanya tidak pantas untukku.
Aku belum meminta maaf kepadanya.

Seung Hyun melepaskan ciumannya.
Ia memandangku lekat.
“Mianhae...aku tidak akan meninggalkanmu lagi kunciku..karena tanpa dirimu...walaupun sesukses apapun diriku,tetapi aku tidak akan dapat membuka gerbang kebahagiaan.”
Ia membisikkan kalimat indah itu di telingaku dan mengalungiku sebuah kalung kunci.
Kalung yang memang terlihat biasa,tetapi sangat berarti bagiku dan aku berjanji tidak akan pernah melepasnya.
End of Min Young POV
------------------------------------------------------------

Label: ,