<xmp> <body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/plusone.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar.g?targetBlogID\x3d7457634820015561536\x26blogName\x3dBehind+the+Scene+of+My+Life\x26publishMode\x3dPUBLISH_MODE_BLOGSPOT\x26navbarType\x3dBLUE\x26layoutType\x3dCLASSIC\x26searchRoot\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/search\x26blogLocale\x3din\x26v\x3d2\x26homepageUrl\x3dhttp://chingzz-daily.blogspot.com/\x26vt\x3d-3169458302945196764', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script> </xmp>
Welcome

I've already left this blog but I will be happy if you still take a look on my old fan fiction :D

The Princess
Add your profile goes here.
Hi and Hello!
Let me introduce my name then~ Ching Ching is speakin' here! Scream out loud and be ready for the rockin' blog YEAH! This is the second blog I got here, the first is on LiveJournal, and I used that as my fan fiction park ♥♥ I'm Chinese who live in country named Indonesia, so I usually speak in Bahasa. I love lurking around at SOOMPI, check the request thread and help them all that had a problem about NG and GASOO poster. And by the way, I had a Tumblr. I use that page as my poster and banner gallery. So please welcome then~ I'll be glad to know that someone has visited it. I would to tell about my emptiness, problems and experiences on here.. So, just shut up and listen then! *LMFAO*.

Links
Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here Link Here

Archives
September 2009
Oktober 2009
November 2009

Layout ©

ME. kynzgerl
CODES. manikka
BRUSHES. 1 2
IMAGES. 1 2
The 2 paper heart: moargh.de
SOURCE. BLOGGER BLOGSKINS IMAGESHACK
Jumat, 23 Oktober 2009

Ya udah akhirnya setelah seminggu berlalu gw post lanjutannya...
Gw ga bisa banyak pesen soal gw terhimpit oleh waktu yang benar'' sempit..*geje dah*

--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Characters in this Chapter :
-Kim Min Young : murid yang baru naik kelas ke SMA yang hobinya dengerin musik
-Seung Hyun (TOP) : anak “beradalan”,kakak kelas Min Young,personil dari Big Bang
-Seung Ri (Victory) : temen sekelas sama Min Young yang juga personil Big Bang termuda
-Min Hee Sung : tetangga baru Seung Hyun yang ditaksir Seung Ri
-Young Bae (Tae Yang) : temen sekelasnya Seung Hyun dan personil dari Big Bang
-Ji Yong (G Dragon) : member Big Bang yang jago membuat lirik
-Dae Sung (D-Lite) : member Big Bang
-Eun Hye : teman baru Min Young yang hobinya baca ramalan bintang


Chapter 13

“Seung Ri~a,chukahae...hari ini kau boleh pulang,” kata Young Bae senang.
Seung Ri memang bahagia dirinya sudah diperbolehkan pulang.
Tetapi,sebenarnya di dalam benaknya ia masih saja memikirkan Hee Sung.
-----------------------------------------
Seung Ri POV
‘Hee Sung~a,aku hari ini sudah boleh pulang...dengan begitu aku akan segera bertemu denganmu dan akan segera menjelaskan tentang semua ini,’ kataku dalam hati.

Semua orang hari ini berbahagia,tetapi aku tidak.
Bagiku jika tidak ada kehadiaran Hee Sung di sini rasanya menjadi hampa.
Dari sejak aku siuman kemarin,aku terus bertanya-tanya mengenai dirinya ke semua orang dan dari cerita mereka aku mengetahui bahwa sepertinya ia juga merasakan perasaan yang sama dengan yang kurasakan sekarang.
Aku ingin minta maaf kepadanya.
Selama aku tidak sadarkan diri,ia selalu menyalahkan dirinya atas insiden ini.
Tetapi,sesungguhnya ini bukan kesalahannya,namun ini adalah sebuah kecelakaan.
Lagipula jika semua orang mau menyalahkan.
Semuanya bisa menyalahkan diriku saja,karena aku tidak berhati-hati waktu itu.
-------------------------------------------
Di waktu yang sama...
Hee Sung berjalan dengan kepala tertunduk.
Kemarin saat ia bertemu dengan Seung Hyun,Seung Hyun memberitahu bahwa hari ini Seung Ri sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit.

Hee Sung POV
Kerjaanku belakangan ini memang banyak.
Banyak orang yang memesan baju kepadaku.
Tetapi,dibalik kesibukan itu semua aku masih teringat pada Seung Ri.
Hari ini rasanya aku ingin sekali melihat dirinya keluar dari rumah sakit.

‘Apa sebaiknya aku kunjungi saja dia secara diam-diam?’
---------------------------------------------
Dari kemarin keinginan itu terus menghantui Hee Sung.
Akhirnya pada hari ini dia tidak dapat membendung semua keinginan itu.
Ia berlari ke rumah sakit.
Ia berharap agar Seung Ri belum meninggalkan ruangannya pagi ini.
------------------------------------------------
Nafas Hee Sung terengah-engah saat tiba di pintu utama rumah sakit.
‘Seung Ri~a,semoga diriku tidak terlambat,’ gumamnya pelan.
Hee Sung menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang membuatnya teringat akan peristiwa itu.
Rasanya sudah beberapa hari ia tidak melihat pemandangan itu di mata,namun sebenarnya pemandangan itu masih saja tidak dapat hilang dari pikirannya.
Hee Sung akhirnya sampai di depan kamar yang ditempati Seung Ri.
Ia masih dapat mendengar suara-suara ceria dari orang-orang yang dikenalinya selama ini.
‘Syukurlah,aku belum terlambat,’ Hee Sung mencoba mengintip dari kaca di pintu.
Padahal sebenarnya Hee Sung berniat untuk mendorong pintu itu.
Namun,tiba-tiba terlihat Omma Seung Ri sedang membereskan barang-barangnya.
Oleh karena itu keinginannya kembali diurungkan.
Saat ia melihat wajah Omma,Hee Sung menjadi mengingat-ingat akan rasa bersalahnya.

Setelah lama melihat keadaan Seung Ri secara diam-diam,tidak sengaja ia melihat mata Seung Ri menatapnya.
“Omona! Ottoke?” Hee Sung menjadi panik dan memutuskan untuk berlari menjauhi kamar itu.

Hee Sung POV
Mianhae,Seung Ri..
Sekarang aku hanya dapat melihatmu dari jauh saja,namun itu semua sudah membuatku lega.
Saat kau sekarat waktu itu,aku selalu yakin kau dapat sembuh kembali dan kau sekarang telah membuktikannya padaku.
Gomapta,Seung Ri~a....
------------------------------------------------
“Seung Ri~a,besok kita latihan bersama lagi,araseo?!” teriak Ji Yong bahagia.
“Araseo,tetapi aku merasa lebih asyik menonton TV di rumah daripada latihan,sudah lama tidak latihan aku menjadi malas jadinya,” Seung Ri memberi alasan sambil tersenyum.
“Ahh~ dasar kau ini,mentang-mentang baru sembuh..jangan menjadi pemalas!” ejek Young Bae.
Seung Ri membalasnya dengan muka cemberut.
Sementara yang lain masih saja melanjutkan candaan mereka,Seung Ri tidak sengaja melihat ke arah jendala di pintu.
Ia menangkap sebuah bayangan yang selama ini ingin sekali dilihatnya.
Karena merasa tidak percaya,maka ia memutuskan untuk turun dari tempat duduk yang didudukinya itu dan berlari keluar.
Namun,saat ia mencoba untuk menangkap bayangan itu,sayangnya bayangan itu telah pergi meninggalkannya lagi.

Seung Ri POV
Sebenarnya apa yang telah terjadi dengan diriku?
Apakah itu semua hanya khayalanku atau semuanya itu nyata?
Mengapa tiba-tiba aku melihat bayangan Hee Sung dari balik kaca itu?
Apakah ia benar-benar datang ke sini atau itu hanya halusinasiku belaka?
Tetapi,sesungguhnya aku ingin sekali dia berada di sampingku sekarang.
------------------------------------------------
Keadaaan hubungan Min Young dan Seung Hyun yang sudah berakhir membuat diri Seung Hyun berubah drastis.
Seung Hyun menjadi kembali pada dirinya yang dulu.
Seung Hyun yang sekarang sudah mulai berubah,kini kembali lagi pada sifat berandalannya yang dulu.

“Min Young~a,sebenarnya apa yang terjadi di antara kau dan Seung Hyun Oppa?” tanya Eun Hye tiba-tiba.
Min Young yang sejak tiga hari yang lalu selalu murung hanya dapat menarik nafas panjang setelah mendengar pertanyaan itu.
“Bukannya,kau sudah menjadi yoja chingu nya?” tanya Eun Hye yang terus mengoceh.
“Sudahlah,ini semua sudah berakhir,jadi kau tidak perlu mengungkit-ungkit itu lagi,” protes Min Young.
“Tetapi,kau tidak lihat perubahan drastisnya itu kan?”
Min Young wajar tidak tahu mengenai hal itu karena sejak hubungannya dengan Seung Hyun berakhir,ia selalu diam di kelas dan memasang wajah murung.
“Memang apa yang dilakukannya?” tanya Min Young yang terdengar agak penasaran.
“Kemarin kudengar dari teman-teman yang lain,ia mulai bolos lagi seperti dulu,” jelas Eun Hye.
Min Young yang mendengar itu pura-pura tidak tertarik dan kembali membendamkan wajah di balik kedua lengannya itu.
---------------------------------------------------
Min Young POV
Mendengar berita dari Eun Hye,aku sedikit terkejut.
Walaupun aku tadi pura-pura tidak menanggapinya,tetapi sebetulnya aku peduli akan hal itu.
Aku masih tidak percaya Seung Hyun yang pertama kali aku lihat itu kembali lagi.
Seung Hyun~a,mengapa kau kembali lagi ke jalan yang salah?
Apa karena waktu itu kau hanya berubah untukku saja?
Tetapi,aku ingin kau berubah untuk selamanya.
Aku ingin sifat-sifat yang aku lihat saat bersamamu tidak menjadi hilang begitu saja.
Tanpaku juga,kau bisa berubah demi kebaikanmu sendiri.

Aku sudah tahu,ia akan membolos ke mana.
Walaupun kemarin aku sengaja tidak datang bimbel karena hatiku sedang kacau.
Tetapi,hari ini aku memberanikan diri untuk datang kembali.

Seperti biasanya,aku menyusuri lorong yang biasa aku susuri sambil membawa buku-buku tebal yang aku biasa bawa.
Namun,hari ini hatiku agar berdebar-debar.
Tidak tahu mengapa aku takut bertemu dengannya karena aku merasa tidak pantas lagi untuk berdiri di hadapannya.

Kubuka pintu kelasnya...hatiku berdebar semakin kencang..
Kemudian aku mengalahkah masuk dengan wajah tertunduk.
Padahal tadi aku dengan beraninya mencoba untuk datang ke kelas ini,tetapi aku malah berkata dalam hati,’Tuhan,semoga hari ini Seung Hyun membolos.’
-------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Hari ini benar-benar sepi tanpanya,tapi apa boleh buat semuanya memang harus berakhir di sini.
Walaupun hubunganku telah berakhir,namun aku masih ingin melihat wajahnya.
Saat aku menatap ruang kelasku yang sepi ini,aku selalu mengingat-ingat saat bimbel bersamanya.
Saat kami tertawa bersama,saat aku menggodanya,dan saat aku mempertahankan hubunganku dengannya di hadapan Dong Wook.
Rasanya aku merindukan itu semua.

Krek…
Seseorang membuka pintu.
‘Siapa yang akan datang sesore ini,sekarang kan waktunya pulang sekolah,’ pikirku.
Namun,saat aku berbalik ingin mengetahui siapa kah wajah yang muncul.
“Oppa!” teriaknya.
“Min Young~a,buat apa kau datang ke sini?” aku berteriak galak.
Padahal aku tidak mau melakukan semua ini.
‘Mianhae,Min Young~a aku harus bersikap kasar terhadapmu,’ kataku dalam hati.
“Aku…aku hanya…”
“Sudahlah,aku sudah memutuskan tidak mengikuti bimbel lagi,jadi tidak perlu datang ke sini lagi!”
“Hajiman….”
“Sudahlah aku mau pulang!”
Aku mengambil tas ranselku di atas meja lalu meninggalkannya sendirian.
Aku dapat melihat wajahnya itu,ia terlihat sedih dan lesu,ia tidak terlihat seperti Min Young yang seperti biasanya.
Tetapi,aku berpikir mungkin jika ia bersamanya ia akan lebih bahagia daripada bersamaku.
--------------------------------------------------
Min Young hanya dapat terpaku saat Seung Hyun berkata dengan nada seperti itu terhadapnya.
Saat Seung Hyun meninggalkannya sendiri,ia hanya dapat diam dan tidak berkata-kata.
‘Eun Hye memang benar,dirinya yang dulu sudah kembali…tetapi mengapa? Mengapa ia berubah begitu cepat? Aku ingin sekali melihat Seung Hyun yang biasa aku panggil Oppa muncul kembali…Seung Hyun yang memiliki sifat jauh dari pikiran orang selama ini.’
Kata-kata itu tidak henti-hentinya diteriakan Min Young dalam hati.
Setelah Seung Hyun pergi,ia tidak langsung pulang,namun ia masih terus menatap ruang kelas dengan tatapan yang kosong sambil menangis.
--------------------------------------------------
Keesokkan harinya,Seung Ri yang sudah keluar dari rumah sakit masih saja dilarang Ommanya untuk masuk sekolah jadi akibatnya ia merasa bosan dengan aktfitas di rumahnya.

Seung Ri POV
Hari ini benar-benar membosankan.
Seharian aku dikurung di rumah,sementara yang lainnya dapat bersenang-senang di luar sana.
Aku ingin sekali berjalan-jalan di luar.
Sudah cukup kebosanan terus meliputiku saat di rumah sakit dan sekarang saatnya aku merasakan kebebasan lagi.
Lagipula Omma memang ada-ada saja,keadaanku sekarang sudah benar-benar baik jadi tidak perlu mengkhawatirkanku.
--------------------------------------------------
Seung Ri mengendap-endap keluar dari kamarnya.
Ia menengok keadaan di kanan dan kiri.
Ia takut Ommanya mengetahui niatnya untuk kabur.
Setelah keadaan aman,ia mulai keluar rumah dan berlari sekencang-kencangnya.

‘Untung saja Omma tidak di rumah dan akhirnya aku bisa menghirup kebebasan lagi,’ kata Seung Ri dalam hati.
Pada awalnya ia hanya berniat berjalan-jalan di dekat sekolahnya.
Sudah rindu rasanya tidak melihat bangunan itu,namun ia hanya dapat melihat dari luar saja karena sekarang akitifitas di dalamnya masih berjalan.
‘Sebaiknya ke mana aku harus pergi?’ tanyanya dalam hati.
Setelah berpikir agak lama akhirnya ia ingat kembali akan tujuannya kemarin.
-------------------------------------------------
Seung Ri POV
Akhirnya aku bisa datang ke bangunan ini lagi.
Aku sudah tidak sabar melihat wajah dan senyumannya itu.
Aku berlari menuju lantai dua,dan segera mengetuk pintu kamar di sebelah kamar Seung Hyun Hyung.
“Hee Sung~a!” kuketuk berkali-kali pintu itu sambil berteriak.
“Nuguseo?!” teriak seseorang dari dalam.
Aku tidak menjawab pertanyaan itu karena aku ingin kedatanganku di sini menjadi suatu kejutan untuk dirinya.
Kemudian pintu pun dibuka,aku melihat seorang wanita yang terlihat pekerjaannya.
Ia mengalungi meteran baju dan kain-kain di lehernya.
Namun,melihat hal itu aku hanya tersenyum dan langsung memeluknya.
Aku dapat melihat wajah kagetnya saat aku berlaku begitu kepadanya.
Aku berharap ia membalas pelukanku ini,tetapi semua itu lain.
“Ya! Lepaskan aku!” teriaknya sambil memukul punggungku.
Aku melepaskannya dan bertanya,”waeyo? Kau tidak kangen padaku?”
“Anio!” katanya galak.
“Sudah pergi sana! Aku tidak mau melihat wajahmu lagi!”
Aku belum sempat memberi penjelasan,tetapi Hee Sung sudah membanting pintu dengan keras.

Rasanya semua usahaku sia-sia belaka.
Demi datang ke sini padahal aku harus menerima caci maki dari Omma,tetapi aku tidak akan menyerah begitu saja.
Aku harus bisa mengembalikan sifatnya yang dulu.
-----------------------------------------------------
Di balik pintu,Hee Sung langsung terduduk di lantai dan menangis sejadi-jadinya sambil berkata-kata kepada dirinya sendiri.
“Seung Ri~a,mengapa kau datang ke sini?” katanya parau.
“Aku sudah berusaha untuk melupakanmu,tetapi mengapa kau datang lagi ke sini dan membuatku ingat akan dirimu lagi.”
“Aku tidak pantas berada di dekatmu,karena aku ini sumber kesialan atas dirimu,jika kau dekat-dekat denganku maka kau akan tertimpa bencana lagi.”
Hee Sung masih tidak sanggup bangkit berdiri,ia masih saja terus menyalahkan dirinya terhadap semua kecelakaan itu.
--------------------------------------------------------
Sementara,Seung Ri dengan wajah kecewa menuruni anak tangga.
Kepalanya tertunduk lesu.
“Ya! Seung Ri!” teriak seseorang.
Seung Ri yang mendengar panggilan itu segera menoleh dan menyahut,”Hyung!”
Kedua orang ini sama-sama kaget.
Seung Hyun kaget akan kedatangan Seung Ri di apartemennya karena setahunya Seung Ri seharusnya masih berada di rumah dan masih harus beristirahat.
Sedangkan,Seung Ri terkejut dengan kedatangan Seung Hyun karena walaupun ini merupakan apartemennya,tetapi saat ini masih jam sekolah oleh karena itu seharusnya Seung Hyun masih berada di sekolah.
“Hyung mengapa sudah pulang?” tanya Seung Ri penasaran.
Seung Hyun malah tidak menjawab pertanyaan itu dan balik bertanya,”kau sendiri bukannya baru sembuh jadi mengapa kau bisa pergi ke sini?”
Seung Hyun juga tidak menjawab,namun Seung Ri sudah tahu alasannya.
“Kau membolos lagi,Hyung?” tanya Seung Ri.
“Bisa dibilang iya,aku sedang tidak ada semangat,” jawab Seung Hyun santai.
“Tumben,biasanya kau sangat semangat ingin pergi ke sekolah,agar bisa bertemu dengan Min Young,benar kan?” goda Seung Ri.
“Sudahlah,kau jangan pernah sebut nama itu lagi,hubungan kami sudah berakhir,” jelas Seung Hyun.
“Mwo? Waeyo?” Seugn Ri kaget begitu mendengar penjelasan itu.
“Bukan karena apa-apa,tetapi demi kebaikanku dan Min Young,” kata Seung Hyun singkat.
“Hyung~a,aku boleh mampir ke apartemenmu tidak?” tanya Seung Ri.
“Silahkan saja,aku tahu pasti kau takut pulang ke rumah kan?” goda Seung Hyun.
Seung Ri yang tahu rahasianya terbongkar hanya bisa tertawa malu.
------------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Kebetulan Seung Ri mampir,aku akhirnya dapat bercerita dengannya.
Mungkin aku juga akan bercerita tentang keputusan terakhirku.
Aku juga mengetahui masalahnya dengan Hee Sung dan aku rasa perjuangannya lebih berat dibandingkan perjuanganku dulu mendapatkan Min Young.
------------------------------------------------------
Seung Hyun mempersilahkan Seung Ri duduk di sofa,sembari ia meletakkan ranselnya.
“Hyung~a,sebenarnya kau ada masalah apa dengan Min Young?” tanya Seung Ri yang masih juga penasaran.
“Kau sendiri sekarang masih ditolak oleh Hee Sung?” Seung Hyun malah bertanya balik dan mengalihkan pembicaraan.
“Iya begitulah…aku bingung dengannya,padahal waktu itu ia yang mencegahku untuk pergi,tetapi saat aku kunjungi dia,dia malah menyuruhku untuk menjauhinya,” kata Seung Ri lesu.
“Maksudmu? Memang kapan ia mencegahmu pergi?”
Akhirnya Seung Ri menceritakan tentang mimpi yang dialaminya itu,sebuah mimpi yang merupakan penentuan antara kehidupan dan kematian.

“Aku rasa Hee Sung hanya menipu perasaannya sendiri,aku yakin ia juga memiliki perasaan terhadapmu,tetapi mungkin karena Omma mu itu,” Seung Hyun memberikan semangat.
Seung Ri berpikir sejenak mengenai kata-kata Hyungnya itu.
‘Mungkin kata-kata Hyung benar,aku harus berusaha menunjukan cintaku sekali lagi padanya agar ia mengakuinya,’ pikir Seung Ri dalam hati.
“Seung Ri~a,aku rasa saat kau bisa mendapatkan hatinya,kau juga harus bisa menghadapi Omma mu itu,ia salah paham atas Hee Sung selama ini,” lanjut Seung Hyun.
“Baiklah Hyung,nasihatmu itu sungguh keren haha…” balas Seung Ri.
“Oh yah,ngomong-ngomong Hyung sebenarnya ada masalah apa dengan Min Young? Bukankah hubungan kalian waktu itu masih baik-baik saja?” tanya Seung Ri lagi.
Kali ini Seung Hyun tidak dapat mengelak lagi.
“Min Young….Min Young sudah dapat laki-laki yang lebih baik daripada diriku,” kata Seung Hyun pelan.
“Lebih baik ia memiliki pengganti yang benar-benar menyayanginya itu daripada ia terus-terusan bersamaku,” Seung Hyun masih saja menyalahkan dirinya.
“Sudahlah Hyung,” Seung Ri mencoba menghibur.
“Seung Ri~a,kau adalah satu-satunya orang yang kuberitahu mengenai rencanaku ini,” kata Seung Hyun.
“Kemarin Omma meneleponku dan memberitahuku bahwa Appaku mengirimku ke Jepang.”
“Mwo?! Hyung~a! Jinja?”
------------------------------------------------------------

Characters in this Chapter :
-Kim Min Young : murid yang baru naik kelas ke SMA yang hobinya dengerin musik
-Seung Hyun (TOP) : anak “beradalan”,kakak kelas Min Young,personil dari Big Bang
-Seung Ri (Victory) : temen sekelas sama Min Young yang juga personil Big Bang termuda
-Min Hee Sung : tetangga baru Seung Hyun yang ditaksir Seung Ri
-Young Bae (Tae Yang) : temen sekelasnya Seung Hyun dan personil dari Big Bang
-Ji Yong (G Dragon) : member Big Bang yang jago membuat lirik
-Dae Sung (D-Lite) : member Big Bang


Chapter 14

“Kemarin Omma meneleponku dan memberitahuku bahwa Appaku mengirimku ke Jepang.”
“Mwo?! Hyung~a! Jinja?” tanya Seung Ri yang kaget dengan apa yang barusan diucapkan oleh Seung Hyun.
Seung Hyun hanya menunduk dan terlihat frustasi.
“Hyung!” bentak Seung Ri.
“Kau tidak bisa bertindak begitu,di sini masih banyak yang masih membutuhkanmu,” lanjutnya.
“Aku tahu akan hal itu,tetapi sebaiknya aku pergi..aku ingin melupakannya,siapa tahu jika aku tidak melihatnya dalam jangka waktu yang lama,aku akan bisa melupakannya,” jawab Seung Hyun lemah.
Seung Ri tidak bisa membalas kata-kata Seung Hyun setelah mendengarkan alasan darinya.
“Hyung,memang kapan kau akan berangkat?” tanya Seung Ri.
“Mungkin hari Sabtu,” balas Seung Hyun.
“Omona,cepat sekali? Kau hanya memiliki waktu dua hari lagi?” tanya Seung Ri kaget.
Seung Hyun hanya diam sambil memikirkan kembali keputusan yang diambilnya ini.
---------------------------------------------
Ting...Tong...Ting...Tong....
Bel tanda berakhirnya sekolah telah berkumandang.
Min Young terlihat berbeda,apalagi sejak dirinya kemarin bertemu lagi dengan Seung Hyun.
Namun,sifat penasaran dan ingin tahunya sama sekali tidak berubah.
Walaupun Seung Hyun sudah menolak kehadirannya kemarin,tetapi hari ini ia ingin sekali melihat wajahnya.

Min Young POV
Aku berjalan menyusuri lorong yang kemarin aku susuri.
Walaupun kemarin dirinya melarangku untuk datang ke tempat itu,namun hatiku rasanya tidak tenang.
Aku merasa masih membutuhkan dirinya.
Sekarang walaupun ia sudah tidak menjadi milikku lagi,tetapi rasanya aku masih belum sanggup kehilangan dirinya.

Kelasnya tampak hening seperti biasanya.
Namun saat kubuka,aku tidak lagi melihat seseorang yang ingin kulihat.
Aku tidak lagi seseorang yang selalu bermalas-malasan di meja dekat jendela itu.
Aku hanya tertegun dan mengerti bahwa pasti hari ini Seung Hyun membolos lagi.
--------------------------------------------------------------
Keesokkan harinya Hee Sung masih saja berkutat dengan pekerjaannya.
Selama dirinya menjaga Seung Ri waktu itu,banyak sekali pekerjaannya yang terbengkalai.

Kring....Kring...
Telepon di apartemen Hee Sung berdering.
“Yeoboseyo?” tanya Hee Sung.
“De,Mr.Kim saya akan segera menyelesaikan pesanan Anda besok,” lanjutnya.
Ternyata Hee Sung mendapatkan telepon dari pelanggan setianya.
Sudah seminggu ini Hee Sung dibanjiri pesanan pelanggan.
-------------------------------------------------------------
Sementara itu,Seung Ri berhasil memaksa Ommanya untuk mengizinkannya sekolah hari ini.
Namun,selama di sekolah dirinya sama sekali tidak dapat berkonsentrasi.
Seung Ri selalu saja memikirkan tentang keadaan Hee Sung yang kemarin mengusir dirinya dari apartemen.

Seung Ri POV
Mengapa Hee Sung masih menolakku?
Mungkin benar apa kata Hyung,mungkin saja Hee Sung hanya menipu perasaannya sendiri.
Tetapi,bagaiamana cara untuk membuktikan semua kebenaran itu?
Apa aku harus menunjukkan terlebih dahulu perasaanku terhadap dirinya?
------------------------------------------------------------
Hari sudah sangat malam,tetapi Hee Sung belum juga berhenti menyelesaikan pesanan pelanggannya itu.
“Ottoke?” tanya Hee Sung kepada dirinya yang sudah agak panik.
Kepanikan Hee Sung bertambah saat melihat bahan kain yang ia gunakan untuk membuat pesanan baju pelanggannya sudah tidak mencukupi.
Dengan segera Hee Sung mengganti bajunya dan pergi ke toko tempat biasanya ia membeli kain.

Setelah berjalan cukup jauh dari apartemennya,akhirnya ia sampai di sebuah pusat perbelanjaan.
‘Untung saja belum tutup!’ seru Hee Sung dalam hatinya.
Hee Sung segera melangkahkan kakinya ke dalam gedung pertokoan yang terlihat sudah agak sepi itu.
------------------------------------------------------------
Di saat yang sama...
Seung Ri sedang berjalan-jalan sebentar di sekitar rumahnya,tetapi tidak sengaja Seung Ri melewati sebuah gedung pertokoan sepi dan tiba-tiba ia menangkap sosok Hee Sung yang sedang memasuki gedung pertokoan tersebut.
Akan tetapi,Seung Ri yang tidak mengira akan bertemu dengan Hee Sung hanya dapat terpaku di tempatnya.

Seung Ri POV
‘Buat apa Hee Sung pergi ke tempat ini malam-malam begini?’ tanyaku dalam hati.
Tetapi,di sisi lain hatiku aku bertanya-tanya,’mungkinkah ini saatnya aku membuatnya dekat kembali denganku?’
Pertanyaan itu terus saja memenuhi kepalaku sejak tadi siang.

Dengan segenap keberanian yang kukumpulkan akhirnya aku mencoba menuruti keinginanku itu.
Aku mengikuti Hee Sung masuk ke dalam gedung pertokoan itu.
Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dan bersembunyi di pilar-pilar gedung.
Hee Sung nampaknya benar-benar kelelahan akan pekerjaannya.
Wajahnya sudah tidak secerah dulu saat kami pertama kali bertemu,ia terlihat pucat sekarang.

Setelah selesai berbelanja,Hee Sung membawa banyak kain sambil membaca selebaran.
Melihat kain-kain itu,aku menjadi ingin membantunya.
Tetapi aku bertanya kepada diriku,‘apakah ia akan menerima semua bantuanku dengan tulus seperti dulu?’
Sekejap pertanyaan itu muncul,aku baru ingat kalau tujuanku belum tercapai.
Akan tetapi,Hee Sung sudah keburu menekan tombol turun lift.
Aku hanya melihatnya dari kejauhan,dadaku rasanya ingin meledak dan ingin mengatakan semuanya,tetapi mengapa semuanya itu justru sulit sekali untuk diucapkan.

Saat Hee Sung hendak memasuki lift,tiba-tiba aku melihat suatu kejanggalan.
Bilik lift itu belum sampai di atas,tetapi pintu lift sudah terbuka.
Akan tetapi,Hee Sung masih terus berkonsentrasi membaca selebaran di tangannya dan hendak melangkah maju memasuki lift tanpa bilik itu.
“Hee Sung! Hee Sung!” sudah kuteriakkan namanya berkali-kali tetapi ia tidak mendengarnya.

BRAKK....
“TOLONG! TOLONG!” teriaknya dari dalam lorong lift.
Ia terjatuh dan sekarang berada di atas permukaan bilik lift yang tersangkut itu.
Aku segera berlari menghampiri lift yang pintunya masih terbuka itu.
Aku menengok dan melihat keadaannya.
“Hee Sung~a! Aku akan menolongmu! Changkaman!” teriakku.
“Seung Ri~a! Jangan tinggalkan aku lagi!” katanya dan aku tahu dari suaranya bahwa ia mulai menangis.
“De! Aku berjanji,tetapi tunggulah sebentar! Aku akan mencari bantuan!”
Aku melihat ke sekitar tempat itu,tetapi semuanya tidak ada orang.
Aku berlari sedikit untuk mencari bantuan,tetapi terlambat,toko-toko di sini semuanya sudah keburu tutup.
Akhirnya tanpa berpikir lagi aku memegang tali lift itu dan turun ke bawah untuk menolongnya.
Memang aku merasakan rasa perih dan panas yang amat sangat di kedua telapak tanganku itu,tetapi untukku itu bukan masalah demi menolongnya.
-----------------------------------------------------------
Seung Hyun berjalan menyusuri jalan dengan kepala tertunduk.
Ia kembali merenungkan keputusannya itu.
Sejenak Seung Hyun menatap langit di atasnya dan bertanya dalam hati.
‘Min Young~a,mengapa aku tidak dapat melupakanmu?’
Walaupun beratus-ratus kali pertanyaan itu muncul di kepalanya,tetapi kemudian Seung Hyun melanjutkan kembali perjalanan tanpa arah itu.
Sampai akhirnya ia berhenti dan menyadari tempat yang berada di hadapannya sekarang.
Tempat tersebut mungkin hanya sebuah rumah dan tempat yang sekarang dipijaknya itu memang hanya sebuah jalan sempit.
Bagi semua orang mungkin tempat itu hanya sebuah tempat yang tidak penting karena semuanya itu hanya biasa-biasa saja,tetapi bagi Seung Hyun tempat itu adalah kenangannya yang indah.
Namun,walaupun begitu Seung Hyun hanya dapat menyesali semuanya itu sekarang.
---------------------------------------------------------------
Seung Hyun POV
Mengapa aku berhenti di tempat ini?
Sebenarnya apa yang aku pikirkan?
Aku memang rindu sekali dengan tempat ini.
Tempat yang dulu aku gunakan tertawa dan bercanda bersamanya,tempat yang aku gunakan untuk menangis dan menceritakan semua rahasiaku kepada dirinya.
Dan tempat ini juga yang aku gunakan untuk menyatakan perasaanku terhadapnya.
Rasanya ingin sekali memutar waktu untuk terakhir kalinya dan melihat semua itu.
Rasanya aku ingin kembali ke masa-masa itu,masa di mana aku merasa ada yang selalu membuat hidupku ini berarti,masa di mana akau merasa bahwa ada seseorang yang mengisi kehidupanku yang biasa-biasa saja ini.
Tetapi,pemutar waktu itu hanya khayalanku belaka.
Semuanya kenangan itu hanya dapat kusimpan dan kusesali saja.
--------------------------------------------------------------
Min Young POV
Entah mengapa saat kubuka jendelaku tadi aku melihat sosok Seung Hyun di depan rumahku?
Apakah itu semua hanya halusinasiku saja?
Mungkin aku terlalu rindu akan dirinya.
Hari ini aku sudah tidak melihat wajahnya lagi di sekolah,ia kembali membolos seperti kebiasaanya yang lalu itu.
Tetapi,mengapa aku memiliki perasaan bahwa aku tidak akan melihat wajahnya lagi?
--------------------------------------------------------------
Seung Ri akhirnya berhasil mengeluarkan Hee Sung dari lorong lift itu.
Sekarang Hee Sung mengulurkan tangannya.
Lalu Seung Ri dengan menahan rasa sakit di telapak tangannya itu akhirnya menggapai tangan Hee Sung.

Hee Sung POV
Tanpa sadar aku memeluk Seung Ri saat diri berhasil keluar setelah menolongku.
Aku menangis di pelukannya yang hangat itu.
“Hee Sung,gwenchana?” tanyanya.
Aku hanya menjawab pertanyaan itu dengan sebuah gelengan lemah dan air mata.
“Hee Sung~a,sudah...kita sudah selamat,” katanya mencoba menenangkan diriku.
Mendengar hal itu,pikiran dan hatiku menjadi lebih tenang.
“Seung Ri~a,gamsahaeyo...” kataku lirih.
Ia memelukku lebih erat.
“Aku akan melakukan segalanya untukmu karena aku sudah berjanji padamu sebelumnya bahwa aku tidak akan meninggalkanmu dalam kondisi apapun,” katanya.
Aku memang tidak pernah mendengarkan janji seperti itu dari mulutnya,tetapi aku tahu bahwa ia sangat mencintaiku.
‘Saranghaeyo,’ kata itu kembali kuucapkan tetapi hanya di dalam hati.
Melihat apa yang dilakukannya barusan,aku menjadi teringat akan peristiwa mengerikan yang disebabkan oleh diriku dan itu semua yang membuatku hanya dapat mengucapkan kata itu dalam hati.

Seung Ri membantuku berdiri.
Aku menggapai tangan yang ia ulurkan itu,namun saat kutarik kembali tanganku darinya.
Aku melihat bercak darah di telapak tanganku ini,tetapi anehnya tanganku sama sekali tidak merasa sakit.
Kemudian aku melihat ke arah Seung Ri,lalu aku mengarahkan pandanganku ke arah tangannya.
“Omona! Seung Ri!”
Aku mengangkat telapak tangannya itu.
Banyak sekali luka-luka dan darah yang sudah menodainya.
Ia mencoba menarik kembali tangannya yang kuperhatikan itu.
“Gwenchana,Hee Sung~a..”
“Gojimal! Kau ini benar-benar....”
“Sudahlah,ayo kita pulang..lupakan hal itu Hee Sung,luka-luka itu tidak terlalu parah.”
Seung Ri mengambil plastik belanjaan yang ada di sebelahku sambil agak meringis dan dapat kulihat bahwa sebenarnya ia mencoba menyembunyikan rasa sakit itu di depanku.
“Terserah kau mau menyembunyikan rasa sakit itu di depanku atau tidak...tetapi pokoknya kau harus mampir ke apartemenku dulu hari ini,” jelasku.
Akhirnya kami bahu-membahu membawa belanjaan yang banyak itu menuju apartemenku.
------------------------------------------------------------
Jarum jam sudah hampir menunjukkan pukul dua belas malam,namun Seung Hyun masih saja berkutat dengan selembar kertas dan pena yang tertata di hadapannya.
‘Mengapa untuk mengucapkan sebuah kalimat perpisahan itu sangat sulit,’ tanyanya dalam hati.
Seung Hyun mulai menulis kembali.
Ia bingung harus menulis dari mana.
Ia juga sebenarnya tidak rela meninggalkan kenangan-kenangan yang ditulisnya itu.

Seung Hyun POV
Aku merasa hari ini berlalu dengan sangat cepat.
Rasanya baru tadi aku berjalan di depan rumahnya dan meningat segala sesuatu tentang dirinya,tetapi entah mengapa sekarang aku harus segera melupakan dan meninggalkannya.
Tetapi,itulah kenyataannya dan semuanya memang harus terjadi.

Kulipat surat itu dan kumasukan ke dalam sebuah amplop putih yang bertuliskan namanya.
‘Min Young,aku harap kau menerima surat ini dengan bahagia karena aku ingin melihatmu bahagia seperti sebelum kau bertemu denganku dulu,’ aku kembali bergumam sambil menutup amplop itu.

Aku berencana untuk menitipkannya pada Hee Sung,walaupun ia sering bertemu dengan Min Young.
Tetapi,setidaknya hubungan mereka masih baik-baik saja dan aku yakin ia pasti mau membantuku untuk memberikan surat itu kepada Min Young.

Tok....Tok....Tok......
“Hee Sung~a!” aku berteriak memanggil namanya,tetapi sepertinya ia sedang keluar mungkin.
Tetapi,jarang-jarang ia keluar pada saat tengah malam begini.

Ya sudahlah,lebih baik aku membuat notes untuknya dan memasukkan surat ini di bawah lubang pintunya.
-----------------------------------------------------------
“Seung Ri,pali!” Hee Sung menaiki anak tangga di apartemennya dengan lincah.
Sementara Seung Ri yang tertinggal agak jauh di belakang hanya tertawa sambil menahan rasa sakit di kedua telapak tangannya itu.

Kreekk.....
Pintu apartemen Hee Sung terbuka.
‘Omona! Aku baru menyadari bahwa selama ini aku membiarkan apartemenku dalam keadaan kotor seperti ini,’ gumam Hee Sung.
“Hee Sung~a,waeyo? Ayo masuk,” ajak Seung Ri.
“De,mianhae kalau kondisinya tidak seperti yang kau harapkan,” Hee Sung hanya dapat mengatakan kata maaf sambil tersenyum atas keadaan apartemennya itu.
“Gwenchana,oh yah....barang-barang ini harus kuletakkan di mana?” tanya Seung Ri.
“Oh...di sini saja,” Hee Sung menunjukkan meja kerjanya yang berantakan itu.
“Arasseo,” jawab Seung Ri.
“Oke,aku pulang dulu,” pamit Seung Ri.
“Mwo? Changkaman! Kau harus duduk di sana,” perintah Hee Sung sambil mengambil kotak obatnya.
Seung Ri dengan terpaksa akhirnya duduk di sofa ruang tengah.
“Mana tanganmu? Sini,mau aku obati.”
“Hee Sung~a,gwenchana..aku bisa melakukannya sendiri kok.”
“Pali!”
Akhirnya Hee Sung menarik tangan Seung Ri dan membersihkan lukannya itu.
Seung Ri yang awalnya menolak,akhirnya hanya bisa diam dan tersenyum melihat apa yang dilakukan oleh Hee Sung itu.
“Seung Ri~a,sebenarnya apa yang kau lakukan tadi? Jangan-jangan kau mengikuti aku secara diam-diam lagi seperti dulu? Benar kan?” tanya Hee Sung sambil mengobati luka Seung Ri.
Seung Ri hanya tersenyum mendengar pertanyaan Hee Sung barusan.
“Kau mau tahu mengapa aku melakukan semua itu?”
“Memang karena apa?”
“Karena....Noona....”
“Hah?”
Belum sempat Hee Sung melanjutkan kata-katanya,tetapi bibir Seung Ri sudah terlebih dulu menempel pada bibirnya.

Hee Sung POV
“Kau mau tahu mengapa aku melakukan semua itu?”
“Memang karena apa?”
“Karena....Noona....”
“Hah?”
Tiba-tiba bibir Seung Ri menempel pada bibirku.
Aku begitu kaget,tetapi kali ini anehnya aku tidak mau menolak semuanya itu.
Aku justru menerimanya,tetapi saat aku merasakan bibrnya yang hangat itu,aku mulai meneteskan air mataku lagi.
Aku dorong badannya menjauhi diriku.
“Cukup,Seung Ri...aku akan merasa bersalah melakukan hal ini,” teriakku.
“Hee Sung~a,sebenarnya apa yang kau pikirkan? Kau memiliki perasaan yang sama terhadapku juga kan?”
Aku hanya diam mendengar kata-katanya itu.
“Tetapi aku yang salah,aku yang membuatmu celaka waktu itu,” aku membantahnya dan menangis.
“Sudahlah,semua itu adalah kecelakaan dan itu bukan salahmu,” ia memelukku lagi.
“Dan lagipula...kau yang menyelamatkanku sebenarnya,” bisiknya.
“Saat aku hendak menyerah dan memutuskan untuk meninggalkan dunia ini,kau yang memanggilku dan saat itu pula aku berjanji tidak akan meninggalkan dirimu lagi,” jelasnya.
Begitu mendengarkan penjelasannya itu,aku menjadi mengerti akan kata-kata yang diucapkannya di lift dan aku terharu dengan kesetiaannya itu.
“Seung Ri~a,saranghae,” bisikku.
Tanpa kusadari,kata-kata itu keluar dari mulutku,tetapi aku senang.
“Na do saranghae,Hee Sung~a,” balasnya.
Ia berniat menciumku kembali tetapi aku malah menahannya dengan sebuah pertanyaan konyol.
“Aku takut akan Omma mu itu,waktu itu aku berjanji kepadanya bahwa aku tidak akan mendekatimu lagi,tetapi sekarang bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Hee Sung.
“Aku akan menjelaskan semua ini kepada Omma,tetapi kau harus percaya kepadaku bahwa semua ini pasti akan kita lewati,dan satu lagi....kau jangan pernah menjauhi diriku lagi,” katanya.
----------------------------------------------------------

Label: