Rabu, 30 September 2009
Ga tau kenapa minggu ini gw pengen terus ngeshare fan fic (FF) gw di sini haha...
Tapi yang kali ini cuma one shot dulu yah...itung'' buat selingan sama yang chaptered *digeplak sama yang nungguin*...
Oke,gw mau cerita sedikit tentang FF yang ini...
FF One Shot ini sebenernya tuh FF One Shot yang pertama gw buat jadi maaf maklum yang soal bahasa en ke-geje-an dari ceritanya haha,,,apa lagi endingnya..*mau tau..??* *makanya baca* *maksa*
Idenya ga tau dapet dari mana..padahal banyak yang bilang dapet idenya dari DBSK Banjun Drama,tapi sebenernya bukan siyh...
Tapi kayaknya gw dapet idenya dari filmnya si Jay Chou yang judulnya Secret ntuh tuh..*tau ga?* *ahh..masa ga tau* *gaul dikit dong makanya* *dilempar sepatu sama yang baca*
Ya udah deh..selamat membaca en jangan lupa komen...*boleh di chatbox..ato boleh di wall FB gw*
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Unforgettable
Minggu ini jadwal manggung DBSK sedang senggang,semua membernya sedang bersiap-siap untuk pergi dan bersenang sejenak,ada yang mau pergi kel uar kota untuk berlibur tapi ada juga yang memutuskan untuk tetap tinggal di Seoul.
Itu lah rencana liburan yang diambil oleh Yoo Cheon,walaupun semua teman-temannya telah mengajaknya untuk liburan bersama,tetapi ia tetap memutuskan untuk tinggal.
---------------------
Yoo Cheon POV
“Ya,Hyung mau liburan bersama kami?” tanya Chang Min yang sedang membereskan barang-barangnya untuk liburan besok.
“Malas ahh~ aku sekarang sedang mau menikmati pemandangan kota Seoul,” tolakku sambil bercanda.
Memang aku sekarang sedang bosan dan malas untuk pergi-pergi.
Sejak DBSK jadi terkenal dan jadwal di Jepang menjadi padat,jarang sekali aku dapat berjalan-jalan lagi di kota Seoul ini.
“Ya! Aku pergi dulu yah...mau cari angin di luar,” pamitku pada Chang Min yang masih sibuk dengan perlengkapannya itu.
End of Yoo Cheon POV
---------------------
Sore itu udara di tengah kota Seoul agak sejuk...
Enak sekali untuk berjalan kaki dan melihat kesibukan yang ada di sana.
Yoo Cheon ingin menikmati kembali pemandangan kota sibuk yang akhir-akhir ini ia tinggalkan.
Ia berjalan di tengah-tengah pertokoan yang tidak terlalu ramai,ia melihat ada toko sepatu,ada cafe yang mulai ramai dikunjungi oleh pengunjung,dan sebuah galeri lukisan.
Pertamanya ia hanya melewati galeri itu,galeri itu terlihat sepi dan sudah tua,tetapi ternyata ada seorang perempuan yang sedang melukis di dalamnya.
----------------------
Yoo Cheon POV
Siapakah perempuan itu?
Kenapa yang melukis hanya dia seorang?
Bukannya ini galeri lukisan yah?
Seharusnya banyak yang melukis dong?
End of Yoo Cheon POV
----------------------
Yoo Cheon yang penasaran akhirnya mendorong pintu.
“Annyeonghaseo,” sapanya.
Min Hee Sung yang sedang serius dengan lukisannya tersebut kaget dengan kehadiran Yoo Cheon.
“Oh,annyeong!” sapa Hee Sung sambil meletakkan kuasnya di atas palet cat.
“Aku hanya ingin melihat-lihat lukisan saja,” jawab Yoo Cheon canggung.
“Oh,silahkan!” balas Hee Sung.
“Tetapi,kenapa hanya Anda seorang diri saja yang berada di sini? Bukannya ini galeri lukisan yah,seharusnya banyak yang datang mengunjungi dong?” tanya Yoo Cheon penasaran.
“Oh,dulu galeri ini memang ramai dikunjungi orang tapi sekarang sudah ditinggalkan orang,katanya siyh karena galeri ini sudah tua,” jawab Hee Sung.
----------------------------
Yoo Cheon POV
Kasihan juga perempuan ini hanya seorang diri mengurus galeri ini.
Oh yah,siapa yah namanya?
Aku lupa bertanya.
“Oh yah,kalau boleh tahus siapa nama Anda?” tanyaku.
“Namaku Hee Sung...Min Hee Sung imnida,” jawabnya.
Namanya lumayan bagus yah...
“Namaku Yoo Cheon...Park Yoo Cheon,” jawabku.
“Kalau boleh tahu,apakah lukisan-lukisan di sini kau yang melukisnya?” tanyaku penasaran soalnya dari tadi yang aku lihat hanya lukisan berwarna hitam putih saja,tidak ada satu pun yang berwarna atau menggambarkan keceriaan.
“Tidak juga siyh,tapi kebanyakan siyh iya karena tidak ada yang mau memamerkan lukisannya di galeri ini sejak dua tahun yang lalu,” akunya.
“Oh begitu...” balasku sambil melihat lukisan-lukisan yang dipajang di dinding.
Aku benar-benar heran padanya,kenapa ada seorang perempuan berani sedirian di galeri tua ini dan lukisan yang dibuatnya itu walaupun indah tapi tidak ada satu pun yang menggambarkan kebahagiaan.
End of Yoo Cheon POV
-----------------------------
Drrrt....Drrrt...Drrt....
Handphone Yoo Cheon bergetar.
“Yeoboseyo?” tanyanya kepada sang penelepon.
“Chang Min a,ada apa?” lanjutnya.
“Hyung,ayo cepat kembali,katanya Yun Ho Hyung mau mentraktir kita malam ini!” seru Chang Min di telepon.
“Araseo,” jawab Yoo Cheon sambil menutup handphonenya itu.
“Hee Sung,mian sekarang aku harus pulang karena ada acara penting,besok aku akan datang lagi ke sini” pamit Yoo Cheon.
“Oh baiklah....” jawab Hee Sung yang kembali melanjutkan lukisannya yang tadi.
--------------------------------
Saat perjalanan pulang ke rumah Yoo Cheon masih berpikir tentang perempuan yang bernama Min Hee Sung itu.
Tentang lukisan-lukisan aneh dan sedih yang dilukisnya tadi,karena hal itu Yoo Cheon bergitu penasaran dengannya dan berencana untuk mencari tahu tentang dirinya lebih jauh lagi.
--------------------------------
“Annyeong!” sapa Yoo Cheon sambil mendorong pintu galeri.
Hari ini ada sesuatu yang berbeda di galeri itu,Hee Sung tidak terlihat dari luar galeri sedang melukis seperti kemarin.
Yoo Cheon yang bingung,mencari Hee Sung ke ruangan-ruangan kecil di galeri itu.
Ternyata Hee Sung sedang menggantung lukisan-lukisan yang baru selesai ia lukis kemarin.
Lagi-lagi lukisan-lukisan hitam putih yang digantungnya.
“Annyeong,” sapa Yoo Cheon.
“Annyeong,mian yah hari ini aku agak sibuk,” balas Hee Sung sambil tersenyum.
“Oh,boleh kah aku membantumu?” Yoo Cheon menawarkan bantuan.
“Tentu saja,” kata Hee Sung sambil memberikan lukisan yang akan digantungnya kepada Yoo Cheon.
Tapi tidak sengaja tangan Hee Sung tersentuh oleh Yoo Cheon.
-------------------------------
Yoo Cheon POV
“Oh,boleh kah aku membantumu?” aku menawarkan bantuan kepadanya.
“Tentu saja,” katanya sambil memberikan lukisan yang akan digantungnya kepadaku.
Tapi tidak sengaja tanganku menyentuh tangannya.
Aku kaget saat merasakan tangannya.
Apa yang terjadi padanya?
Kenapa tangannya dingin sedingin es?
“Hee Sung,apa yang terjadi padamu? Kenapa tanganmu dingin sekali?” tanyaku.
Ia tidak menjawab,ia hanya tersenyum padaku.
“Tenang saja,aku baik-baik saja,ini memang sering terjadi padaku tetapi nanti juga aku akan normal lagi,” jawabnya tanpa ada rasa khawatir sedikitpun.
Aku bingung dengan jawabannya itu.
Bagaimana seorang yang dingin seperti itu baik-baik saja keadaannya?
“Yoo Cheon,kau mau belajar melukis?” ajaknya sambil mengantungkan lukisan-lukisannya.
“Boleh saja,tetapi asal kau tahu aku ini tidak mempunyai bakat sedikit pun dalam melukis,” jawabku sambil tertawa.
“Itu bukan masalah,asal kau mau.....dan kalau kau mau kau bisa datang ke sini tiap hari untuk belajar melukis bersamaku,bagaimana?” ajaknya.
Minggu ini aku memang tidak ada kerjaan di rumah,daripada bosan mending aku belajar melukis.
Ideitu menurutku tidak terlalu buruk.
“Boleh,” jawabku sambil menggantung lukisannya.
End of Yoo Cheon POV
---------------------------------
Karena ajakan Hee Sung itu,maka Yoo Cheon sangat setiap hari datang ke galeri itu untuk belajar melukis.Sampai suatu hari Yoo Cheon bertanya....
“Hee Sung,aku ingin melukis ruangan di galeri ini,tetapi aku ingin melukisnya bersamamu,mau kah kau membantuku?”
Hee Sung tidak menjawab pertanyaannya itu.
“Bagaimana? Boleh yah? Karena hari ini hari libur terakhirku,tolonglah....” kata Yoo Cheon memohon.
“Baiklah,tetapi kali ini aku ingin melukis menggunakan cat warna,” jawab Hee Sung.
“Oke,aku juga sudah bosan melihatmu menggambar hitam-putih terus,” protes Yoo Cheon yang hanya bercanda saja.
“Baiklah,ayo kita mulai sekarang,” kata Hee Sung.
------------------------------------
Yoo Cheon POV
Ada hal aneh yang terjadi padanya hari ini.
Kenapa hari ini ia ingin melukis menggunakan cat warna?
Biasanya ia selalu menolaknya jika aku bertanya atau menawarkan soal hal itu.
Tapi setidaknya aku sudah bahagia ia mau melukis bersamaku.
“Oke,aku akan melukis duluan,tetapi kau duduk di sebelahku saja karena mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu,” kataku.
“Baiklah,” jawabnya dan duduk di sebelahku.
--------------------------------------
Sudah dua jam lebih aku menggambar seketsa dari lukisan dan saatnya untuk mengecatnya.
Karena aku ingin Hee Sung yang mewarnainya,maka mememanggilnya tetapi ternyata ia sudah tertidur pulas karena terlalu lama menungguku.
“Hee Sung...Hee Sung...,” aku memanggilnya.
Ia tetap saja tidak mendengarku,aku menyentuh pipinya.
Seperti biasa ia terasa sangat dingin dan pucat.
Karena merasa mimpinya sangat damai,maka aku mengelus-ngelus pipinya itu lalu aku berbisik kepadanya,”Hee Sung,aku pergi membeli makanan dulu yah...”
End of Yoo Cheon POV
--------------------------------------
Yoo Cheon kembali dengan dua buah plastik belanjaan di kedua tangannya.
Saat Yoo Cheon masuk ke dalam galeri ternyata Hee Sung sudah bangun dari tidur nyenyaknya itu.
“Kau baru bangun?” tanya Yoo Cheon sambil meletakan palstik belanjaan di atas meja.
“Tidak juga,aku sudah bangun saat tadi kau pergi,” jawab Hee Sung santai sambil melukis.
“Kalau begitu,kau makan dulu...tadi aku membelikanmu bulgogi,” Yoo Cheon menyerahkan salah satu bungkusan makanan di tangannya.
“Tidak perlu repot,” kata Hee Sung menolak.
“Sudah,ini aku tulus memberinya untukmu...lagian dari tadi kau belum makan dan wajahmu sudah pucat begitu,” paksa Yoo Cheon.
“Tidak,aku tidak butuh apa-apa darimu!” teriak Hee Sung yang kemudian melempar kuas catnya.
Yoo Cheon bingung dengan apa yang telah dilakukan Hee Sung barusan,padahal ia berbicara baik-baik tetapi mengapa Hee Sung menjawabnya dengan kasar.
Hee Sung berjalan menuju jendela besar di galeri,dilihatnya hujan turun dengan derasnya di luar galeri,lama kelamaan ia menangis.
“Hee Sung,sebenarnya kau ini kenapa? Tadi kau membentakku dan sekarang kau malah menangis,” tanya Yoo Cheon bingung.
Hee Sung tidak menjawabnya tapi beberapa saat kemudian Hee Sung membuka suaranya.
“Yoo Cheon,ini permintaanku yang terakhir kalinya,bisakah kau memelukku?” pinta Hee Sung masih tetap melihat ke arah luar jendela.
---------------------------------
Yoo Cheon POV
Permintaannya yang terakhir ini sangat mengejutkanku.
Tapi tangisannya semakin kecang saja,karena tidak tega maka aku mendekatinya kemudian memeluk tubuhnya yang dingin itu dari belakang.
“Yoo Cheon,gomawo karena telah menemaniku minggu ini,” katanya.
“Sama-sama,lagipula aku juga bahagia bersamamu minggu ini,tapi sayangnya besok aku harus kembali ke Jepang untuk konser di sana,” jawabku dengan nada kecewa.
Setelah aku mengatakan seperti itu,ia melepaskan tanganku yang sedang memeluk pinggangnya itu.
“Sudahlah...aku doakan agar konsermu itu dapat berjalan dengan baik,” balasnya sambil tersenyum ke arahku.
Aku terpukau dengan senyumannya itu,lalu menempelkan bibirku ke bibirnya dingin itu.
Ia membalas ciumanku itu dengan hangat.
End of Yoo Cheon POV
--------------------------------
Malam itu,Yoo Cheon merasa mendapatkan kebahagiaan yang indah di minggu liburannya itu.
Keesokan harinya,ia kembali menyempatkan diri untuk mengunjungi Hee Sung terakhir kalinya sebelum ia pergi ke Jepang.
Seperti biasa,dengan wajah berseri-seri karena mengingat kejadian sore kemarin.
“Hee Sung?” tanya Yoo Cheon sambil mendorong pintu galeri.
Tidak ada yang membalas sapaannya itu.
“Hee Sung? Di mana kau?” tanya Yoo Cheon sekali lagi.
Karena tidak dapat menemukan Hee Sung,maka Yoo Cheon mencari ke setiap ruangan di galeri itu.
Sampai akhirnya ia tiba di suatu ruangan yang lukisannya berbeda dari ruangan lainnya.
Di ruangan itu lukisannya berwarna,tidak seperti di ruangan lainnya yang terisi oleh lukisan-lukisan hitam puith yang kusam.
Yoo Cheon melihat lukisan-lukisan itu.
“Sebenarnya kapan ia menggambar ini semua? Dan sekarang ia di mana? Hee Sung?” tanya Yoo Cheon.
Lukisan-lukisan itu menggambarkan saat-saat Yoo Cheon bersama Hee Sung.
Ada lukisan yang menggambarkan Yoo Cheon sedang belajar melukis,ada juga lukisan yang menggambarkan Yoo Cheon yang pertama kali masuk ke galeri dan berkenalan dengan seorang perempuan.
Semuanya itu seperti foto-foto yang menggambarkan kenangannya indahnya bersama Hee Sung.
“Hee Sung?!” teriak Yoo Cheon yang sekarang frustasi karena tidak bisa menemukan Hee Sung.
Yoo Cheon mengelilingi ruangan dan ia melihat selembar kertas di atas meja.
-------------------------------------
Yoo Cheon,gomawo karena telah mau meluangkan minggu liburanmu bersamaku.
Minggu ini aku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah kurasakan sebelumnya.
Jangan pernah lupakan aku,karena aku pun tidak akan pernah mau melupakanmu sampai kapan pun.
Hee Sung
-------------------------------------
Yoo Cheon POV
Sebenarnya apa maksudnya ia menuliskan ini semua?
Sekarang di mana dia?
End of Yoo Cheon POV
-------------------------------------
Yoo Cheon berlari keluar galeri kemudian pergi menuju toko sepatu di sebelah galeri itu.
“Ajusshi,kau tahu Hee Sung pergi ke mana?” tanya Yoo Cheon.
“Hee Sung,pemilik galeri sebelah?” tanya Ajusshi penjual sepatu.
“De,de,” balas Yoo Cheon.
“Ia sudah meninggal dua tahun yang lalu karena kecelakaan mobil,masa kau tidak tahu? Ngomong-ngomong buat apa kau mencarinya?” jawabnya.
Karena jawaban itu,mata Yoo Cheon langsung melotot kaget.
“Tidak mungkin,kemarin aku baru saja bertemu dengannya,mana mungkin dia sudah menginggal!” teriak Yoo Cheon.
--------------------------------------
Label: One Shot Fan Fic (TVXQ)
Sabtu, 19 September 2009
Wish
Seorang gadis termenung sendirian di sebuah cafe.
Ia hanya melihat dan mengaduk gelas minuman yang ia pesan.
Ia memperhatikan orang-orang yang ada di cafe itu juga.
Ada yang sedang bercanda bersama teman,ada juga yang sedang bermesraan bersama pacar.
Semua gambaran itu terpampang jelas dalam benaknya.
Min Young POV
Aku iri sekali dengan orang-orang di sini.
Semuanya memiliki pasangan.
Mereka semua merasa bahagia.
Aku benar-benar iri dengan mereka semua.
Mengapa hari-hariku ini benar-benar membosankan?
Aku iri dengan yang apa mereka rasakan.
Saat aku pergi ke cafe seperti ini,aku selalu mendapati meja di depanku kosong.
Saat aku pergi ke bioskop,aku hanya mendapati kursi di sebelahku kosong.
Saat aku sedih,aku hanya menangis sendiri.
Semuanya itu begitu membosankan dan sepi.
Aku ingin merasakan bagaimana ada seseorang yang selalu ada di sampingku dan selalu menghiburku saat aku sedih ataupun kesepian.
End of Min Young POV
“Ya! Min Young~a!” seseorang memukul pelan meja yang ditempati Min Young.
Min Young yang sedang melamun ke arah lain,langsung kaget dan menatap orang itu.
“Joongie! Kau ini! Benar-benar! Kau membuatku kaget tahu!” protes Min Young.
“Ssstt....jangan keras-keras,” kata Jae Joong sambil tersenyum.
“Araseo,” jawab Min Young singkat.
“Ngomong-ngomong,kau sendirian saja?” tanya Jae Joong membuka topik baru.
“Iya,seperti biasa...oh yah,kau kenapa bisa di sini? Bukannya jadwalmu bersama DBSK sangat padat?”
“Memang,tetapi sepadat-padatnya jadwalku,aku masih ada waktu bersantai.”
“Oh,kalau begitu gunakanlah waktu santaimu dengan baik,” Min Young segera berdiri dari kursinya dan bersiap untuk pergi.
“Kau mau ke mana?” tanya Jae Joong.
“Aku masih ada urusan,” Min Young melangkah meninggalkan Jae Joong.
Jae Joong POV
Aku dan Min Young sudah bersahabat dari SMA,dulunya kami sering mengobrol atau berpergian bersama,tetapi sejak aku diterima menjadi member DBSK,aku jadi jarang menemuinya.
Jadwalku sangat padat,namun minggu ini managerku berkata aku memiliki waktu untuk berlibur kira-kira lima hari,dan untungnya aku bertemu kembali dengannya.
Walaupun selama aku tidak bertemu dengannya aku sering chatting ataupun meng-emailnya,namun aku masih ingin bertemu dengannya dan berbagi cerita.
Tetapi,sayangnya mengapa ia malah ingin cepat-cepat pergi.
Aku tahu kalau ia sok sibuk.
Minggu ini kan dia tidak ada kuliah,jadi mana mungkin dia sibuk.
Tetapi,aku selalu merasa kasihan terhadap dirinya.
Ia selalu pergi seorang diri ke mana-mana.
Apakah ia tidak kesepian melalui hidup ini sendirian?
Kulihat dirinya sudah menghilang di kejauhan.
Lalu kulihat meja yang tadi ditempatinya.
Ternyata ia meninggalkan sesuatu di atas meja.
Ia meninggalkan sebuah tissue.
Sepertinya ia menggunakannya bukan untuk mengelap tetapi untuk menulis.
Mengapa aku harus merasa kesepian seperti ini?
Aku ingin kursi di hadapanku terisi.
Aku ingin saat aku kesulitan membawa sesuatu,ada oran yang membantuku.
Aku ingin saat aku menonton bioskop,ada orang yang mengisi kursi di sebelahku.
Aku ingin saat aku menangis,ada yang menghapus air mataku.
Aku ingin saat aku ada masalah,ada yang mau mendengarkan keluh-kesahku.
Aku ingin ada orang yang selalu menemaniku.
Aku sudah bosan merasa sepi dalam kesendirian ini.
Melihat tulisan itu,aku hanya tersenyum.
Selama ini aku meningra dirinya kuat,dirinya tidak membutuhkan siapa-siapa.
Tetapi,dugaanku ternyata benar.
Ternyata ia hanya orang yang rapuh dan kesepian.
‘Min Young~a,aku akan mengabulkan permintaanmu selama minggu ini,’
End of Jae Joong POV
----------------------------------------------------------
Min Young POV
Ting...Tong...Ting...Tong...
‘Oh tidak! Siapa yang datang ke apartmenku pagi-pagi begini?!’ aku menutupi telingaku dengan bantal.
“Min Young! Min Young!” seseorang yang berteriak di luar sana akhirnya membuatku bangung dari mimpi indahku.
“Changkaman!” teriakku yang setengah sadar.
Akhirnya aku menemukan pintu apartmenku.
Aku membukanya.
“Min Young~a,kau ini benar-benar pemalas!” teriak orang yang baru kubukakan pintu itu.
Mendengar suaranya,aku langsung tahu dan membelalak.
“ Joongie! Kau...” belum sempat aku melanjutkan kata-kataku,namun ia sudah membungkam mulutku dengan tangannya dan mendorongku masuk.
“Bisa tidak kau tidak berteriak-teriak memanggil namaku,bisa-bisa aku akan ketahuan,” katanya.
‘Memang benar sih dengan penampilan yang ia gunakan sekarang,aku mengetahui dirinya sedang menyamar,’ kataku dalam hati.
“Hhhmmppp,” aku mencoba melepaskan tangannya dari mulutku.
Ia melepaskannya.
“Kau mengapa bisa datang ke sini?” tanyaku bingung.
“Memang kenapa? Aku hanya mau berkunjung ke apartmenmu saja.”
“Tetapi,bagaimana kau bisa tahu alamat apartmenku?”
“Sudahlah,mengapa kau bertanya soal itu? Oh yah,lebih baik kau mandi sekarang karena aku ingin kau menemani liburanku.”
“Tapi...tapi....aku ada kuliah,” aku mencoba berbohong.
“Kau bohong kan? Waktu itu saat kita chatting,kau bilang minggu ini kau libur kuliah.”
Ya ampun! Aku lupa! Mengapa saat itu aku memberitahunya? Babo Ya!
Padahal aku ingin liburanku ini tidak terusik orang lain.
“Tapi....” aku masih tidak rela menemani liburannya.
“Tidak ada tapi..tapian...pokoknya kau harus menemaniku,jadi sekarang sebaiknya kau mandi,” ia mendorongku untuk segera mandi.
Akhirnya dengan hati terpaksa aku menuruti kemauannya.
End of Min Young POV
-----------------------------------------------------
Sementara Min Young mandi,Jae Joong hanya duduk di sofa ruang tengah.
‘Jadi selama ini ia hanya tinggal seorang diri di sini?’ gumamnya dalam hati.
Karena mulai bosan,maka Jae Joong berkeliling.
Saat sampai di dapur,ia mendapat sebuah ide.
Lalu ia membuka kulkas.
-----------------------------------------------------
“Joongie~a!” Min Young mencari Jae Joong sambil mengelap rambutnya yang masih basah.
“Aku di sini,” Jae Joong keluar dari dapur.
“Buat apa kau...” Min Young terkejut dengan apa yang dibawa Jae Joong.
“Ini sarapan untukmu,” Jae Joong membawa dua piring sandwich di kedua tangannya.
Min Young hanya dapat terkejut karena selama ia tinggal sendiri di apartmen ini tidak ada seorang pun yang pernah membuatkan sarapannya.
“Waeyo? Kau tidak suka?” Jae Joong membangunkan Min Young dari lamunannya.
“Anio,aku hanya...sudahlah,aku mau makan,”Min Young merebut piring itu dari tangan Jae Joong.
“Araseo,ayo kita makan,” Jae Joong tersenyum.
------------------------------------------------------
Hari ini Jae Joong mengajak Min Young ke bioskop.
“Kau mau menonton apa,Joongie?” tanya Min Young sambil melihat-lihat poster yang dipajang.
“Kau jangan memanggil namaku keras-keras di sini,” bisik Jae Joong.
“Araseo,mian..kalau begitu kau mau menonton apa?” Min Young bertanya lagi.
“Aku mau menonton Star Trek saja....kemarin Yoo Cheon bilang film itu bagus,” Jae Joong tetap berbisik.
“Baiklah,aku beli tiket dulu,” Min Young pergi ke loket.
---------------------------------------------------------
Min Young POV
Hari ini apa yang telah terjadi padanya?
Mengapa tiba-tiba dia datang ke apartmenku dan mengajakku pergi?
Biasanya ia hanya sibuk dengan jadwalnya dan hanya mengajakku chattining sebentar.
Walaupun ia bertingkah aneh hari ini,namun aku bahagia akhirnya salah satu permintaanku yang selama ini aku inginkan terwujud.
Aku ingin saat aku menonoton bioskop,kursi di sebelahku tidak kosong.
Dan itu terwujud hari ini,hari ini Joongie menempati kursi kursi di sebelahku.
Walaupun ia bukan yang pacarku namun setidaknya aku senang karena sekarang aku merasa tidak sendirian.
--------------------------------------------------------------
“Joongie~a,kau tidak merasa dingin?” aku bertanya kepadanya.
Ia hanya diam tidak menjawab pertanyaanku.
“Kau ini benar-benar aneh..aku bertanya malah tidak menjawab,” protesku.
Namun,tiba-tiba ia memelukku.
“Aku tidak akan kedinginan jika kau mau menemaniku seperti ini,” bisiknya.
Jantungku berderup kencang.
Sebenarnya ada apa dengan diriku ini?
‘Apakah aku mulai menyukainya?’ tanyaku dalam hati.
Aku berusaha melepaskan diriku dari pelukannya namun ia tetap menahanku.
End of Min Young POV
--------------------------------------------------------------
Kejadian di bioskop kemarin telah membuat Min Young takut akan ajakan Jae Joong.
Min Young takut perasaan itu muncul kembali saat dirinya bersama Jae Joong.
Namun,di kesokkan harinya Jae Joong tetap mengajak Min Young pergi.
Walaupun Min Young sudah beralasan kalau ia harus mengunjungi orang tuanya,tetapi Jae Joong tetap saja tahu akan kebohongan itu.
“Joongie~a,kemarin kan aku sudah menemanimu pergi,jadi untuk hari ini biarkan lah aku sendiri,” pinta Min Young.
Sebenarnya di dalam hatinya,Min Young senang bahwa sekarang ada orang yang mau menemaninya,tetapi ia ingin orang itu bukan Jae Joong.
Karena ia berpikir bahwa tidak seharusnya ia menaruh perasaan terhadap Jae Joong.
Jae Joong itu sahabatnya sendiri dan sekarang ia memiliki banyak fans,jadi dirinya pastinya tidak pantas untuk seorang Jae Joong.
“Adwe...kau harus menemaniku,kemarin kan kau sudah berjanji dan janji itu untuk seminggu,” protes Jae Joong.
“Aku tidak bisa karena...”
“Karena apa? Kau sama sekali tidak sibuk!”
“Tapi aku harus...”
“Sudahlah,kau selama ini merasa kesepian kan? Jadi kau jangan bohong padaku.”
Mendengar kata-kata Jae Joong yang terakhir ia jadi tidak dapat membalasnya lagi karena memang selama ini ia merasakan hal itu.
‘Padahal dua hari yang lalu aku sendiri yang membuat permintaan agar ada seseorang yang mau menemaniku,tetapi sekarang saat ada yang mau melakukannya untukku...aku malah menolaknya...’ kata Min Young dalam hati.
“Sudahlah,dari kemarin kerjaanmu hanya termenung sendiri saat aku mengajakmu…pokoknya kau tidak boleh mengingkari janji itu,” Jae Joong menarik tangan Min Young untuk mengikutinya.
-------------------------------------------------------
“Sekarang kau mau membawaku ke mana lagi?!” teriak Min Young sambil hendak melepaskan tangannya dari cengkraman Jae Joong.
“Hari ini kau harus menemaniku untuk belanja,” kata Jae Joong.
“Belanja untuk apa?” tanya Min Young bingung.
“Besok kita akan pergi ke Pulau Jeju,” Jae Joong tidak menghiraukan wajah kaget sekaligus bingung yang tertera di wajah Min Young.
“Mwo? Bagaimana bisa? Siapa yang mau ikut denganmu ke sana?!” Min Young terus mengoceh.
“Kau sudah janji mau menemani liburanku,ya sudah turuti saja,lagipula semuanya aku yang bayar kok!”
Wajah Min Young yang tadinya tidak setuju otomatis lesu dan terpaksa patuh.
--------------------------------------------------------
Jae Joong POV
Rencanaku untuk mengajaknya ke Pulau Jeju merupakan rencana yang terakhir.
Aku harap ia tidak membenciku lagi sejak kuperlakukan sebagai ‘tour guide’ dari kemarin.
Lagipula aku juga sedikit bingung dengannya.
Bukannya kemarin ia ingin ada yang menemaninya,tetapi sekarang mengapa ia menolakku.
-------------------------------------------------------
“Akhirnya kita sampai juga!” teriakku.
Aku melihat wajah Min Young di sampingku tidak sebahagia wajahku.
“Waeyo?” aku bertanya kepadanya.
Namun,ia hanya diam saja.
“Min Young~a,mengapa kau tidak bahagia? Padahal aku sudah berusaha mengajakmu ke sini,” aku mengatakan hal itu dengan sejujurnya.
“Anio,aku memang senang karena aku bisa pergi ke sini,tetapi mengapa aku harus pergi denganmu?” protesannya dimulai kembali.
Apa yang barusan ia katakana?
Apakah ia membenciku?
Ia membenciku karena aku memaksanya?
End of Jae Joong POV
-------------------------------------------------------
Min Young POV
Kata-kataku barusan benar-benar keterlaluan mungkin,tetapi apa boleh buat.
Aku harus berpura-pura untuk tidak menyukainya.
Aku harus menjauhkan diriku darinya.
“Terserah katamu,” katanya.
Aku bisa melihat mimik tidak suka dari wajahnya setelah kukatakan kata-kata yang menyakitinya barusan.
Ia mengajakku melihat air terjun.
Indah sekali...sudah lama rasanya aku tidak pergi ke sini.
“Min Young~a,ayo kita berfoto...” ajak Joongie.
Aku segera berlari mendekatinya,namun aku malah terpeleset dan akhirnya semua bajuku basah semua.
Aku menggigil kedinginan,namun bukannya membantu,Joongie malah memoto diriku.
“Joongie~a! Hentikan itu!” teriakku.
“Mian..hahaha...” ia mentertawaiku.
“Mian,ini!” ia melemparkan jaketnya.
Walaupun aku kedinginan,tetapi aku bisa bahagia dalam hatiku melihatnya tertawa seperti itu.
Saat sore harinya,Joongie masih saja mengajakku pergi.
Padahal aku sudah merasa tidak enak badan,tetapi apa boleh buat..ia terus memaksaku dan mengira aku berbohong lagi seperti kemarin,jadi aku harus menurutinya.
Ia mengajakku melihat matahari terbenam di pinggir pantai.
Pertamanya aku bosan melakukan hal itu,tetapi setelah melihat pemandangannya,aku menjadi terpukau dan memutuskan untuk duduk di pinggir pantai.
“Min Young~a,apa kau kesepian selama ini?” ia bertanya kepadaku sambil duduk di sebelahku.
Pertamanya aku tidak menghiraukannya.
Namun,aku memutuskan untuk menggeleng.
“Gojitmal,” bisiknya.
Ia mengeluarkan selembar tissue dari kantongnya.
“Ini punyamu kan?” katanya sambil menyerahkannya padaku dan aku jelas tahu itu milikku,tetapi bukannyawaktu itu aku meninggalkannya di cafe?
“Mengapa ini bisa ada di tanganmu?” tanyaku.
“Rahasia,” bisiknya.
End of Min Young POV
------------------------------------------------------------
Setelah perbincangan di pinggir pantai itu.
Min Young mengurung dirinya di kamar hotel.
Tok...Tok...Tok....
Suara ketukan pintu membangunkan Min Young dari tidurnya.
“Nuguseo?” teriaknya pelan.
Ia melangkah menuju pintu dan membukanya.
Namun,setelah membuka pintu ia malah merasa semuanya gelap.
-------------------------------------------------------------
Jae Joong POV
Aku mengetuk pintu kamar Min Young.
Ia membuka pintu,namun tiba-tiba ia tumbang ke arahku.
“Min Young~a....” aku menepuk-nepuk pipinya.
Pipinya terasa panas,lalu aku menentuh dahinya.
Rupanya ia terserang demam.
Mungkin ini semua salahku,aku terus memaksakan dirinya untuk terus menemaniku.
“Mianhae,” bisikku.
Aku mengendongnya ke tempat tidur.
Lalu aku pergi ke kamarku untuk mencari obat penurun demam.
Saat aku kembali,aku mendapatinya sedang mengigau.
“Joongie~a,mianhae!” katanya.
Aku memperhatikannya dengan benar-benar karena aku tahu apa yang ia ucapkan itu pasti tulus dari hatinya.
“Saranghae…mianhae karena seminggu ini aku menutupinya darimu,” akunya sambil tidak sadar.
Aku menciumnya lembut.
“Saranghae,Min Young~a” kataku.
Sebenarnya saat dulu aku bersahabat denganmu,aku sudah mencintaimu tetapi kau selalu saja berlaku kasar dan sok kuat.
Kau selalu berkata, ‘aku akan bertahan walaupun hanya sendirian’
Tetapi,saat minggu ini aku tahu bahwa sebenarnya kau memiliki hati yang rapuh.
Saat aku membaca tulisanmu di café waktu itu,aku berjanji akan mengabulkan permintaanmu karena aku pikir jika aku dapat mengabulkan permintaanmu maka kau akan menganggapku bukan hanya sahabat,namun sebagai orang yang kau perlukan setiap saat.
End of Jae Joong POV
-------------------------------------------------
Keesokkan harinya,Min Young bangun dengan wajah yang bingung.
“Joongie~a..irona..” Min Young mencoba membangunkan Jae Joong yang tertidur di samping tempat tidurnya.
Namun,Jae Joong tetap saja tidak menghiraukan panggilannya.
Lalu Min Young menemukan sebuah tissue di dekat tangan Jae Joong.
Min Young~a…
Jangan menipu dirimu sendiri…
Karena aku juga mempunyai perasaan yang sama terhadap dirimu.
Jika kau menerimaku untuk selalu di sisimu,kau harus mencium tanganku…
Tetapi kalau kau menolak kau boleh memukul kepalaku.
-------------------------------------------------
Min Young POV
Aku hanya bisa tertawa melihat tulisan itu.
‘Mianhae Joongie…selama ini aku membohongi perasaanku sendiri,aku tidak tahu kalau sebenarnya kau menaruh perasaan kepadaku,’ kataku dalam hati.
Lalu aku memukul kepalanya dengan keras sekali.
“Awww….sakit!” teriaknya.
Aku tahu ia pura-pura tidur.
“Min Young,kau tega sekali padaku!”
Aku tidak mendengarkan hal itu,namun aku menciumnya duluan.
“Saranghae,Joongie~a..” bisikku.
“Na do saranghae,Min Young~a…responmu ini benar-benar lambat,” balasnya.
End of Min Young POV
---------------------------------------------------
Label: One Shot Fan Fic (TVXQ)
Rabu, 16 September 2009
Your Love is All I Need
Dear Diary,
Menjadi manager DBSK memang terlihat seperti pekerjaan yang menyenangkan,namun sebenarnya itu anggapan itu salah besar.
Orang melihatku dapat bersama pria-pria tampan itu adalah sebuah kebahagiaan.
Tetapi,fakta itu sama sekali salah.
Mulai dari pagi hari,aku harus bangun lebih pagi melihat dan menyusun jadwal mereka.
Setelah itu,belum lagi seharian aku harus ikut bersama-sama dengan mereka ke mana pun.
Dua puluh empat jam dalam sehari rasanya tidak cukup untukku,aku ingin merasakan kebebasan sebenarnya,tetapi apa boleh buat.
Rasa lelahku juga ditambah dengan suruhan-suruhan dari para member DBSK,apalagi orang yang bernama Jun Su itu.
Ia sangat menjengkelkan,selalu saja ia menyuruhku melakukan ini dan itu,padahal kan ia bisa melakukan pekerjaan itu sendiri.
Namun setidaknya rasa lelahku ada yang sedikit terlupakan karena Jae Joong.
Walaupun aku tidak seberapa dekat dengannya.
Tetapi,setidaknya ia selalu berlaku baik padaku,ia sering menyuruhku untuk memperhatikan kesehatanku dan ia juga sering membantuku menyelesaikan pekerjaanku.
Kata-kata terakhirku pada hari yang melelahkan ini adalah....
Aku berharap Jun Su dapat menjadi orang seperti Jae Joong agar tidak selalu merepotkanku.
Jun Su POV
Aku tidak sengaja membaca tulisan itu dari buku harian milik Jung Hwang.
Padahal tadinya aku ingin menyuruhnya untuk membeli persediaan cemilan yang sudah habis.
Tetapi,saat aku panggil namanya berulang kali ia tetap saja tidak merespon.
Akhirnya aku menuju meja kerjanya,dan ternyata ia sudah tertidur pulas di sana.
Ia tidak sadar telah membiarkan buku hariannya dalam keadaan terbuka,dan aku juga tidak sengaja meliriknya.
“Jung..” aku berniat membangunkannya,namun tiba-tiba aku mengurungkan niatku itu.
Mungkin karena tadi telah membaca buku hariannya itu.
Saat aku membaca kata-kata hatinya itu,aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku telah keterlaluan kepadanya selama ini.
Karena tidak jadi membangunkannya,maka aku pergi keluar asrama dan berjalan menuju mini market.
Aku membeli cemilan kesukaanku,tetapi saat aku melewati lemari minuman,aku jadi teringat dengan Jung Hwang.
Aku menjadi memikirkan kata-katanya di buku itu.
Ia berharap diriku dapat lebih perhatian kepadanya.
Meingat kembali kata-katanya itu,muncul suatu ide cemerlang di kepalaku.
Aku berniat membelikannya minuman.
End of Jun Su POV
-------------------------------------------------
Jung Hwang POV
“Hhmmm~” erangku sambil membuka mata.
Aku baru menyadari bahwa semalam,aku ketiduran di meja kerjaku.
‘Oh,tidak semalam aku lupa menutup buku harianku,’ teriakku dalam hati dan menutup buku harian itu.
Aku berharap tidak ada yang membacanya.
Karena jika ada salah satu member DBSK yang membacanya,pasti aku akan menghadapi masalah besar.
Apalagi jika yang membacanya Jun Su,semua akan menjadi runyam.
Aku bangkit dari kursi dan bersiap-siap menuju kamar mandi.
Namun,tidak sengaja mataku melihat sebuah kaleng susu yang terletak di ujung meja.
‘Siapa yang membelinya? Perasaan tadi malam aku tidak membeli minuman apa-apa,’ tanyaku dalam hati.
Tapi,tak apalah lumayan juga ada minuman gratis di pagi hari seperti ini.
Lalu kuangkat kaleng itu dan berniat untuk membukanya,tetapi aku melihat sebuah notes di sisinya.
Gomawo karena telah berkerja keras selama ini.
Aku tahu sekaleng susu ini tidak setimpal dengan usahamu selama ini.
Akan tetapi,cobalah untuk memperhatikan kesehatanmu.
Jangan ketiduran di meja lagi..
Sebenarnya ini minuman dari siapa?
Apakah dari Jae Joong?
End of Jung Hwang POV
---------------------------------------------------------
Jun Su tersenyum kecil di ruang tengah saat melihat Jung Hwang meminum susu pemberiannya.
Jung Hwang yang melihat Jun Su tersenyum ke arahnya langsung berkata,”apa yang kau lihat? Memang ada apa dengan diriku?”
Mendengar kata-kata itu Jun Su menyimpan senyumnya kembali.
“Tidak,aku hanya memikirkan tentang hal lain...” balas Jun Su.
“Ngomong-ngomong,bagaimana rasa minuman itu? Apakah enak?” Jun Su bertanya kembali sambil menunjuk kaleng minuman yang berada di genggaman Jung Hwang.
“Oh,tentu saja enak...karena yang memberikannya adalah Jae Joong,” sindir Jung Hwang.
Mendengar jawaban itu,rasa kecewa langsung terukir di hati Jun Su.
“Ya sudah,terserah kau sajalah,” Jun Su memalingkan wajahnya dan berpura-pura menonton televisi.
Lalu Jun Hwang yang juga tidak merasa bersalah dengan santainya melanjutkan perjalanannya menuju kamar mandi.
----------------------------------------------------------
Jun Su POV
Dia memang benar-benar menyebalkan!
Katanya ingin diberi perhatian,tetapi sekarang apa balasannya?
Ia malah berkata padaku bahwa Jae Joong lah yang memberikan minuman itu.
Padahal kemarin malam,Jae Joong sudah tertidur pulas sama seperti dirinya jadi mana mungkin ia bisa membelikan minuman.
End of Jun Su POV
----------------------------------------------------------
Usaha Jun Su yang gagal itu tidak berakhir di situ saja.
Ia mencoba kembali usahanya.
Sejak saat itu,setiap pagi Jun Su tidak lupa meletakan sebuah kaleng susu untuk Jung Hwang.
Namun,setiap pagi pun Jung Hwang masih mengira bahwa yang memberinya adalah Jae Joong.
---------------------------------------------------------
“Jung Hwang,pali!” teriak Jae Joong dari dapur.
“De,changkaman!” balas Jung Hwang sambil berlari membawa belanjaan.
“Hari ini kita mau masak apa?” tanya Jung Hwang sambil tersenyum.
“Mungkin hari ini kita buat steak,” jawab Jae Joong sambil mengeluarkan barang-barang dari kantong belanjaan.
“Baiklah,kau harus mengajarkannya padaku,” balas Jung Hwang.
“Araseo,” Jae Joong membentuk tangannya seperti lambang oke.
Jun Su POV
‘Perutku lapar sekali,apakah Jae Joong sudah masak atau belum?’ tanyaku dalam hati sambil melangkahkan kaki ke dapur.
Biasanya jam segini Jae Joong akan bersiap-siap masak untuk makan malam.
Namun,belum sampai aku masuk ke dalam dapur,aku mendengar suara tawaan.
Aku coba mengintip dari balik pintu.
Aku merasakan perasaan yang aneh.
Aku merasa iri kepada Jae Joong.
Saat Jung Hwang bersamanya ia terlihat bahagia,mereka dapat bercanda-canda.
Tetapi,saat ia bersama denganku,ia hanya menjawab pertanyaanku dengan sinis.
Walaupun akhir-akhir ini aku selalu berusaha perhatian kepadanya,tetapi ia selalu saja tidak mempedulikan usahaku,dan usahaku malah dikiranya sebagai usaha Jae Joong.
Betapa kecewanya diriku.
Namun,walau aku sudah diacuhkan seperti itu,ada sebuah perasaan yang selalu mendorongku untuk tetap bertahan.
Tetapi sejak perasaan itu muncul aku selalu bertanya-tanya dalam hatiku...
Apakah mungkin perasaan itu disebut cinta?
Apakah mungkin aku sudah mulai menaruh hati kepadanya selama ini?
End of Jun Su POV
--------------------------------------------------
Hari ini DBSK mengadakan pemotretan untuk album terbarunya.
Karena hal ini Jung Hwang semakin sibuk saja hari ini,ia harus mengurusi jadwal,mengurusi perlengkapan,dan banyak hal lagi.
Jung Hwang POV
Hari ini benar-benar melelahkan,barang yang harus dibawa masih banyak.
‘Bagaimana caranya membawa ini semua?’ tanyaku dalam hati.
Saat aku berniat membawa barang-barang itu,tiba-tiba sebuah tangan sudah terlebih dahulu mengambilnya.
“Biar aku saja,” katanya.
“Jun Su?” aku kaget melihatnya membantuku.
Selama ini ia tidak pernah berlaku begitu baik kepadaku.
“Jinja?” aku keceplosan bertanya.
“De,tenang saja...aku benar ingin membantu kok,” ia tersenyum kepadaku.
Ada apa dengannya hari ini?
Mengapa ia berlaku seperti itu kepadaku.
Biasanya ia hanya menyuruh-nyuruhku untuk melakukan yang aneh-aneh sampai kelelahan,tetapi..
Hari ini ia lain,ia malah membantuku.
Sebenarnya apa yang telah terjadi pada dirinya?
Apakah ia sudah sadar akan kesalahannya selama ini?
End Jung Hwang POV
---------------------------------------------------
Jun Su POV
Aku benar-benar sudah tidak memperhatikan sama sekali gengsiku hari ini.
Walaupun semua member sudah berada di lokasi untuk bersiap-siap diambil gambarnya,namun aku rela kabur sebentar untuk membantunya.
Pertamanya aku beranggapan,ia akan mengetahui perasaanku walaupun aku memperlakukannya baik secara diam-diam.
Namun,anggapanku benar-benar salah besar.
End of Jun Su POV
----------------------------------------------------
“Jae Joong~a,gomawo atas minumannya selama ini,” kata Jung Hwang.
“Hah? Minuman apa?” tanya Jae Joong.
“Ini,” Jung Hwang menunjukkan kaleng minuman yang juga didapatkannya hari ini di meja kerjannya.
“Minuman itu....minuman itu bukan dariku,” balas Jae Joong.
“Jadi ini dari siapa?” tanya Jung Hwang pada dirinya sendiri.
“Memang kau mendapatkannya di mana?” tanya Jae Joong penasaran.
“Ini...ini...” belum sampai Jung Hwang menjawabnya tiba-tiba Jun Su datang dan menarik tangannya.
“Ya!” teriak Jung Hwang.
“Ikut aku sekarang!” bentak Jun Su.
Jae Joong yang melihat itu hanya bisa terbengong-bengong dan bingung dengan tingkah Jun Su yang tidak seperti biasanya.
Jun Su POV
Aku sudah mempedulikan apa-apa.
Aku benar-benar cemburu saat Jung Hwang bersama Jae Joong tadi.
Pertanyaan yang sama masih bergemuruh di kepalaku.
Mengapa hubunganku dengannya tidak bisa sedekat hubungan Jae Joong dengannya?
Padahal segala usaha telah kulakukan.
Aku menarik tangannya.
“Ya! Hentikan!” teriaknya.
Aku tidak menghiraukan teriakannya sampai di sebuah taman dekat asrama.
Kulepaskan cengkraman tanganku di lengannya.
“Kau ini benar-benar..” belum ia selesaikan kata-katanya,aku sudah mencium bibirnya.
Ia memberontak,namun aku mendekapnya kuat dan masih tidak melepaskan bibirku dari bibirnya.
Setelah ia memukul dadaku karena kehabisan nafas,aku baru menghentikan aksiku.
“Apa yang kau lakukan?!” ia membentakku sambil menangis.
Dia sudah mau berlari,namun aku cegah.
“Tunggu...dengar dulu penjelasanku!” teriakku.
“Aku mau menjawab pertanyaanmu yang itu,” lanjutku.
Ia diam sejenak.
“Yang memberimu minuman itu setiap paginya adalah aku,” jawabku pelan.
“Aku tidak bermaksud memaksamu untuk memaafkan aku,tetapi selama ini telah bersalah kepadamu,aku selalu menyuruhmu tanpa memperhatikan perasaanmu,selama ini aku selalu memperlakukanmu seperti pembantu.....mianhe,” aku berkata sambil menunduk.
“Saat membaca buku harianmu itu,aku baru sadar bahwa aku memang keterlaluan,dan sejak saat itu aku memutuskan untuk berubah,namun kau tetap saja menganggap bahwa semua perhatian yang kuberikan itu berasal dari Jae Joong,” aku masih melanjutkan ocehanku.
“Awalnya aku kecewa namun lama-kelamaan aku cemburu,dan menyadari bahwa aku jatuh cinta kepadamu dan semua kebaikanmu selama ini....saranghae,Jung Hwang,” aku akhirnya memberanikan diri mengucapkan kata-kata itu.
Jung Hwang yang tadinya diam mendengarkan kata-kataku itu,tiba-tiba menangis semakin keras dan seolah-olah pergi tanpa mempedulikan kata-kataku sebelumnya.
End of Jun Su POV
--------------------------------------------------------
Jung Hwang POV
Aku tidak menyangka ia akan mengatakan kata itu kepadaku.
Aku memang tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya selama ini,tetapi saat mengetahui ia yang selama ini memberiku minuman itu setiap paginya....
Aku menjadi memikirkan semua anggapan burukku selama ini.
Selama ini aku beranggapan bahwa ia adalah seseorang yang sombong dan tidak pernah peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Namun,hanya karena diriku seorang ia rela merubah sifatnya.
Aku berlari setelah mendengar kata-katanya itu.
Aku tidak sanggup mendengarnya lebih lanjut.
Namun karena terlalu terburu-buru aku tidak menyangka ada mobil yang tiba-tiba datang dari arah kanan.
Aku kaget dan sudah tidak dapat mengelak lagi.
Aku hanya menutup mataku dan pasrah terhadap apa yang akan terjadi.
Namun,tiba-tiba ada yang mendorongku dari belakang sampai aku terjatuh ke daerah rerumputan dan saat kubuka mata kemudian menengok ke arah belakang.
Aku tidak sanggup berkata-kata.
“Jun Su! Jun Su!” aku berteriak menghampiri Jun Su yang sudah bersimbah darah itu.
“Jun Su! Irona!” aku menggoncang-goncangkan tubuhnya.
Namun usahaku itu sia-sia saja.
----------------------------------------------------------
Saat itu aku baru menyadari akan suatu hal.
Saat ia masih berada di sampingku,aku tidak pernah menyadari akan seberapa pentingnya dia di dalam hidupku.
Saat ia sudah meninggalkanku,aku baru menyadari kalau aku membutuhkan cinta dan perhatiannya selama ini.
Namun segalanya sudah terlambat.
Penyesalanku juga sudah tidak berguna lagi.
Ia sudah meninggalkanku dan sekarang aku hanya dapat meningat-ingat akan kebaikan-kebaikannya selama ini ia berikan kepadaku.
Jun Su,aku akan selalu mengingat cinta dan pengorbananmu itu,karena setiap hari rasanya ada sesuatu yang kurang dalam hidupku ini,dan sesuatu itu adalah cintamu.
End of Jung Hwang POV
---------------------------------------------------
Label: One Shot Fan Fic (TVXQ)
Minggu, 13 September 2009
Heartquake
Jepang, 15 Mei 1998
Pagi itu matahari besinar sangat secerah,seorang gadis dari sebuah keluarga Korea yang berumur empat tahun bersiap-siap menginggalkan rumahnya untuk pergi ke sebuah taman.
“Omma...Appa...aku berangkat!” teriaknya sambil mengenakan sepatu.
Ia sangat riang membawa tasnya menuju taman di dekat rumah.
Tidak aneh jika ia tersenyum-senyum sendiri hari itu,hal itu disebabkan karena hari itu adalah hari ulang tahunnya.
Ia sudah tidak sabar melihat hadiah-hadiah apa saja yang diberikan teman-temannya.
Cuaca hari itu sangat cerah,namun tidak menyangka bahwa hari itu terjadi gempa dashyat.
Terdengar teriakan-teriakan minta tolong,namun siapa yang dapat menghentikan gempa itu.
Gadis mungil yang tadinya tersenyum bahagia,dalam sekejap berganti mimik muka menjadi wajah yang ketakutan.
Ia tidak tahu harus melakukan apa,tanpa berpikir panjang akhirnya ia berlari kembali ke arah rumahnya.
Namun sayang usahanya sudah terlambat,seluruh bangunan termasuk rumahnya telah menjadi puing-puing yang berserakan di tanah.
“Omma! Appa!” sang gadis hanya dapat berteriak-teriak histeris mencari kedua orang tuanya.
Akan tetapi,ia tidak dapat menemukannya.
Sudah berpuluh-puluh kali ia meneriakkan kata-kata itu namun tidak ada yang membalas teriakkannya itu.
Sang gadis akhirnya berjongkok dan menangis.
“Appa...Omma...di mana kalian? Jangan tinggalkan aku sendiri di sini,” katanya sambil menangis.
Tiba-tiba sebuah tangan terjulur di depan wajah gadis itu.
Sang gadis melihat orang yang menjulurkan tangan itu.
Ia seorang anak laki-laki yang mungkin usianya sekitar dua belas tahun.
“Sudah jangan menangis,ke mana orang tuamu?” tanya anak laki-laki itu.
Gadis itu merasa tertolong karena anak laki-laki itu sama-sama orang Korea seperti dirinya.
“Mereka semua telah meninggalkanku,” jawab gadis itu sedih.
“Baiklah,mulai sekarang keluargaku akan merawatmu,” jawabnya.
------------------------------------------------
Korea,15 Mei 2009
Hee Lim POV
Sejak kejadian gempa dasyhat yang menimpa keluargaku di Jepang waktu itu aku hidup bersama keluarga Jung.
Tepatnya bersama Oppaku yang bernama Jung Yun Ho itu.
Sejak dua tahun lalu,Oppa pindah ke Korea untuk kuliah di sini dan aku ikut bersamanya.
Walaupun ia bukan Oppa kandungku,namun ia tetap aku anggap sebagai Oppaku.
Jika tidak ada dirinya saat itu,mungkin sekarang aku sudah menjadi gembel di Jepang sana.
Hari ini,hari ini tepat hari ulang tahunku.
Tahun lalu ulang tahunku berlalu dengan sederhana dan sepi.
Aku hanya merayakannya bersama Oppaku,namun walaupun hanya sederhana..
Aku berharap ia tidak melupakan ulang tahunku itu.
End of Hee Lim POV
Yun Ho POV
Pagi hari ini,malaikatku ulang tahun...
Saengil chukahamnida,Hee Lim~a...
Sudah peratus-ratus kali aku mengucapkan kata itu sejak tadi malam,aku tidak sabar membuat kejutan untuknya.
Hari ini aku pagi-pagi sekali aku bangun dan mengambil pesanan kue yang kemarin aku pesan.
Krek....
Kubuka pintu apartemen dengan perlahan.
Ternyata ia belum bangun.
‘Huh,lebih baik begitu,dengan begitu kejutanku dapat berjalan dengan lancar,’ ucapku dalam hati.
Setelah kupersiapkan segalanya,aku mulai membawa kue tart yang bertancapkan lilin angka lima belas tahun ke kamarnya.
“Hee Lim~a,irona,” kataku sambil tersenyum.
“Mmm~ Oppa,nanti saja aku masih mau tidur,” ia menolak untuk bangun.
Kutarik selimutnya dengan tanganku yang satu,namun ia malah menarik kembali dan bersiap untuk tidur kembali.
“Saengil chukahamnida...saengil chukahamnida,” aku bernyanyi.
Mendengar nanyian itu ia langsung terduduk dan terlihat wajahnya langsung berubah bahagia.
Ternyata rencanaku yang ini berhasil.
“Oppa! Gomapta....!!” teriaknya sambil memelukku.
“Aku kira Oppa akan melupakan hari ulang tahunku,” lanjutnya.
“Mana mungkin? Setiap tahun aku akan selalu ingat tanggal ini,ini tanggal di mana kita pertama bertemu juga kan?” ucapku.
“Sekarang kau tiup dulu lilin ini,lalu kita makan bersama kuenya,” lanjutku.
Ia pun meniupnya,kemudian mencolek cream kue dan memeperkannya di wajahku.
“Ya! Hee Lim!” balasku sambil memeperkan balik crem itu ke wajahnya.
End of Yun Ho POV
---------------------------------------------------
Setelah acara kejutan itu Hee Lim berangkat ke sekolahnya,sedangkan Yun Ho pergi ke tempat kerjanya.
Yun Ho yang sekarang bekerja di sebuah kedai kopi di Seoul dan Hee Lim yang berusia lima belas tahun itu masih duduk di kelas 10.
Hee Lim pergi ke sekolah dengan berjalan kaki.
Namun untungnya ia mempunyai seorang teman baik di sekolahnya dan untungnya lagi,teman baiknya itu populer di sekolah karena kekayaannya dan ketampanannya.
Jadi terkadang ia pergi ke sekolah dengan menumpang kendaraannya itu.
“Dong Hae,hari ini aku boleh ikut mobilmu kan ke sekolah?” tanya Hee Lim yang tidak sengaja bertemu Dong Hae di jalan.
“Pastinya,mari masuk,” Dong Hae membuka pintu mobilnya dari dalam.
Hee Lim segera masuk dan menutup pintu.
Baru saja ia duduk,tiba-tiba Dong Hae berteriak,”saengil chukahamnida!”
Ia menyodorkan sebuah kotak kecil.
“Gamsahae,Dong Hae~a!” Hee Lim segera menerima kotak itu.
“Aku kaget kau berteriak seperti itu,tetapi aku senang kok,” lanjut Hee Lim sambil tersenyum.
Dong Hae POV
Akhirnya aku dapat memberikan hadiahku itu kepadanya.
Sudah lama,aku menjadi sahabatmu Hee Lim,namun sebenarnya aku ingin hubungan kita lebih dari itu.
Mungkin ini saatnya untuk memulai hubungan yang lebih dengamu.
End of Dong Hae POV
--------------------------------------------
Hee Lim POV
Ulang tahun hari ini benar-benar membahagiakan..
Jarang sekali,aku mendapat banyak kado begini.
Biasanya hanya Oppa yang memberikan kado kepadaku,tetapi aneh sekali hari ini,Dong Hae saja ikut-ikutan memberi kado.
“Oppa! Aku pulang!” teriakku sambil membuka pintu apartemen.
“Oh,banyak sekali bawaanmu hari ini,” Oppa segera membantuku membawa kado-kado itu.
“Ini kado-kado dari teman-temanku,” jawabku.
“Tumben sekali tahun ini banyak yang memberimu kado,” katanya sambil meletakkan kado-kado itu.
“Aku sudah menyiapkan makanan malam,” lanjutnya.
“Araso,kali ini acara makan malamnya akan digabung dengan acara membuka kado,” kataku bersemangat.
Kubuka kado-kado dari teman-temanku satu persatu.
Banyak kado yang lucu,ada yang memberiku boneka,ada yang memberiku tas,kemudian ada juga yang memberiku CD Super Junior Sorry,Sorry.
Terakhir kado yang kubuka adalah kado dari Dong Hae.
‘Kira-kira apa isinya?’ tanyaku dalam hati sambil menggoyangkan kotak itu ke kiri dan ke kanan.
“Sudah cepat dibuka,daripada isinya sudah rusak karena kau goyang-goyangkan terus,” protes Oppa yang melihatku penasaran dengan isi kado itu.
“Araso,” kubuka kotak itu.
Ternyata isinya adalah sebuah kalung dengan liontin berbentuk malaikat.
“Nomu yeppo,” aku menangkat kalung itu tinggi-tinggi.
Lalu segera kukalungkan benda itu di leherku.
End of Hee Lim POV
Yun Ho POV
Ternyata hadiah dari sahabat baiknya yang bernama Dong Hae itu adalah sebuah kalung.
Kalung itu memang cantik,namun mengapa aku begitu iri kepada Dong Hae?
Apa karena aku cemburu melihatnya dapat membahagiakan Hee Lim lebih daripada yang bisa kulakukan?
Selama ini memang Hee Lim hanya menganggapku sebagai Oppa yang menyayanginya,namun aku menyayanginya bukan sebatas adikku.
Tetapi aku menyanyanginya,bahkan mencintainya sebagai seorang perempuan yang selalu mengisi hari-hariku ini.
Selalu membuat hari-hariku tidak terbuang percuma,tetapi ia membuat semua yang kualami ini berarti.
End of Yun Ho POV
--------------------------------------------------
“Hee Lim~a,pulang sekolah kau mau menemaniku berjalan-jalan tidak?” tanya Dong Hae.
“Hmm~ boleh,lagipula aku sedang tidak ada acara sepulang sekolah,” Hee Lim menyetujui ajakan Dong Hae sambil menutup pintu mobilnya.
“Baiklah,aku tunggu kau di depan kelasmu sepulang sekolah,” balas Dong Hae.
“De,annyeong!” Hee Lim pergi menuju kelasnya.
Sepulang sekolah,Dong Hae benar-benar menunggunya di depan kelasnya.
“Sekarang kau mau pergi ke mana?” tanya Hee Lim.
“Ke sebuah tempat yang menyenangkan,” jawab Dong Hae.
Ternyata ia membawa Hee Lim ke sebuah panggung band.
Hari itu yang sedang mengelar panggung adalah G-Dragon yang baru saja menrilis album pertamanya.
Banyak penonton yang datang untuk debut stage-nya pertamanya itu.
Awalnya,acara menonton penampilan G-Dragon itu berjalan dengan baik,sampai tiba-tiba Dong Hae menghilang dari sisi Hee Lim.
“Dong Hae! Dong Hae!” Hee Lim berteriak sambil melihat ke sekitarnya.
Sulit untuk menemukan Dong Hae di kumpulan orang yang ramai seperti itu.
“Dong Hae!” teriaknya sekali lagi,ia sudah mulai menangis karena tidak dapat menemukan Dong Hae.
Akhirnya Hee Lim berjongkok di tengah keramaian itu sambil menangis.
Memang setelah,kejadian gempa dashyat yang membuat dirinya menjadi seorang yatim piatu itu,ia menjadi takut akan kepergian.
Ia takut orang-orang di sekitarnya pergi meninggalkannya sendiri,sama seperti keluarganya yang telah meninggalkannya.
Tiba-tiba ada yang menepuknya dari belakang.
“Ya! Kenapa kau berjongkok di sini?” tanya Dong Hae.
“Ya! Ke mana saja kau?! Dari tadi aku berteriak-teriak mencarimu!” Hee Lim membentak Dong Hae.
“Aku...aku tadi hanya membeli minuman saja,” Dong Hae terbata-bata menjawab pertanyaan itu.
“Gwenchana?” tanya Dong Hae yang memastikan Hee Lim baik-baik saja.
“Sudah,aku mau pulang sekarang,” Hee Lim segera meninggalkan Dong Hae.
“Baiklah,aku antar kau!” teriak Dong Hae.
Hee Lim tidak merespon ajakan itu.
“Mianhe! Ya!” teriak Dong Hae yang merasa bersalah,namun tetap saja Hee Lim tidak berhenti dan berbalik ke arahnya.
------------------------------------------------------
Yun Ho POV
Sudah jam segini,namun ke manakah Hee Lim?
Biasanya ia sudah pulang sekolah.
Tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar ada orang yang membantingnya.
‘Mungkin itu dia,’ kataku dalam hati.
Tebakkanku benar,namun ada yang aneh dengannya hari ini.
Biasanya ia akan berteriak ‘aku pulang’ setiap ia membuka pintu.
Tetapi,ke manakah suara itu menghilang?
“Hee Lim,ke mana saja kau?” tanyaku penasaran.
Namun ia malah balas bertanya hal yang tidak ada hubungannya dengan pertanyaanku itu.
“Oppa,mengapa semua orang meninggalkanku?” ia menunduk sedih.
“Siapa yang akan meninggalkanku?” aku berjalan mendekat kepadanya.
“Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu sampai kapan pun,”saat aku berkata seperti itu Hee Lim menangis dalam pelukanku.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanyaku yang masih juga penasaran.
Kemudian ia menceritakan semua hal yang terjadi sebelumnya sambil duduk di sofa.
Saat mendengar ia pergi dengan Dong Hae,hatiku kembali merasa cemburu.
Tetapi,aku harus pura-pura bahagia di hadapannya agar ia dapat melupakan kesedihannya itu.
End of Yun Ho POV
------------------------------------------------------------
Karena terlalu lelah,Hee Lim tertidur di sofa ruang tengah apartemennya.
Yun Ho yang melihat hal itu hanya dapat memaklumi dan membiarkannya tidur.
Sambil menunggunya bangun,Yun Ho menyelesaikan perkerjaannya.
Namun,tiba-tiba lampu apartemen mereka padam.
Semuanya gelap gulita.
Yun Ho yang melihat keadaan seperti itu dengan segera mengambil senter di lemari dan berjalan ke arah Hee Lim yang masih tertidur di sofa.
Ia tertidur sangat nyenyak sampai tidak menyadari bahwa terjadi pemadaman listrik di apartemen mereka.
Yun Ho POV
Aku duduk di sebelahnya yang sedang tertidur itu.
Aku mematikan lampu senter yang kugenggam itu.
“Hee Lim~a,mengapa kau hanya menganggapku sebagai Oppamu saja?” bisikku.
“Apakah kau tidak mempunyai perasaan kepadaku?” lanjutku.
Kemudian aku mengelus-ngelus pipinya itu.
“Saranghae,Hee Lim~a...”
“Aku tahu cinta itu tidak harus memiliki,namun walaupun kau sudah menjadi milik orang lain,perasaanku terhadapmu ini tidak akan pernah aku hilangkan,”
Tidak tahu mengapa,tiba-tiba aku ingin menciumnya.
Kemudian tanpa sepengetahuannya,aku mencium bibir mungilnya itu.
End of Yun Ho POV
----------------------------------------------
Hee Lim POV
Tadi malam aku bermimpi sangat aneh.
Mengapa dalam mimpiku,aku dicium Yun Ho Oppa?
Ia kan Oppaku jadi mana mungkin ia melakukan hal itu.
End of Hee Lim POV
-----------------------------------------------
“Hee Lim~a!” teriak Dong Hae dari kejauhan.
Hee Lim hanya menengok ke arahnya sebentar,namun kemudian ia kembali berbalik setelah tahu siapa yang telah memanggil namanya itu.
“Changkaman!” Dong Hae menarik tangan Hee Lim.
“Ya! Sebenarnya kau mau apa sih?” Hee Lim berkata dengan singkat.
“Untuk masalah kemarin,jeongmal mianhe…aku tidak bermaksud meninggalkanmu sendiri di tempat itu,” Dong Hae member penjelasan.
“Sudahlah,aku sudah memaafkanmu tetapi aku tidak mau meningat-ingat masalah itu lagi,” Hee Lim segera berbalik dan berniat untuk meninggalkan Dong Hae.
Namun,Dong Hae berteriak,”saranghae Hee Lim~a!”
Hee Lim kaget dan berbalik.
“Saranghae,Hee Lim…mau kah kau jadi pacarku? Aku ingin kita lebih dari sekedar teman baik,” ualng Dong Hae.
Hee Lim bingung mau menjawab kata-kata Dong Hae barusan.
Setelah mendapatkan mimpi aneh tadi malam,ia semakin saja bingung dengan situasi yang dihadapinya sekarang ini.
“Hee Lim~a,mungkin kau tidak dapat menjawabnya sekarang,namun aku akan setia menunggu jawaban darimu itu.”
----------------------------------------------------
Hee Lim POV
Ottoke?
Apa yang harus aku lakukan?
Aku harus menerimanya atau menolaknya.
Namun,setelah mendapatkan mimpi aneh tadi malam..aku….aku….
‘Hee Lim~a! Apa yang kau pikirkan! Yun Ho Oppa adalah Oppamu sendiri!” gumamku dalam hati.
Tapi,sejak mendapat mimpi itu aku benar-benar selalu memikirkannya.
Sebenarnya apa yang terjadi pada diriku ini???
End of Hee Lim POV
-------------------------------------------------------
“Oppa!” teriak Hee Lim.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanyanya lagi.
“Memang kau ada masalah apa?” Yun Ho membalik.
“Dong Hae mau aku menjadi pacarnya,tetapi aku tidak tahu mau menerimanya atau tidak,” kata Hee Lim polos.
“Mengapa kau tidak menerimanya? Bukankah ia orang yang baik?” Yun Ho menutupi rasa cemburunya.
“Karena…karena aku sudah mempunyai orang yang aku cintai,” Hee Lim malu.
Yun Ho yang mendengar kata-kata itu langsung menatapnya serius.
“Memang siapa orangnya?” Yun Ho penasaran.
Setahu dirinya selama ini orang yang dekat dengan Hee Lim adalah Dong Hae seorang dan mana mungkin ia berpaling ke arah laki-laki lain.
“Orangnya adalah…” Hee Lim tidak sanggup menlanjutkan kata-katanya itu.
“Siapa?” Yun Ho berjalan mendekati Hee Lim.
“Orangnya ada di hadapanku sekarang,” Hee Lim menjawab sambil menutup mata.
Ia tidak dapat membayangkan bagaimana wajah Yun Ho saat mendengar kata-kata itu.
Namun,hal buruk yang dikiranya ternyata salah.
Tiba-tiba Yun Ho memeluknya dan berkata,”na do saranghae Hee Lim~a.”
Hee Lim membalas pelukan Yun Ho itu.
--------------------------------------------
Hee Lim POV
Ternyata selama ini,Oppa sudah memiliki perasaan terhadapku.
Namun,aku memang kurang peka.
Terkadang aku berpikir,betapa bodohnya aku sampai aku tidak menyadari ketulusan hati Oppa yang selama ini ia berikan kepadaku.
Dan aku percaya akan janjinya itu,ia satu-satunya orang yang berjanji tidak akan meninggalkan aku selamanya.
Lalu,nasib hubunganku dengan Dong Hae…
Sekaranga aku tetap bersahabat dengannya,walaupun sudah kutolak pernyataan cintanya itu.
Jika seandainya aku benar-benar menjadi pacarnya,aku akan merasa tidak pantas mungkin..
Karena ia terlalu baik untukku,ia patut mendapatkan seseorang yang lebih baik dari diriku ini…
End of Hee Lim POV
--------------------------------------------
Label: One Shot Fan Fic (TVXQ)